Tags

, , , , , , , , , , , ,

PERNYATAAN RESMI KELUARGA AKSEYNA AHAD DORI MENGENAI APA YANG SELAMA INI DISEBUT SEBAGAI “SURAT” AKSEYNA AHAD DORI

ace sepuluh

AKSEYNA AHAD DORI (ACE)
BIN MARDOTO
2 Juni 1996 – 26 Maret 2015
Bismillahirrahmanirrahim

1.    KELUARGA AKSEYNA AHAD DORI SANGAT TIDAK MEYAKINI APA YANG SELAMA INI DISEBUT SEBAGAI “SURAT” AKSEYNA AHAD DORI DITULIS OLEH AKSEYNA AHAD DORI. Setelah menelaah sejumlah data/fakta dan mencermati berbagai informasi yang beredar/ berkembang, dengan ini secara resmi Keluarga Akseyna Ahad Dori (Ace) menyatakan bahwa KELUARGA AKSEYNA AHAD DORI SANGAT TIDAK MEYAKINI APA YANG SELAMA INI DISEBUT SEBAGAI “SURAT” AKSEYNA AHAD DORI DITULIS OLEH AKSEYNA AHAD DORI. Pernyataan ini didasarkan pada sejumlah bukti formal/prosedural dan material sebagai berikut:

a.     BANYAK ORANG TELAH MASUK KE KAMAR ACE SEBELUM POLISI MELAKUKAN PENYELIDIKAN.

1)    Dalam kurun waktu sejak kami kontak terakhir dengan Ace (Sabtu, 21 Maret 2015) setidak-tidaknya selama 4 hari sejak jenazah ditemukan di Danau Kenanga Universitas Indonesia (Kamis, 26 Maret 2015) hingga Ayah Ace memastikan bahwa jenazah tersebut adalah Ace (Senin, 30 Maret 2015) sekitar pukul 17.30 WIB, telah banyak orang telah memasuki kamar Ace mendahului kegiatan penyelidikan oleh pihak polisi yang baru dimulai sekitar pukul 18.30 (Senin, 30 Maret 2015). Diantaranya adalah beberapa teman Ace yang mendatangi kamar Ace beberapa kali. Bahkan, ada teman Ace yang masuk ke dalam kamar Ace dan menginap di kamar tersebut (Minggu malam, 29 Maret 2015). Padahal, tidak ada satu pun keluarga Ace yang pernah meminta atau menyuruh siapapun untuk masuk bahkan menginap di kamar Ace. Tante Ace yang datang mencari/mengecek keberadaan Ace (Minggu siang, 29 Maret 2015) juga tidak masuk kamar Ace yang saat itu kondisinya terkunci, dan saat itu juga tidak ditawari oleh penjaga kos untuk mengecek dengan masuk ke kamar Ace. Dengan banyaknya orang yang telah masuk ke kamar Ace, tidak ada seorangpun yang dapat menjamin bahwa diantara orang-orang tersebut tidak melakukan tindakan/upaya apa-apa, termasuk terkait dengan keberadaan/pemunculan apa yang dikatakan sebagai “surat” Ace.

2)         Ibu Ace berhasil menelpon HP Ace yang sedang on (Minggu malam, 29 Maret 2015), dan Ibu Ace sempat bicara dengan penerima HP tersebut yang mengaku sebagai teman Ace dan yang bersangkutan menyebutkan bahwa ia berada di dalam kamar Ace. Keberadaan yang bersangkutan di kamar Ace dilakukannya bukan karena permintaan dari orangtua Ace. Beberapa orang yang dikatakan sebagai teman Ace juga berada di dalam kamar Ace (Senin, 30 maret 2015) hingga polisi mulai masuk melakukan penyelidikan ke kamar kost Ace sekitar jam 18.30 WIB, setelah Ayah Ace mengkonfirmasi bahwa jenazah yang diketemukan di Waduk Kenanga Universitas Indonesia tersebut adalah Ace. Saat polisi tiba, kamar sudah dalam kondisi berantakan. HP dan laptop Ace sudah diakses/diotak-atik, koper berisi barang-barang dan baju juga telah terbuka, buku-buku dan perlengkapan lain di meja belajar sudah berserakan. Kondisi ini memungkinkan banyak hal terjadi di dalam kamar Ace, termasuk kemungkinan berubahnya bentuk, letak, dan kondisi barang-barang yang seharusnya bisa menjadi barang bukti, termasuk pemunculan “surat” Ace.

b.    TIDAK ADA INFORMASI PENEMUAN SURAT DARI TEMAN ACE DALAM PERCAKAPAN TELPON MINGGU MALAM, 29 MARET 2015. Hari Minggu malam (29 Maret 2015) sekitar pukul 21.00 WIB, SMS Ibu Ace yang dikirim ke HP Ace siang hari setelah Tante Ace menyampaikan informasi Ace tidak ada di tempat kos, yang sebelumnya pending, tiba-tiba delivered, seketika Ibu Ace langsung menelepon HP Ace dan diterima oleh teman Ace. Teman Ace tersebut mengatakan bahwa ia berada di dalam kamar Ace. Pada saat percakapan via telepon tersebut, dia tidak pernah menyebutkan adanya penemuan “surat” Ace. Nalarnya, apabila sejak awal “surat” tersebut sudah ada di kamar Ace, maka bila ia masuk dan berada di kamar Ace, seharusnya sudah langsung bisa menemukan/melihat/membaca surat tersebut lalu menginformasikannya pada orangtua yang sedang mencari keberadaan Ace.

c.    SENIN SIANG TIBA-TIBA MUNCUL INFORMASI PENEMUAN SURAT” ACE. Hari Senin siang (30 Maret 2015) sekitar pukul 15.30 WIB, ibu Ace kembali mencoba menelepon HP Ace, terdengar nada masuk tetapi tidak diangkat. Selanjutnya ibu Ace menelpon penjaga kost dan menanyakan kabar Ace, penjaga kost menyampaikan bahwa Ace belum pulang dan menyatakan bahwa ada banyak teman Ace yang berada di dikamar Ace sedang mengakses laptop Ace yang katanya banyak dipasang password. Selanjutnya ibu Ace melalui penjaga kost meminta agar ada teman Ace menerima hubungan telepon ibu Ace lewat HP Ace karena ingin menanyakan keadaan Ace. Pada saat ditelepon, teman Ace menyebutkan bahwa ia sedang di dalam kamar Ace bersama beberapa teman lain. Pada saat itu teman Ace menyampaikan bahwa barang-barang Ace berupa laptop, HP dan dompet ada di dalam kamar (Minggu malam waktu komunikasi dengan keluarga Ace kok tidak diinformasikan?), serta menyampaikan bahwa jaket/jamper semua ada kecuali yang berwarna biru tua yang ada tulisan Universitas Indonesia (Kok bisa tahu secara detil?). Saat itu pula teman Ace menyampaikan ada menemukan secarik kertas dengan tulisan yang dikatakannya tulisan Ace namun tidak menyampaikan secara pasti apa isinya, bahkan ketika ibu Ace meminta membacakan tulisan itu teman Ace tersebut hanya bilang intinya Ace pergi. Pada sisi lain, pada waktu tersebut Ayah Ace belum memastikan bahwa jenazah yang diketemukan di Waduk Kenanga Universitas Indonesia adalah Ace.

d.    “SURAT DISERAHKAN KEPADA AYAH ACE OLEH SEORANG MAHASISWA, KEMUDIAN AYAH ACE MENYERAHKANNYA KE PENYIDIK/POLISI.

1)         Hari Senin (30 Maret 2015) sekitar pukul 12.00 WIB Ayah Ace mendatangi RS Polri Kramatjati untuk melihat jenazah yang diketemukan di Waduk Kenanga Universitas Indonesia, namun Ayah Ace masih ragu-ragu untuk memastikan karena sulit untuk memastikan hanya dengan melihat kondisi fisik jenazah yang banyak lebam dan raut wajah berubah jauh dari wajah Ace yang selama ini dikenali. Ayah Ace kemudian menuju Polsek Beji untuk melihat perlengkapan/pakaian yang digunakan saat jenazah diketemukan, namun tidak diizinkan oleh salah satu anggota Polsek Beji yang ditemui dengan alasan berdasarkan foto yang dibawa Ayah Ace dan ditunjukkan kepada petugas tersebut dianggap tidak mirip dengan foto jenazah yang diketemukan yang dipunyai anggota Polsek Beji tersebut. Padahal jika saat itu bisa mengecek perlengkapan/pakaian yang dikenakan jenazah saat diketemukan tentu konfirmasi/kepastian identitas jenazah bisa muncul lebih cepat.

 2)         Sekitar Pukul 16.00 WIB Ayah Ace menuju gedung Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Indonesia untuk mencari informasi tentang Ace, dan ditemui oleh dua pengajar jurusan Biologi. Di ruang pertemuan tersebut ternyata sudah ada juga dua orang mahasiswa yang mengenalkan diri sebagai teman Ace. Setelah berbincang-bincang beberapa saat, salah satu dari mereka menyerahkan “surat” yang katanya ditulis oleh Ace kepada Ayah Ace. Penyerahan “surat” itu disaksikan oleh dua pengajar jurusan Biologi tersebut. Padahal pada saat itu, Ayah Ace belum mengkonfirmasi/memastikan bahwa jenazah yang berada di Rumah Sakit Polri Kramatjati adalah Ace, sehingga dapat dipastikan polisi belum bergerak ke tempat kost Ace. Teman Ace tersebut menyebutkan bahwa ia mendapatkan surat itu dari kamar Ace ketika ia masuk dan bahkan menginap di kamar Ace pada malam sebelumnya, yakni hari Minggu malam (29 Maret 2015). Dari gedung Jurusan Biologi, kemudian Ayah Ace ke Gedung Biru (Kantor Keamanan UI), dan setelah itu sekitar Pukul 17.00 WIB Ayah Ace kembali menuju ke Polsek Beji. Setelah diizinkan melihat perlengkapan/pakaian yang dikenakan jenazah saat diketemukan, barulah Ayah Ace mengkonfirmasi hasil identifikasinya bahwa jenazah tersebut adalah Ace. Setelah itu, beberapa waktu kemudian dilakukan penyusunan berita acara pemeriksaan, dan saat itulah Ayah Ace menyerahkan “surat” yang diterimanya dari seorang mahasiswa tadi kepada pihak penyidik/polisi. Penemuan “surat” yang selama ini beredar di media massa sebagai diketemukan polisi saat melakukan penyelidikan di kamar kost Ace adalah tidak benar karena “surat” tersebut nyata-nyata bukan diketemukan oleh polisi, melainkan diserahkan langsung oleh seorang mahasiswa yang mengaku sebagai teman Ace kepada Ayah Ace, kemudian Ayah Ace menyerahkannya kepada penyidik/polisi.

e.    FOTO SURAT YANG TERSEBAR BERBENTUK TEMPELAN DI DINDING. Pada banyak media massa, foto/capture “surat” yang tersebar berbentuk foto “surat” yang tertempel paku di dinding. Hal ini memunculkan pertanyaan sekaligus kecurigaan oleh Keluarga Ace, dari mana dan siapa yang menyebarkan foto tersebut, karena yang didapatkan penyidik/polisi adalah “surat” berbentuk lembaran yang diserahkan oleh Ayah Ace. Penyebaran foto “surat” yang tertempel di dinding pasti memiliki motif yang tendensius untuk membuat berkembangnya opini bahwa “surat” tersebut memang tertempel di dinding kamar kost Ace. Padahal, belum ada pihak yang bisa memastikan bahwa “surat” tersebut benar-benar tertempel di dinding kamar kost Ace, karena bukan polisi yang mendapatkannya. Untuk itu pihak penyidik/polisi perlu kiranya mendalami siapa yang melakukan penyebaran dan apa motif penyebaran foto “surat” yang dalam bentuk tertempel paku di dinding.

f.    ISTILAH “SURAT WASIAT” ACE YANG DISEBARKAN. Sungguh sangat menyakitkan bagi keluarga Ace dengan adanya penyebaran istilah “Surat Wasiat” Ace selama ini. Dikarenakan istilah “surat wasiat” Ace cenderung untuk membangun opini bahwa “surat” itu seakan-akan memang ditulis oleh Ace. Padahal klarifikasi secara formal/prodedural dan material saja belum pernah dilakukan. Apalagi istilah “surat wasiat” Ace ini dengan sederhananya langsung dikorelasikan dan disimpulkan oleh sebagian pihak sebagai fakta bahwa Ace melakukan tindakan mengakhiri hidup sendiri. Semoga orang-orang yang menyebarkannya ini mendapat pengampunan dari Allah SWT.

g.    BENTUK TULISAN DAN TANDA TANGAN YANG BERBEDA. Setelah mencermati tulisan di “surat” itu, keluarga menilai ada beberapa kejanggalan di “surat” tersebut. Pertama, pada kata for. Ada tiga kata for di “surat” tersebut dan ketiganya memiliki bentuk berbeda. Orang awam pun bisa melihat kejanggalan ini dengan jelas. Kedua, tulisan existence dan beberapa kata lainnya memiliki bentuk/kemiringan huruf yang sangat menyolok perbedaannya dengan huruf-huruf pada kata-kata yang lain juga. Ketiga, jarak spasi antar satu kata dengan kata lainnya berbeda-beda dan tidak beraturan. Keempat, tanda tangan di “surat” tersebut sangat tidak mirip dengan tanda tangan Ace di KTP yang reguler maupun yang e-KTP. Kelima, tata bahasa “surat” dalam bahasa Inggris itu tidak beraturan. Keluarga mengenal Ace memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik karena sudah terbiasa membaca jurnal ilmiah berbahasa Inggris, novel-novel bahasa Inggris dan menonton film-film berbahasa Inggris tanpa subtitle, bahkan sewaktu di SMP saja sudah memperoleh TOEFL 433.

2.    Hasil Analisis Grafolog

a.    Seorang Grafolog bernama Deborah Dewi telah melakukan analisis tulisan “surat” Ace secara indepen­dent (atas permintaan dari rekan jurnalis, bukan permintaan dari keluarga Ace) dengan menggunakan metode standar profesinya secara transparan dan telah mempublikasikan analisisnya secara luas, dimana Grafolog tersebut menemukan sejumlah kejanggalan mendasar dari tulisan di “surat” Ace tersebut. Pada analisis pertama (inisiatif yang bersangkutan sendiri) dengan bahan pembanding yang terbatas Grafolog menyatakan 75% diyakini “surat” itu bukan tulisan Ace. Pada analisis lanjutan, atas permintaan polisi, dengan bahan-bahan pembanding yang sangat banyak yang diberikan oleh pihak polisi, Grafolog menyatakan bahwa ada dua karakter (dua orang yang berbeda) yang menulis di “surat” tersebut, dan tanda tangan di “surat” itu bukan tanda tangan Ace. Juga disampaikan oleh Grafolog, dari tulisan tangan Ace yang dianalisis terbaca bahwa Ace punya karakter fight dan kritis, tidak punya karakter bunuh diri.

b.    Hasil analisis Grafolog yang dilakukan secara profesional tersebut tentu memiliki nilai scientific dan sangat signifikan untuk digunakan sebagai bahan acuan penyelidikan secara lebih mendalam siapa sebenarnya yang memunculkan “surat” yang selama ini dikatakan sebagai “surat” Ace.

3.    HARAPAN DAN PERMOHONAN KELUARGA AKSEYNA AHAD DORI

a.    Keluarga Akseyna Ahad Dori mengetahui bahwa Pihak Polri telah melakukan uji forensik pembandingan apa yang dikatakan sebagai “surat” Ace dengan sampel tulisan Ace lainnya, dan dikatakan hasil ujinya tulisannya identik. Sedangkan untuk tanda tangan masih dalam proses pengujian(?). Untuk itu dengan kerendahan hati Keluarga Akseyna Ahad Dori berharap dapat diberikan penjelasan dari Pihak Polri mengenai uraian/gambaran proses, metode pengujian yang digunakan dan hasil analisisnya secara lengkap/transparan, juga mohon diberi penjelasan mengapa hasil uji forensik tanda tangan hingga saat ini tidak/belum terdengar hasilnya.

b.    Dari uraian tersebut di atas, Keluarga Akseyna Ahad Dori berharap dan memohon:

1)    Pihak kepolisian dapat memberikan penjelasan/klarifikasi kebenaran tentang penemuan “surat” Ace yang diberitakan oleh banyak media diketemukan oleh pihak polisi di kamar kos Ace sewaktu polisi melakukan penyelidikan.

2)    Pihak kepolisian dapat memberikan penjelasan/klarifikasi kebenaran dan penelusuran asal-usul serta motif lebih mendalam tentang tersebarnya foto “surat” Ace dalam bentuk tertempel paku di dinding.

3)    Dari “surat” yang dikatakan sebagai tulisan Ace, mohon kiranya pihak kepolisian dapat mencermati dengan sangat mendalam dan justru menggunakan sebagai pintu titik terang pengungkapan kematian anak saya, dikombinasikan dengan fakta-fakta kondisi fisik jenazah yang banyak lebam, hasil otopsi/visum, pernyataan saksi-saksi yang bertentangan/tidak konsisten, dan lain-lain, karena Keluarga Akseyna Ahad Dori sangat yakin pemunculan “surat” itu adalah merupakan upaya sistematis dan bagian tak terpisahkan dari tindakan-tindakan lainnya yang dilakukan oleh orang-orang yang mengenal/dikenal Ace secara dekat yang mengakibatkan kematian Ace.

Yogyakarta, 25 Mei 2015
A.n. Keluarga Besar Akseyna Ahad Dori
Kolonel Sus Mardoto

Advertisements