Tags

, , ,

ENAM PERTANDA DAN SOLUSI KETIKA PERNIKAHAN MULAI KEHILANGAN CINTA

[Cocok dibaca oleh pasangan suami istri, perlu diintip juga oleh para bujang/jomblo sesaat]

• ENAM PERTANDA

Seiring perjalanan hubungan suami-istri, emosi keduanya pun berubah-ubah alias berevolusi. Sering kali, emosi tumbuh lebih kuat tetapi ada juga saat ketika cinta mulai memudar perlahan.

Lalu bisakah pernikahan bertahan tanpa cinta? Ketika Anda melihat tanda-tanda pernikahan tanpa cinta ini, mungkin saatnya untuk menciptakan kembali sesuatu yang hilang. Berikut tanda-tanda-tandanya.

1. Ini tentang “Aku” bukan “Kita”.
Ketika berada dalam pernikahan yang bahagia, Anda akan berpikir ini bukan hanya tentang saya tapi tentang kita (pasangan suami istri) juga. Tapi begitu cinta memudar, yang ada malah sebaliknya. Anda mulai berpikir hanya tentang diri Anda sendiri.

2. Tidak pernah marah.
Sama seperti cinta, marah adalah emosi yang kuat dan biasanya kita hanya marah pada seseorang yang sangat berarti. Namun jika anda sudah tidak pernah marah lagi dan merasa sudah malas bertengkar, bisa jadi itu tanda-tanda sudah tidak ada cinta di antara kalian.

3. Mulai bertemu teman istimewa.
Pasangan tentu juga memiliki banyak teman bersosialisasi. Pergi berdua bertemu dengan teman-teman adalah hal biasa. Namun jika pasangan anda hanya bertemu dengan seseorang (bukan teman biasa) tanpa anda, pastilah ada sesuatu yang tidak berjalan baik.

4. Jarang berbicara dengan keluarga satu sama lain.
Anda tidak hanya sekadar menikahi seseorang, tapi juga menjadi bagian dari keluarganya. Namun ketika anda sudah terlihat jauh dari keluarga pasangan dan enggan melakukan komunikasi itu merupakan hal yang tidak baik.

5. Tidak liburan bersama.
Perjalanan membantu membawa dua orang lebih dekat dan itulah alasan mengapa orang yang jatuh cinta saat sedang berpergian. Ada sesuatu yang romantis tentang menemukan tempat baru, mencoba masakan baru dan menjelajahi budaya baru. Ketika Anda berhenti melakukan ini, itu adalah tanda halus bahwa ada sesuatu yang hilang dari hubungan anda.

6. Tidak merasa bersalah ketika melakukan kesalahan.
Ketika Anda tidak merasa bersalah karena melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh suami atau istri, itu artinya telah berhenti peduli tentang perasaan pasangan Anda. Jika Anda mendapati diri Anda melakukan hal itu, renungkan saja apa yang mengubah perasaan Anda terhadap pasangan Anda.

• SOLUSI

Solusi yang ditampilkan disini bukanlah harga mati. Fleksibel. Mungkin cocok untuk saya, bisa jadi tidak cocok untuk orang lain. Intinya, temukan saja mana solusi paling efektif dan tepat sesuai situasi dan kondisi nyata masing-masing pasangan.

Solusi yang bisa dilakukan:

1. Ingat-ingat lagi tujuan saat-saat awal membentuk mahligai perkawinan, kebersamaan dan kesediaan untuk menempuh jalan bersama dalam suka dan duka.

2. Hidup realistis saja, manusia itu punya sifat paradoksal, ada suka ada duka, ada cinta ada benci, ada senang ada marah, tak bisa dihilangkan salah satunya, yang bisa dilakukan meminimumkan dan mengkontrol kecenderungan sifat yang merugikan. Kalau pun harus marah, marah saja, asal proporsional dan tidak berlebihan, tetap sesuai norma tanpa melanggar hukum.

3. Bertemu dengan siapa pun boleh saja. Asal ada nilai positif dari pertemuan tersebut, dan tidak muncul efek samping terhadap hubungan pasangan. Mengapa tidak suatu saat anda mengajak pasangan untuk bertemu dengan teman istimewa anda?

4. Jaga silaturahmi. Setiap orang harus saling menghormati dalam entitas kekeluargaan, bagaimana pun kondisinya antar keluarga, meski ada gap kaya dan miskin, selisih usia, atau pun status. Salah satunya, janganlah merasa di posisi saudara tua terus semaunya mengatur/mempengaruhi keluarga yang lain seenaknya, bukankah keluarga lainnya sudah punya pasangan sendiri, yang perlu dijaga dan dihormati otonominya.

5. Perbanyaklah quality time. Tidak harus berbiaya mahal. Tergantung kita bagaimana merencanakan dan mengatur secara kreatif. Bekerjasama antar anggota keluarga dalam suatu aktivitas juga bisa meningkatkan keeratan pasangan.

6. Jaga untuk selalu patuh pada aturan dan norma yang diikuti dan disepakati. Setiap pasangan umumnya selalu punya standar yang disetujui sejak awal, do atau don’t untuk suatu hal. Jangan pernah tenang bersalah karena banyak temannya yang juga berbuat salah.

[Jika anda merasa ada kemanfaatan dan ingin nge-share tulisan ini, monggo saja, langsung saja, asal sumbernya disebutkan yaa]

Ⓜardoto

Advertisements