Tags

, , , , , , ,

Hari Sabtu, 20 Juni 2015 …….
Saya mengantar anak kembar (adik-adiknya Akseyna Ahad Dori) untuk menghadiri acara Buka Bersama mereka dengan teman-temannya dari SMP Negeri 5 Yogyakarta dari kelas Akselerasi (program pendidikan SMP yang ditempuh hanya dalam waktu 2 tahun) lintas angkatan.

Saya mengantar anak saya yang kembar yang baru lulus tahun ini dari SMP Negeri 5 Yogyakarta. Kebetulan (dan alhamdulillah) keempat anak saya kesemuanya alumni SMP Negeri 5 Yogyakarta, dan kebetulan juga (dan alhamdulillah juga) keempatnya mengenyam pendidikan smp melalui kelas Akselerasi (sekarang sering disebut kelas Cerdas Istimewa).

Saat mengantar itulah, saya melihat wajah-wajah anak-anak potensial, punya talenta jempolan, setidaknya secara akademis. Meski saya juga tahu, sebenarnya mereka juga punya banyak talenta lainnya selain sisi akademis. Toh keseharian mereka saya kenali dan saya ketahui juga beraktivitas di bidang ekstra kurikuler seperti anak kelas reguler pada umumnya.

Pembinaan kebersamaan lintas angkatan antar mereka yang sesama dari kelas Akselerasi, salah satunya melalui acara Buka Bersama, saya pandang juga punya banyak sisi positif. Karena disitulah setidaknya ada ruang berbagi informasi dan sharing pengalaman antara senior dan yunior, termasuk dalam hal pandangan kehidupan masa depan.

Nha, saat memperhatikan mereka berkumpul dan bercengkerama, terbayanglah kisah lima tahun yang lalu. Yaa, Akseyna Ahad Dori, pernah juga mengikuti acara yang sejenis bersama teman-temannya sesama kelas Akselerasi. Seakan-akan wajahnya ada menghiasi acara tersebut. Memang ini hanya sebuah kenangan. Tapi terasa sekali kesan ini melintas.

11641941_889012407850601_926238056_o

Anak-anak potensial : jangan sampai pupus di tengah jalan

Saya melihat jernih wajah-wajah anak-anak potensial, anak-anak cerdas istimewa, begitu cerianya menatap masa depan. Saya berfikir betapa sayangnya apabila sumber daya mahal ini yang begitu hebat luruh di tengah jalan, pupus ditelan kebiadaban, dan mati muda karena hal-hal yang tak diharapkan. Astaghfirullah. Betapa ruginya bangsa dan negara ini. Betapa nestapanya masa depan Indonesia apabila tidak sempat menuai karya dari sumber daya anak-anak manusia penuh talenta, yang sangat mungkin bisa memberi sumbangsih kemajuan pembangunan dalam beragam bidang. Kisah pupusnya harapan dan bakti Akseyna Ahad Dori bisa menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja, terutama stakeholder dunia pendidikan kita. Pembinaan yang tepat dan proses pendidikan yang sehat harus dikembangkan, termasuk dalam mengembangkan bakat-bakat potensial ini.

Waktu acara Buka Bersama usai dan mereka hendak meninggalkan tempat pertemuan, saya masih sempat memperhatikan mereka. Saya menerawang ke masa yang akan datang. Betapa berharganya SDM seperti mereka bagi perkembangan nasib bangsa dan negara ini pada masa depan. Betapa tidak, dalam usia yang relatif muda-muda, mereka tetap menikmati keceriaan kehidupan, seraya menjaga performa dengan telah memiliki rasa tanggungjawab berprestasi secara personal. Sayang sekali, kalau mereka pupus di tengah jalan, sebelum bakti prestasi mereka yang terpatri untuk nusa dan bangsa terwujudkan. Apalagi jika mengingat diantara anggota komunitas mereka yang saya kenal, tak begitu lama lagi akan ada yang meraih gelar doktor dalam usia sangat muda. Apalagi jika mengingat persaingan antar bangsa dan negara pada masa depan pasti bertumpu pada kekuatan kualitas SDM yang dimiliki tiap-tiap negara.

Advertisements