CATATAN HARIAN #000.027 : WNI NOMOR 1

TAKUT GAGAL?

Orang yang takut mengalami kegagalan, dan hanya memeluk rasa takutnya saja tanpa ada usaha nyata, dapat diduga 99% orang tersebut akan benar-benar mengalami kegagalan.

Kompleksitas suatu masalah seringkali tidak muncul dari substansi masalah itu sendiri, lebih sering dikarenakan sikap perilaku orang yang mendapatkan masalah tersebut.

Pertemuan bukanlah obat perpisahan.

Kalau ingin merebut KEMENANGAN setiap hari mulailah dengan budaya BANGUN PAGI.

JANGAN BERHENTI BERHARAP, kalau memang harapanmu belum kesampaian. Pantang menyerah!

Meratapi suatu masalah bukan merupakan jalan keluar.

Homines sumus, non dei. Kita ini manusia tidak sempurna, bukan malaikat atau Tuhan.

Kalau segala sesuatunya bisa direncanakan, hal itu akan lebih baik.

Merajut kain sutra tak ‘kan sama dengan merajut kawat berduri.

Tahukah anda cara jitu jadi orang populer dalam waktu singkat? 1) Lawan semua norma orang normal. Kalau aturannya pakai sepatu maka pakailah sandal jepit dan make news untuk masalah ini dengan gerakan bombastis mendatangi dan minta dukungan lembaga-lembaga yang juga mendukung ketidaknormalan. 2) Jadilah tokoh suatu organisasi yang terkenal hebat pencitraannya. Lalu korupsilah sebanyak mungkin setelah jadi tokoh senior di organisasi tersebut.

Pagi itu ……. banyak rejeki.

Jangan memuja-muji sesuatu yang suatu saat bisa MATI. Jangan pula memuja-muji sesuatu yang saat ini sudah MATI. Terlebih-lebih, janganlah memuja-muji sesuatu yang tergolong benda MATI.

Sesungguhnya tak ada pagi yang tak menjanjikan. Semua terserah pada diri kita sendiri. Mau meraup sinar cerah matahari, atau terpuruk di lorong gelap.

Gothak gathuk mathuk. Ilmu coba-coba. Trial and error, dan sering errornya. Apa mesti begitu ngurus orang banyak. Mestinya, segala sesuatu itu serahkan pada ahlinya.

Ulo marani gephuk. Wis tuwo ojo kemaruk.

Jalan berliku ……. Jangan mem-BENAR-kan yang biasa, tapi BIASA-kan yang benar.

Alhamdulillah “merebut” fajar menyingsing. Semangat berdoa, berusaha, dengan segera bertebaran di muka bumi.

Standar, Realita dan Persepsi berbeda nyata. Semakin berbeda kala menggunakan referensi yang tak sama.

Kata-kata bijakmu …. membacanya dan mendengarnya saja sudah membikin hatiku tenang, tenteram dan maknyess, apalagi kalau direalisasikan, pasti serasa dunia ini isinya surga semua.

Setiap pekerja profesional apapun selalu diikat dan didasari dengan kode etik profesinya dalam melakukan pekerjaannya. Jadi, kalau anda bekeja dan melakukannya secara tidak etis, maka anda tidak tergolong kaum profesional.

Patut diduga devisa kita cepet berkurang (banyak) karena konspirasi impor yang tak terkontrol.

Yang dibutuhkan itu orang yang punya KOMITMEN, eh yang muncul kok orang yang kerjanya cuma KOMAT-KAMIT dan minta “bayaran” mahal pula. Ampyun deh.

The best way to become acquainted with a subject is to write a book about it.

Masih adakah sebutir kebaikan anda yang bisa diberikan ke orang lain hari ini?

Yogyakarta, 2 Maret 2013
Salam,
Mardoto, Drs., M.T.

***** Semua tulisan ini telah dipajang di akun facebook saya. Penasaran, dan ingin tahu lebih banyak tulisan saya? Yuuk connect. Klik saja disini

 

 

 

 

NASIONALISME ALA MOBIL ESEMKA : WNI NOMOR 1 PASTI MENDUKUNG

Dulu di Indonesia sudah ada “projek” Mobil Nasional (Mobnas) tapi “projek” abal-abal. Judulnya saja Mobnas tapi ternyata hanya mereknya yang meng-Indonesia, barangnya ngambil langsung dari salah satu negara Asia dibawa ke Indonesia terus ditempel merek Indonesia. Keterlaluan akal-akalannya, dan tipu-tipunya. Makanya ribut, dan akhirnya tidak berkembang, terus mati itu projek.

Apalagi sejatinya saat itu sudah ada proses/usaha produksi mobil dari produsen lain (lain negara pula) yang mestinya lebih tepat diberi label Mobnas Indonesia, karena kandungan lokalnya sudah cukup tinggi, ada yang memperkirakan sudah mencapai 50%. Tetapi mungkin kalah bersaing dalam “pendekatan” ke otoritas negara ini, lenyaplah mobil-mobil tersebut untuk ditempeli label Mobnas. Akhirnya yang Mobnas bukan yang direncanakan/digadang-gadang.

Ayo (Mobil Esemka) Indonesia Bisa!

Sekarang muncul Mobnas buatan siswa SMK yakni Esemka, yang ternyata tidak hanya memiliki 1 model saja seperti yang dipakai Walikota Solo Joko Widodo saat ini. Mobil itu sebenarnya memiliki berbagai model dan tipe. Model-model berbeda dan namanya pun berbeda-beda. Tergantung sekolah mana yang merakitnya. Menurut informasi jika mobil ini nantinya diproduksi massal, suku cadangnya bisa tersedia di berbagai SMK. Jadi istilahnya SMK bisa berubah menjadi seperti tempat pemasaran mobil-mobil itu. Saat ini PT Autocar Industri Komponen (AIK) dan beberapa perusahaan seperti PT Solo Manufaktur Kreasi membantu SMK mewujudkan mobil Esemka itu.

Mobil itu sekarang belum bisa diproduksi massal karena masih menunggu izin laik jalan dari instansi terkait. Tetapi sebelum diproduksi massal kita bisa melihat dulu model-model Esemka yang sudah dibuat para siswa SMK.

Yang pertama adalah SUV yang juga dikenal dengan Esemka Rajawali. Modelnya kini sudah mengalami perubahan. Saat ini rupanya lebih mirip Honda CR-V dengan bodi belakang Isuzu Panther namun dengan ukuran lebih panjang. Harganya jika dipasarkan massal nanti akan diusahakan tidak melebihi Rp 180 juta.

Sementara model kedua adalah pikap double kabin yang dibuat oleh SMK 1 Singosari Esemka Digdaya yang dinamai Digdaya. Rencananya jika dipasarkan mobil ini akan dibanderol seharga Rp 100 juta. Dari sisi bentuk, Digdaya memiliki bentuk yang lebih orisinil karena sedikit menggunakan parts dari mobil lain.

Pilihan-pilihan mesin untuk Rajawali dan Digdaya tersebut antara lain mesin bensin berkapasitas 1.500 cc, 1.800 cc, 2.000 cc dan 2.200 cc. Versi dieselnya pun kabarnya tengah disiapkan.

Setelah mengenal 2 jenis mobil Esemka sebelumnya yakni Digdaya dan SUV. Kita beralih ke mobil Esemka lainnya yakni Zhangaro. Si mobil niaga ini diproduksi oleh SMK Negeri 10 Malang. Berbekal mesin yang sama pikap ini sekilas memang dengan Suzuki Futura atau Suzuki Carry, apalagi bila menilik pada desain dashboardnya, terutama pada lingkar kemudianya. Namun, untuk engine, tetap berlogo Esemka 1.5 i EFI, meskipun untuk sasisnya mencangkok dari Mitsubishi Colt T 120 SS, tahun 2003. Begitupun untuk gearbox yang dimabil dari merek yang sama, yakni Mitsubishi colt T 120 SS. Sedangkan transmisi 5 speed dari Suzuki Vitara, diklaim mumpuni untuk mengajak Zhangaro bergerak mengangkat beban. Daihatsu Gran Max ikut andil dengan menyumbangkan headlamp, sementara Daihatsu Taft GT, mengisi penerangan buritan, atau stop lamp. Berbahan plat setebal 1,5 mm, bak seluas 1 meter kubik cukup besar untuk memenuhi kebutuhan angkut mengangkut, dengan panjang 225 cm, lebar 145 cm, dan tinggi 33 cm.

Kemudian ada juga mobil van yang dibuat oleh SMK Negeri 6 Malang. Van ini dinamai Rosa Van 1.5i. Disokong oleh sasis dari Toyota Hiace, mobil ini mampu menampung 8 orang dewasa, selayaknya mobil van dengan 8 seaternya. Ruang kabin pun terasa lega, meskipun balutan kemewahan belum dijadikan acuan dalam mendesain ruang kabin. Mobil sebesar ini juga disematkan dengan kapasitas mesin yang sama, yakni 1.500 cc Multi EFI. Nah untuk mengimbangi berat bodi yang besar, SMK menggunakan gearbox Toyota Hiace bensin, karena rasio giginya lebih kecil, jadi ringan. Begitupun dengan transmisinya yang mencangkok kepunyaan Suzuki Vitara.

Dan model terakhir adalah model mobil hatchback. Masih menggunakan mesin esemka 1.5i multi injection. Hatchback ini menginatkan kita dengan Terios. Ya memang lampu depannya menggunakan lampu sama dengan Terios. Suzuki Escudo berperan dalam transmisinya, poros propeller, rem belakang dan handle pintu. Sedankan suspensi menggunakan milik Mitsubishi L300 dan Isuzu Panther. Spionnya dicomot dari Spion APV. Namun SMK membuat sendiri poros input, kaca dan wearing kabelnya.

Meski masih menggunakan parts dari mobil lain, bukan berarti Esemka tidak bisa berkembang. Buktinya Walikota Surakarta Joko Widodo pun menggunakannya sebagai mobil dinas. Apalagi pabrikan mobil besar di dunia juga pada masa-masa awal mereka berdiri juga belajar pada pabrikan lain terlebih dulu. Sebut saja pabrikan terbesar di dunia saat ini Toyota, dan pabrikan dari Korea Hyundai yang belajar ke pabrikan AS dan Eropa.

Setelah dipamerkan di beberapa tempat sejak 2009, Esemka pun semakin harum namanya di awal tahun ini. Apalagi Esemka sudah memiliki banyak model yang cocok untuk pasar Indonesia mulai dari MPV/SUV untuk keluarga, pikap untuk niaga, double kabin untuk pertambangan, dan hatchback untuk pecinta mobil kecil. Jadi apalagi yang kurang? Tinggal kemauan dari pejabat-pejabat terkait saja sepertinya.

Saya yakin banyak WNI yang punya nasionalisme tinggi yang mendukung, tidak hanya pejabat, politisi, dan akademisi, rakyat umum juga. WNI Nomor 1 pasti mendukung total. Ini karya kebanggaan anak bangsa yang harus didukung penuh. Kalau sekarang masih banyak kandungan produksi negara/merek lain itu wajar dimana-mana di dunia juga begitu awalannya. Yang penting ada good will dan dukungan nasional saya yakin ini akan meluas, karena kita nantinya bahkan bisa mandiri dalam memproduksi kendaraan bermotor. Bila perlu tidak hanya mobil, motor nasional pun harus kita gulirkan. Terbayang saja hitungan ekonomi, kalau setiap tahun ada 7 juta motor yang dikonsumsi orang Indonesia, katakanlah 50% saja bisa diproduksi oleh projek motor nasional, dengan merek Indonesia, kandungan lokal sampai 90% Indonesia, wuih berapa nilai ekonomi dari sektor produksi motor nasional ini. Efek berantai pada tenaga kerja, dan pergerakan bisnis otomotif tentu makin membaik, dengan pencapaian kemandirian berbasis kemampuan produksi yang efisien dalam persaingan pasar bebas.

Jadi, mau berfikir apalagi? Kalau masih ada pejabat yang anti Mobil Esemka dengan alasan kelaikan, standarisasi, lisensi, legalisasi dan sejenisnya itu jelas alasan yang dicari-cari dan katakan saja A-NASIONALISME. Karena tidak mungkinlah para pengkreasi dan pemroduksi Mobil Esemka ini main-main dengan hasil produksinya secara asal-asalan terus diluncurkan di jalanan tanpa mematuhi standar regulasi yang ada, entah kelaikan ataupun administrasi regristasi, dengan standar yang baku. Kalau proses produksi dan pemasaran cara begitu dijalankan pasti jadi bumerang dan akan mati lebih awal.

Lebih baiknya, pejabat berwenang yang punya otoritas kuat di bidang keuangan, regulasi transportasi, industri dan standar-standarnya segera turun mendukung semaksimum mungkin. Sedangkan untuk pejabat pusat atau pun daerah yang punya otoritas menggunakan mobil dinas dan menentukan pula dalam proses pembelian mobil dinas mestinya langsung saja batalkan pembelian/pengadaan mobil merek asing/lainnya, alihkan pembelian/pengadaan ke Mobil Esemka ini. Ini pasti diamini rakyat. Siapa lagi yang mau mendukung, kalau tidak kita sendiri sebagai WNI. Kisah mobnas Malaysia (Proton) juga begitu kok awalannya.

Ayo dukung 100% berkembangnya Mobil Esemka menjadi Mobnas, demi kebangkitan ekonomi (kemandirian) nasional kita, juga memupuk jiwa nasionalisme. Dan, jika mobil ini sudah diproduksi masal percayalah WNI NOmor 1 juga akan menggunakannya (doakan ada rejeki yang mengalir terus dan terus, seperti Bengawan Solo yang telah mengalir sampai jauh ….). Salam.

MERAPI UPDATE 11 NOVEMBER 2010 S.D JAM 06.00 WIB : LAPORAN RESMI KETUA PVMBG Dr.SURONO

Laporan aktivitas G. Merapi tanggal 11 November 2010 pukul 00.00 sampai dengan pukul 06.00 WIB.

1. HASIL PEMANTAUAN

a. Kegempaan

b. Visual. Laporan pengamatan visual. Suara gemuruh terdengar dengan intensitas lemah dan hujan abu ringan teramati dari pos Ketep pada pukul 02:10 WIB. Hujan abu dengan intensitas sedang kembali terjadi di Ketep pukul 06:15 WIB. Asap teramati dengan tinggi 700 m dari puncak G. Merapi condong ke arah Barat Laut pada pukul 03:00 WIB. Asap berwarna hitam kecoklatan dengan tekanan kuat setinggi 800 m teramati pada pukul 05:00 WIB. Dari CCTV yang dipasang di Deles, teramati awan panas dengan jarak luncur 3 km ke arah K. Gendol pada pukul 05:20 WIB. Asap awan panas ini juga dapat teramati dari Ketep dengan ketinggian 800 m dan dari Deles dengan keinggian 1 km.

2. Awas Lahar. Secara umum, endapan lahar telah teramati di semua sungai yang berhulu di puncak G.Merapi dari arah Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Barat Laut meliputi, K. Woro, K.Kuning, K. Boyong, K. Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising,dan K. Apu. Lahar di K. Boyong telah terendapkan di Dusun Kandangan Desa Purwobinangun,Kab, Sleman berjarak 16 km dari puncak G. Merapi. Lahar juga dijumpai di alur K. Batang yang berjarak 10 km dari puncak G. Merapi.

3. Kesimpulan. Berdasarkan hasil pemantauan instrumental dan visual pada 11 November 2010 dari pukul 00:00 WIB sampai dengan pukul 06:00 WIB menunjukkan aktivitas G. Merapi masih tinggi. Dengan kondisi tersebut, maka status aktivitas Gunung Merapi masih tetap pada tingkat Awas (level 4). Ancaman bahaya G Merapi dapat berupa awan panas dan lahar.

4. Rekomendasi

a. Agar dilakukan penyelidikan abu gunung api yang dapat berpotensi mengganggu jalur penerbangan dari dan ke Lapangan Udara Internasional Adisucipto di Yogyakarta.

b. Tidak ada aktivitas penduduk di daerah rawan bencana III, khususnya yang bermukim di sekitar alur sungai (ancaman bahaya awan panas dan lahar) yang berhulu di G. Merapi sektor Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Barat Laut dalam jarak 20 km dari puncak G. Merapi meliputi, K. Woro, K. Gendol, K. Kuning, K. Boyong, K. Bedog, K.Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising, dan K. Apu.

c. Segera memindahkan para pengungsi ke tempat yang aman di luar radius 20 km dari puncak G. Merapi.

d. Masyarakat di sekitar G. Merapi agar senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Kabupaten setempat dalam upaya penyelamatan diri dari ancaman bahaya erupsi G.Merapi.

e. Untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya kawasan landaan awan panas, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi senantiasa berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat.

f. Masyarakat diminta tidak panik dan terpengaruh dengan isu yang beredar mengatasnamakan instansi tertentu mengenai aktivitas G. Merapi dan tetap mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat yang selalu berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Sumber : ESDM