Mengapa satelit tidak menemukan pesawat Air France yang hilang?

Mengapa satelit tidak menemukan pesawat Air France yang hilang? Padahal kalau mobil dipasangi GPS saja sekarang dapat dengan mudah ditemukan posisinya di titik manapun di belahan dunia ini mobil itu berada. Lho, untuk kasus pesawat ini kok malah satelit nggak bisa memonitor? Coba anda baca ulasan terbaru soal hal ini di CNN. Menarik juga ya …..

Wawasan ini perlulah, supaya kita makin faham penggunaan teknologi untuk hal-hal semacam ini, bagaimana sebaiknya.

Ngotot boleh? Dasarnya apa hayo …

Ada sebuah ungkapan, Kun rajulan wa rijlahu fil ardli wa himmatuhu’ alatstsuroya. Artinya, jadilah engkau orang yang cita-citanya melangit tetapi kakinya berpijak di bumi. Atas dasar ungkapan tersebut, boleh saja seorang pemuda memiliki semangat yang tinggi untuk mengejar cinta seorang wanita dengan mengatakan sebelum janur kuning melengkung di depan rumahnya, aku akan tetap mengejarnya. Selama yang dikejarnya baik itu seorang wanita ataupun yang lainnya membuatnya menuju ke arah yang lebih baik, semangat semacam itu tidak masalah. Tetapi perlu diketahui bahwa hidup ini bila diibaratkan bumi tidak selamanya mendatar dan indah penuh bunga di sepanjang jalan. Atau bila diibaratkan jalan, hidup ini tidak selamanya lurus. Hidup ini kadang mendaki namun juga kadang menurun dan kadang berbelok-belok. Selalu ada pergantian antara susah dan senang.

Sebagaimana sebuah syair dalam kitab Jauharatul Maknun, ma kullu ma yatamannal mar’ u yudrikuhu tajri riyahurriyahu bima la tasytahidl dlufunu. Artinya, tidak semua yang dicita-citakan manusia akan tercapai. Sebab, kadang-kadang angin bertiup ke arah yang tidak dikehendaki sang nahkoda.

Sekarang ini banyak orang yang ngotot atau memaksa diri ingin mendapatkan sesuatu. Misalnya, kasus pemilu legislatif yang baru saja usai, tapi banyak orang yang belum selesai dalam bersengketa, bahkan ada yang masuk rumah sakit jiwa segala. Yang lebih ironis lagi ada yang sampai bunuh diri. Menurut ajaran agama Islam, untuk mencari sesuatu yang bersifat ukhrawi tidak boleh ngotot. Seperti memaksa mengkhatamkan Alquran untuk selesai dalam waktu satu hari, hukumnya makruh, puasa tidak boleh jika tanpa berbuka dalam sehari. Atau misalnya i’tikaf dari subuh sampai maghrib kemudian membuatnya meninggalkan kewajiban-kewajiban lainnya, malah i’tikafnya menjadi dosa.

Jika amaliyah yang bersifat ukhrawi saja yang sejatinya lebih bernilai abadi kita tidak boleh ngotot, apalagi untuk sebuah urusan dunia. Maka kita dianjurkan untuk legowo menerima segala kenyataan hidup yang kita hadapi, karena di balik setiap sesuatu pasti ada hikmanya, likulli syaiin hikmatan. Hujjatul Islam Imamuna Al-ghazali pernah menjelaskan mengenai perjalanan doa ke langit. Kata Al-Ghazali, doa itu kalau sampai ke langit ditanyakan oleh Allah SWT kepada malaikat pembawa doa.

“Itu doa siapa?,” tanya Allah kepada malaikat. “Doa dari si Fulan Bin Fulan,” jawab sang malaikat kepada Allah, meskipun sang malaikat tahu bahwa sesungguhnya Allah juga sudah tahu. Lalu Allah bertanya,” Dia minta apa?.” “Dia minta ini dan ini. Yang satu minta kenaikan pangkat, yang satunya minta kaya dan yang lainnya minta agar dapat kawin lagi,” jawab sang malaikat. “Apa pekerjaan si Fulan?,” tanya Allah. “Tukang maksiat,” jawab malaikat. “Kabulkan hajatnya,” kata Allah. Bagi malaikat dan kita, tentunya aneh keputusan itu. Orang yang ahli maksiat segala permintaanya dipenuhi, tetapi giliran orang yang rajin salat tahajjud, puasa, sodaqoh ketika memohon suatu permintaan Allah mengatakan,” ahbis hajatahu, tangguhkan hajatnya.

Perihal keputusan ini semakin heboh dan semakin membuat penasaran para malaikat di sana. Kenapa orang yang ahli maksiat doanya dikabulkan dan yang ahli ibadah malah ditangguhkan. Lalu Allah memberikan alasan dan penjelasan. Kata Allah,” Ahabbu inna isman du’aahu. Aku senang mendengar doanya. Jika belum Aku kabulkan doanya di hari Senin maka dia berdoa juga di hari Selasa. Dan jika Aku kabulkan di hari Rabunya barang kali besoknya dia tidak lagi berdoa pada-Ku.” Demikianlah sifat ke-mahabijaksana-an Allah. Oleh sebab itu, kita harus bisa bersikap sabar dengan segala keputusan-Nya dan tidak perlu ngotot dalam mengambil sikap terhadap suatu apapun. Walluhu a’lam. Referensi
Nah, kalau ada yang ngotot sewaktu demo bagaimana? Makanya pikir-pikir yang benerlah …. kalau semua ngotot bagaimana jadinya negara dan bangsa ini. Apalagi pakai merusak segala, jangan ah …

Peraturan Pemerintah tentang Dosen sudah terbit, bagaimana isinya ya?

Menyusul keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) Tentang Guru, Pemerintah RI telah mengesahkan PP Tentang Dosen. Muatan utamanya adalah memberi kepastian hukum terhadap upaya-upaya peningkatan kesejahteraan para pengajar di perguruan tinggi. Produk hukum baru ini merupakan kado untuk Hardiknas 2009. Demikian disampaikan Presiden SBY dalam puncak peringatan nasional Hardiknas di Bandung, Jawa Barat, Selasa, 26 Mei 2009. “Saya ingin memberikan kado. Kalau waktu lalu ada PP tentang guru, Alhamdulillah telah saya tandatangani PP tentang Dosen,” kata dia. Baik PP tentang guru maupun dosen mengatur tentang kewajiban dan hak tenaga pengajar. PP itu terutama menegaskan berbagai tunjangan yang bisa dan jadi hak guru dan dosen.

Pada kesempatan tersebut, sempat ada lelucon yang ironi untuk menggambarkan nasib para tenaga pengajar:

a. Bahwa guru dan dosen tidak ubahnya pohon yang tinggi tapi buahnya jarang.

b. Ada juga yang mengatakan pendapatanDosen itu banyak sekali, tetapi yang dimaksud banyak ialah banyak kurangnya.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, Presiden mengingatkan, harus diperhatikan dua macam pendekatan, yaitu pendekatan visioner dan strategis serta operasional dan pragmatis. “Semuanya penting untuk dijalankan. Upaya itu agar benar-benar pendidikan di Indonesia dapat terus ditingkatkan kualitasnya,” ujarnya. Presiden juga mengingatkan, untuk menjadi bangsa mandiri dan berdayasaing di abad 21, peran pendidik sangat penting dalam membentuk sumber daya manusia berkualitas. “Untuk mencapai Indonesia seperti itu kita semua tahu bahwa pendidikan merupakan pilar utamanya, tiada lain adalah untuk membangun watak dan karakter bangsa,” kata Presiden.

Tetapi, sesungguhnya inti apa yang berubah (menjadi lebih baik) pada PP tentang Dosen itu ya? Anda sudah baca isinya?

PP tentang dosen tersebut selain mengatur tentang tunjangan profesi, tunjangan khusus, serta tunjangan kehormatan, juga mengatur kompetensi serta kemampuan yang harus dimiliki oleh para dosen. Tunjangan profesi dapat diterima tidak hanya oleh dosen PNS yang diangkat oleh pemerintah, tetapi juga dosen swasta dengan pengalaman dan kompetensi tertentu.

Menurut Mendiknas beberapa waktu lalu, terkait tunjangan profesi guru dan dosen diberikan kepada guru maupun dosen tetap PNS maupun non-PNS yang besarnya adalah 100 persen gaji pokok PNS.  Untuk guru atau dosen non-PNS besarnya adalah sebesar angka ekuivalensinya atau angka kesetaraannya sesuai dengan tingkat pendidikan dan masa kerja yang bersangkutan.

Untuk para Guru dan Dosen semoga semakin tersenyum dan profesional mendengar berita ini, karena kemarin sempat simpang siur ya, ketar ketir, turun apa nggak itu tunjangan … Kalau mau dedikasi yang eternal sebagai guru ataupun dosen ya lebih baik meniru Bu Mus di Laskar pelangi itu lho …. alamiah, nggak tergantung gaji/honor ….

Internet di daerah terpencil memang penting ….

Global Partnership on Output-Based Aid (GPOBA) melalui Bank Dunia memberikan hibah sebesar 1,9 juta dolar AS untuk pembangunan akses internet bagi masyarakat di daerah terpencil Jawa dan Sumatera. Bantuan hibah ditandatangani April 2009 lalu antara GPOBA dengan Pemerintah Indonesia yang diwakili Depkominfo. Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo Gatot S Dewa Broto dalam keterangan tertulis di Jakarta kemarin mengatakan, proyek pembangunan dan penyediaan akses internet ini merupakan pilot proyek yang pelaksanaannya di bawah tanggung jawab Ditjen Aplikasi Telematika (Aptel) Depkominfo.

Menurutnya, bantuan diberikan untuk mendukung program Community Access Points (CAP) Ditjen Aptel dalam menyediakan Warung Masyarakat Informasi (Warmasif) agar masyarakat di suatu wilayah dapat melakukan komunikasi, akses informasi global, pemasaran usaha kecil menengah melalui internet, transaksi online dan akses perpustakaan digital. CAP yang didukung GPOBA akan didirikan di 222 pusat kecamatan di Sumatera dan Jawa.
Bantuan GPOBA sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan akses informasi di daerah terpencil demi mendukung kegiatan perekonomian sekaligus mengembangkan potensi usaha kecil dan menengah serta mendorong keterbukaan bisnis,” ujar Gatot.

Proyek GPOBA diharapkan dapat membantu percepatan pembukaan akses informasi dan penyediaan jasa akses telekomunikasi di Indonesia searah dengan sasaran dan target World Summit of Information Society (WSIS) di Geneva, Desember 2003. Pada WSIS, pemimpin bangsa-bangsa sepakat mengatasi kesenjangan digital dengan target bersama bahwa pada 2010 seluruh desa telah terhubung (angka teledensitas 15% atau sekitar 37 juta satuan sambungan telepon), dan terhubung dengan community access center pada 2015 (angka teledensitas 50%). Mohsen A Khalil (World Bank Group Director for Global Information and Communication Technologies) seperti dikutip Antara mengatakan, keberadaan komunikasi dan tehnologi informasi sangat efektif dalam memperluas layanan umum dan swasta bagi penduduk pedesaan dan daerah-daerah terpencil.

Ya bener, internet daerah terpencil memang penting! Saya mengalami sendiri hidup di daerah terpencil, meski tidak dalam waktu yang lama/menetap, tetapi betapa terasakan situasi yang nggak lengkap tanpa kehadiran internet di daerah semacam itu. Kesenjangan digital nggak perlu dipertanyakan lagi, pasti nyata terjadi. Melengkapi listrik masuk desa, telepon masuk desa, air (PAM) masuk desa, televisi masuk desa, memang sudah saatnya intenet masuk desa. Meskipun sebenarnya, dengan meluasnya pemakaina HP di desa-desa terpencil, karena sudah terjangkau oleh BTS operator seluler, internet tentu juga dapat diakses. Meskipun terasa lamban dan mahal. Akses internet yang melalui line dan layanan yang memang didedikasikan untuk internet itulah yang diharapkan di desa-desa terpencil.

Eh, ada nilai tambah? Jelas. Secara ekonomi, pendidikan dan sosial pasti ada nilai tambah positif. Ekses negatif? Ya, pasti juga ada pengaruh negatif kalau salah dan nggak proporsional menggunakannya, itulah perlunya edukasi yang baik dan benar. Bukan dengan cara melarang-larang. Desa jangan disepelekan lho, disana mayoritas rakyat Indonesia hidup dan bermukim, menyongsong masa depan yang lebih baik.