FINAL COUNTDOWN

Anekdot QUICK COUNT

Siapa sih yang paling tidak menyukai quick count? Berdasarkan hasil survai, jawabnya adalah : wanita. Alasannya, karena hal demikian mengganggu suasana exit pool, serta tidak sesuai real count yang juga didambakan pria. #inidianggaphumorbolehbeneranhumorjugaboleh

Saya masih penasaran dengan quick count, maka kemarin saya cek data KPU yang terkait basis data yang digunakan oleh lembaga-lembaga survai dalam olah quick count dari sampling hasil perhitungan suara di TPS-TPS (basisnya sama saja dengan real count). Yang mengejutkan, ternyata jumlah TPS seluruh Indonesia untuk Pilpres 2014 adalah 478.685 sedangkan lembaga survai umumnya memproses quick count dengan hanya mengolah hasil penghitungan suara dari sample antara 1.000 sampai 3.000 TPS dengan metode pengumpulan dan pengolahan data statistik secara tertentu.

Jadi, anda lebih percaya manakah antara real count (hasil kerja KPU yang mengolah hasil perhitungan suara dari semua TPS) dengan quick count hasil kerja lembaga survai (yang umumnya berafiliasi dengan kandidat tertentu)? #SayaJugaPernahBelajarStatistikLho

Untuk itu, agar tidak menimbulkan kegaduhan politik, saya setuju, lembaga survai diaudit semuanya. Jangan sampai kaidah ilmiah survai direkayasa untuk kepentingan politik, juga jangan sampai politik mencari pembenaran dari cara-cara ilmiah yang dibelokkan demi kepentingan sesaat.

PREDIKSI HASIL PILPRES 2014

Akhirnya saya pun tergoda untuk membuat prediksi hasil Pilpres 2014. Namun bedanya dengan prediktor-prediktor lainnya, saya hanya menyebut perbandingan prosentase hasil secara nasional, tanpa menyebut nama kandidat (Prabowo-Hatta Rajasa atau Jokowi-Jusuf Kalla) yang akan menang atau yang akan kalah.

Yang MENANG (siapapun) dapat 55.5%, sedangkan

Yang KALAH (siapapun) dapat 44.5% dari suara pemilih yang sah.

#NamanyaSajaPrediksiNggakAdaSalahNggakAdaBenarYangAdaSeberapaDekatDenganRealitasNantinya

Bagaimanakah prediksi anda? Mari kita buktikan!

HARAPAN UNTUK PILPRES 2014

Sahabatku, masa kampanye Pemilihan Presiden 2014 (Prabowo Subianto-Hatta Rajasa Versus Joko Widodo-Jusuf Kalla) sudah lewat. Anda sudah mendengar omongan-omongan full janji, full pencitraan, full sandiwara, aji mumpung, adu jargon, adu mulut, sok hebat, sok bersih, sok gampangke, dam lain sebagainya. Sepertinya #pemimpinjualankecap dan #rakyatdiajakbermimpi
Sudahlah lupakan masa hingar bingar itu ….

Lalu, kita diajak bermain data dan diberondongkan lewat aneka media, persepsinya berputar-putar penuh rekayasa, banyak idiom yang digunakan, ada survai, ada polling, ada quick count, ada exit pool, ada apalagi? Menurut saya sulit bagi kita memegang kepastian manakah yang bisa dipercaya dan paling mendekati realita, karena semuanya basis kepentingan, dan bungkusnya sok ilmiah: analisis data.
Sudahlah lupakan masa hingar bingar itu ….

Saudaraku sebangsa dan setanah air, saatnya hari pencoblosan sudah dekat. Saya ingin menyatakan kepada anda semua (sebagai sebuah harapan) begini,
JANGANLAH ANDA MEMILIH NOMER 1 KARENA BENCI NOMER 2.
JANGANLAH ANDA MEMILIH NOMER 2 KARENA BENCI NOMER 1.
Seyogyanya, janganlah memilih apapun dengan diiringi rasa kebencian. Pilihlah apapun yang anda inginkan dengan penuh rasa kecintaan. Itulah yang akan mengantarkan ketenangan jiwa, dan membuat cuaca politik di negeri kita menjadi sejuk.

Ungkapan harapan saya ini, ingin saya perjelas, dan semoga anda semua mengamini.

1. Semoga Pilpres 2014 berjalan lancar, aman dan tenteram.

2. Siapapun yang menjadi pemenang wajib kita dukung untuk menuju Indonesia yang lebih baik.

3. Semoga koalisi yang dibentuk masing-masing kubu tetap solid, total dan bersifat nasional dalam jangka waktu 5 tahun termasuk di lingkup parlemen, dari mulai pilpres, penetapan capres/cawapres terpilih, hingga periode pemerintahan berakhir hingga tahun 2019.

4. Indahnya demokrasi akan bisa terwujud, dimana koalisi pemenang memegang pemerintahan, dan koalisi yang kalah menjadi oposisi konstruktif. Pasti dengan bangunan konsep semacam ini dan pengkutuban secara pluralitas rakyatlah yang diuntungkan.

5. Semoga pada tahun 2019 pilpres saya harapkan hanya diikuti 2 pasang kandidat saja dari kelompok-kelompok koalisi tersebut, biar asyik, hemat dan gampang untuk melihat track record sukses atau gagalnya penguasa pemerintah, sehingga rakyat menyatakan yes or no untuk kelanjutannya terpapar secara jelas, tidak ada abu-abu lagi, artinya mengganti haluan koalisi yang berkuasa atau tidak.

Saatnya anda memilih!
Untuk referensi anda bisa cek polling Pilpres 2014 yang ada di https://mardoto.com/2014/06/15/6003/ Apabila rekan-rekan/para sahabat mempunyai sumber referensi polling (bukan survai yaaa) online lainnya, tolong dituliskan di bagian comment untuk perbandingan dengan hasil nyata pilpres nantinya, polling siapakah yang paling dekat dengan hasil riel. Selamat memilih.

Yogyakarta, 7 Juli 2014
Salam,
Drs. Mardoto, M.T.