Bagaimanapun umur alutsista ada batasnya

Alat utama sistem senjata (alutsista) TNI terutama TNI AU sudah banyak yang out of date, obsolote, dan perlu peremajaan. Beberapa accident menunjukkan itulah resiko jika menggunakan alutsista yang sudah uzur. Pada sisi lain Pemerintah berkeinginan untuk memperbaharui alutsista TNI dengan beli dari luar ataupun usaha/rekayasa dari kemampuan nasional, tetapi anggaran terbatas. Haruskah kita putus asa? Mestinya tidak.

Alutsista apapun situasi dan kondisinya tidak bisa diabaikan. Pertahanan negara memang tidak tergantung pada alutsista semata, tetapi alutsista sebagai bagian penting yang diukur oleh “musuh” jika berhadapan dengan kita. Jadi memang harus tetap ada usaha dari stakeholder untuk memperbaharui alutsista meski anggaran negara cekak. Apakah harus mengorbankan anggaran sektor lain? Ya tidak mesti begitu. Bisa dengan menggenjot ekspor, meningkatkan pendapatan negara (devisa juga) dan yang lebih utama lagi dengan “memenggal” koruptor (dan calon koruptor) dengan penegakan hukum yang konsisten, tanpa pandang bulu.

Pembatalan hari libur bersama

Pemerintah beberapa waktu lalu telah membatalkan beberapa hari libur bersama dengan dalih yang nggak jelas. Apakah karena dikritik DPR atau karena alasan substansial produktivitas pegawai. Bagi saya apapun alasannya hal ini menunjukkan buruknya perencanaan pemerintah. Aturan baru dibuat, belum 6 bulan diubah lagi, tidak adakah pemikiran mendalam semua sisi sebelum diambil keputusan resmi. Bagaimana sih mekanismenya?

Usia Pejabat

Dalam menyusun suatu Undang Undang kadang kita dapat berfikir normal dan menyadari sepenuhnya untuk apa undang Undang itu disusun, tetapi tidak jarang penyusun Undang Undang tidak memperhatikan makna what for yang mestinya jadi acuan itu. Sehingga substansi penyusunan seringkali dikalahkan nafsu dan kepentingan politik dan ekonomi secara individu maupun kelompoknya.

Selain itu dalam menyusun suatu Undang Undang mestinya memperhatikan suasana kebatinan yang berkembang saat itu di lingkungan dimana Undang Undang tersebut nantinya akan diimplementasikan. Dalam pada itu suasana yang terbentuk dan terjadi saat itu juga tidak terlepas dari keadaan masa lalu.

Nah, pemikiran tersebut di atas, kini dapat kita lihat kenyataan pada situasi dan kondisi sekarang yang lagi gencar-gencarnya diwarnai proses penyusunan Undang Undang tentang Pemilu dan Pilpres. Wacana yang berkembang salah satu butirnya adalah masalah batasan usia calon peserta pemilu maupun pilkada (sudah masuk rezim pemilu juga ya). Ide pembatasan usia calon peserta pemilu/pilkada saya pikir sangat logis masuk Undang Undang. Misalnya, calon presiden maksimum berumur 60 tahun, calon gubernur maksimum 55 tahun, calon bupati/walikota maksimum 50 tahun. Hal ini punya beberapa argumentasi yang kuat.

Empat argumentasi yang dapat dimunculkan:

1. Proses regenerasi kepemimpinan yang sedang berlangsung di Indonesia saat ini memerlukan akselerasi, karena hampir 25 tahun kepemimpinan Indonesia mengalami stagnasi, sehingga tidak melahirkan pemimpin-pemimpin yang potensial secara berkesinambungan.

2. Reformasi yang sedang bergulir sejak tahun 1998 harus tetap terjaga pada track yang diharapkan. Hal ini akan terwujud jika ada proses regenerasi kepemipinan secara berjenjang, dari level bawah ke atas, tidak tiba-tiba muncul pemimpin dari awang-awang.

3. Batasan usia calon pemimpin Indonesia saat ini penting juga sebagai upaya pendistribusian power dan mesin politik di lingkungan birokrasi yang sudah terlanjur berurat akar pada beberapa kekuatan politik yang itu-itu saja. Artinya, diharapkan terjadi power sharing distribution. 

4. Yang terakhir tentu membantu menyemaikan dan melahirkan generasi muda potensial yang memiliki karakter kepemimpinan yang kuat yang punya mental kepribadian teruji, tidak kenal menyerah, kreatif dan produktif, bahkan progresif, tidak terkontaminasi virus KKN, yang diharapkan membawa Indonesia ke arah situasi kondisi yang lebih baik, adil dan makmur.        

Orang matematika harus tahu luar matematika

Kadang-kadang orang matematika terbelenggu dengan ilmunya sendiri. Sibuk dan asyik ngutak-ngatik rumus yang membuat lupa untuk apa sebenarnya ilmu yang diutak-atik itu. Hal itu baik-baik saja kalau pemahamannya matematika untuk matematika saja. Sehingga keseriusan itu hanya melahirkan ilmuwan matematika turun temurun. Namun tentunya disadari bahwa matematika khan brepredikat sebagai ratu sekaligus pelayan, jadi sebenarnya banyak area dan ladang terapan matematika di luar matematika.

Lalu apa yang harus dilakukan? Kuncinya pada ilmuwan matematika, mau atau tidak “mengenal wilayah ilmu lain” dan “melihat segala kemungkinan terapan ilmu matematika di ladang lain”. Oleh sebab itu untuk matematikawan sejati lihatlah bidang ilmu lain, lihat apa yang dibutuhkan dari matematika, dan apa yang dapat diberikan oleh matematika. Mari buka wawasan keluar seluas-luasnya.

Ratu sekaligus pelayan

Matematika itu penting dalam kehidupan. Sebagai ilmu dia seperti ratu, karena memiliki keindahan filsafat dan rumus-rumus yang sangat komplit serta menjamah semua tingkatan dari yang teknis (terapan) hingga yang nggak riel. Sebagai pelayan dinantikan oleh berbagai iptek untuk mendukung pengembangan serta penerapan ilmu dan teknologi, dari ilmu sosial sampai ilmu teknik. Begitulah profil matematika. Tapi mengapa orang (mahasiswa) matematika kok sepertinya low profile dengan ilmunya? Marilah mahasiswa/alumni matematika percaya diri. Ilmu yang begitu tinggi derajatnya yang anda rengkuh adalah modal kuat untuk berkomunikasi dengan ilmu teknologi lain, bicara dengan komunitas lain, tawarkan aneka analisis yang digdaya.