Tags

, , ,

Apa yang kita lakukan ketika HOAX makin merajalela?

Pertanyaan tersebut di atas sering disampaikan teman-teman kepada saya. Lalu saya harus menjawab bagaimana? Sesungguhnya sudah banyak tulisan tentang HOAX dan gerakan anti HOAX yang telah beredar di internet. Googling saja, dan kita bisa cermati lalu terapkan yang paling memungkinkan untuk dilakukan.

HOAX itu berita/tulisan palsu dan pasti bohong. Namun, lantaran ditampilkan/diedarkan dengan cara dan kemasan yang ciamik maka saat ini makin banyak orang yang tertipu sehingga kalau nggak cermat orang-orang itu gampang terbawa/terpengaruh untuk meyakini bahwa berita/tulisan demikian dianggapnya benar seolah-olah merupakan fakta.

Pemalsuan/kebohongan yang dimunculkan sebagai HOAX bisa dua kemungkinan, yaitu:
1. Menegatifkan subjek tertentu atau kondisi objek tertentu dalam rangka menjatuhkan karakter/reputasi seseorang maupun kelompok yang tidak disukai/dibenci demi kepentingan kelompok penyebar HOAX.
2. Mempositifkan subjek tertentu atau kondisi objek tertentu dalam rangka mengangkat reputasi/menutupi keburukan seseorang maupun kelompok yang disukai/didukungnya demi kepentingan tertentu dari si penyebar HOAX.

Ragam kreasi ber-HOAX ria kini sangat meluas, bisa berbentuk hanya tulisan saja, gambar (meme) saja, atau gabungan tulisan dan foto (palsu atau foto asli yang telah direkayasa), cukilan kliping media imajiner, rekayasa audio maupun video hasil cuplik mencuplik, bahkan sekarang ada yang berupa screen capture. Pokoknya sekarang makin banyaklah model dan rupanya si HOAX ini … sesuai perkembangan teknologi informasi yang juga makin memungkinkan untuk berkreasi dalam kepalsuan dan kebohongan.

Sebagai contoh, tangkapan layar atau screen capture obrolan WhatsApp kini tak selalu bisa kita percaya kebenarannya. Bisa jadi tangkapan layar itu merupakan HOAX belaka. Mengapa?  Karena obrolan di WhatsApp ternyata bisa dipalsukan dengan sangat mudah menggunakan aplikasi bernama WhatsFake. Aplikasi ini memungkinkan siapa pun bisa membuat obrolan yang isinya disesuaikan dengan keinginan dan maksud jahatnya. Aplikasi WhatsFake ini bisa diunduh secara gratis baik di Google Play Store maupun App Store. Cara menggunakan aplikasi ini juga mudah. Anda tinggal membuka aplikasi, menuliskan nama kontak yang diinginkan secara manual, mengunggah foto kontak tersebut, dan mengatur sejumlah hal lainnya. Misalnya, status online, last seen, dan lain-lain.

Untuk diketahui, mulanya aplikasi seperti WhatsFake ini hadir hanya untuk untuk lucu-lucuan, bahkan bisa dikatakan sebagai hiburan bagi mereka yang tidak memiliki teman mengobrol atau untuk memperlihatkan seolah-olah sedang sibuk dengan pasangannya. Namun pada perkembangannya, maraknya tangkapan layar yang dibuat dari aplikasi WhatsFake bisa diduga semakin disalahgunakan, tak terkecuali untuk kepentingan provokasi sosial dan politik, mengadu domba komponen bangsa. Ini jelas situasi yang berbahaya, dan mengkhawatirkan kita sebagai warga yang waras dan mencintai negaranya.

16422418_1284367921648379_3667783369095196574_o

Inilah contoh Hoax WA capture

Oleh karena itu, keberadaan WhatsFake ini harus membuat semua orang jadi makin waspada akan informasi yang belum diketahui kebenarannya, yang cenderung memporakporandakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan kata lain, jika menerima tangkapan layar berisi obrolan WhatsApp tak jelas, jangan langsung percaya. Lebih baik anda melakukan klarifikasi langsung ke subjek/orang yang namanya disebut di obrolan itu.

Beberapa waktu lalu salah satu Direktur Eksekutif perusahaan survai/konsultan politik menjadi korban aplikasi semacam WhatsFake. Dalam sebuah gambar tangkapan layar pesan WhatsApp, tertulis pembicaraan yang seolah-olah mengindikasikan yang bersangkutan telah memalsukan hasil survei lembaganya yang bertujuan untuk menguntungkan seorang cagub DKI Jakarta. Melalui Twitter, ia pun membantah melakukan hal tersebut. Bayangkan kalau subjek yang bersangkutan tidak sempat mengklarifikasi, betapa ruginya reputasi yang bersangkutan, dengan meluasnya sebaran HOAX tersebut melalui medsos yang kini kian masif.

Nha itu baru satu contoh HOAX dalam bentuk tangkapan layar HP alias screen capture. Yang lainnya masih banyak lagi. Tapi yang penting kita ingat substansinya, waspada HOAX itu kian perlu. Jangan mudah percaya berita apapun, apalagi yang negatif dan tendensius, apalagi yang banyak beredar melalui medsos. Lakukan check, recheck dan crosscheck, untuk menghindari fitnah dan penyebaran fitnah.

Lha cara rielnya bagaimana? Dari berbagai sumber kita bisa mengacu dan menerapkannya, yaitu:

1. CEK SUMBERNYA. a. Cross Check Judul Berita yang biasanya provokatif. Tak sedikit tulisan berita yang muncul di internet menggunakan judul provokatif. Kalau demikian, coba cross check berita itu dengan menggunakan mesin pencari Google untuk memastikan apakah berita yang terbaca, ditulis dan diterbitkan oleh situs berita lain. b. Cek URL Situs Web. Kemudian, cek alamat situs web tulisan berita itu, atau URL-nya, jika berita yang terbaca berasal dari situs yang memiliki alamat URL berbeda, ini pasti ada pembohongan. c. Cek Foto. Terakhir, cek foto di dalam tulisan/artikel berita. Terkadang pembuat tulisan/berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca. Caranya, download atau screenshot foto di artikel itu. Lalu, buka Google Images dibrowser dan seret (drag) foto itu ke kolom pencarian Google Images. Periksa hasilnya untuk mengetahui sumber dan caption asli dari foto tersebut. Jika tulisan/berita atau foto yang beredar lewat medsos tidak menyertakan sumbernya, maka patut diabaikan tulisan/berita tersebut. Inti yang terpenting, gunakan akal sehat anda saat membaca berita, jangan mudah terpancing, dan jangan ragu mengecek keaslian atau kebenarannya.

2. JANGAN GAMPANG TERPROVOKASI UNTUK MENYEBARKAN. Terkadang kita enteng banget klak klik di HP, tapi coba mulai pikirkan resiko klak klik yang kita nggak menyadari ternyata jadi aktivitas buruk karena berpartisipasi menfitnah dan berbohong dengan menebar HOAX, yang ujung-ujungnya berbuah kasus. Perbuatan tidak menyenangkan dan menebar kebencian. Apalagi yang kita ikut sebarkan itu materi penyesatan yang merugikan banyak pihak. Sudah tidak bermanfaat, menuai masalah pula. Ach, waspadalah. Kalau lewat jalur medsos anda dapati postingan aneh-aneh dari teman grup anda yaa sudah … selesai saja di tangan anda, jangan diedarkan lagi. Toh belum tentu anda tahu tentang kebenaran isi dari tulisan/postingan tersebut. Dan perlu anda ketahui, para penyebar HOAX itu ada yang menjalankan peran sosial alias tidak dibayar hanya karena seide/sepaham/sekomunitas, tapi kini ternyata sekarang ada yang terkesan sebagai profesional alias pemain bayaran. Artinya ada yang ambil untung materi dengan meluaskan virus HOAX. Oleh karena itu, waspada HOAX itu semakin perlu.

gif_01-29-01.56.51.gif
Yogyakarta, 30 Januari 2017
Pak M

Advertisements