Tags

, ,

Pada awalnya saya biasa dan membiasakan menulis status-status di https://www.facebook.com/mardoto.2012 secara lepas, tentang apa saja yang melintas dalam pikiran saya keseharian. Pokoknya tulis, tulis dan tulis. Salah satunya tentang kepemimpinan. Setelah sekian lama eksis dengan postingan-postingan yang dinamis ini, saya merasa sayang kalau ungkapan pikiran itu tercecer tanpa kesan lebih kuat. Oleh sebab itu, saya berfikir perlu dikumpulkannya hal-hal yang saya anggap positif itu agar menyatu dalam satu naskah dan tersebar lebih luas, agar kemanfaatannya lebih terasa. Dan, inilah hasil olahan status-staus saya di facebook yang akhirnya berwujud bunga rampai. Topik pertama yang saya pilih mengenai kepemimpinan. Karena bentuknya bunga rampai, pasti anda menemukan rangkaian pemikiran multi arah dalam tulisan ini yang cenderung tidak terurut ataupun terstruktur secara sistematis, ibarat makanan bolehlah disebut gado-gado, meski benang merahnya tetap satu, tentang kepemimpinan. Selamat menikmati.

Pemimpin harus komunikatif

a. Dalam proses demokrasi, ada pemilihan umum, dan orang-orang sering lupa bahwa kegiatan pemilihan umum sejatinya adalah aktivitas memilih calon pemimpin rakyat, entah calon pemimpin eksekutif maupun calon pemimpin legislatif, jadi bukan upaya memilih Tim Sukses calon pemimpin, bukan pula memilih kehebatan orasi para pendukungnya. Maka yang harus dilakukan rakyat adalah mencermati buah pikiran, perkataan-perkataan, perilaku dan tindakan-tindakan calon pemimpin, bukan lainnya.

b. Menilai calon pemimpin itu sangat lumrah dari janji-janji yang pernah diucapkan. Apakah ditepati atau diingkari tanpa realisasi nyata. Untuk pegangan kita bisa merujuk pada Al Qur’an Surat At-Taubah Ayat 12 yang menyatakan “Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.”

c. Memilih pemimpin tentu tak boleh sembarangan, janganlah kita memilih orang yang berpotensi merusak agama, dan mempermainkan keyakinan dalam beragama. Al Qur’an Surat Al-Mā’idah Ayat 57 menyatakan “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”

d. Rakyat sesungguhnya mempunyai hak untuk “menyeleksi” calon pemimpin. Rakyat juga berhak “menguliti” calon pemimpin, maka sebelum menjatuhkan pilihan kepada calon pemimpin yang diikuti, kenalilah dengan baik siapa sesungguhnya jati diri calon pemimpin itu. Jangan membabibuta ikut-ikutan dalam memilih calon pemimpin. Jangan mudah tergiur dengan pamflet-pamflet semu yang sengaja ditonjolkan ke publik oleh orang-orang yang berkepentingan untuk meninabobokkan massa agar mau mengikuti dan loyal pada kehendak calon pemimpin tersebut.

e. Jangan salah pilih calon pemimpin! Sekali rakyat salah memilih calon pemimpin dampaknya tidak hanya pada masa sekarang dimana kepemimpinan tersebut sedang berjalan, namun berlanjut sampai keturunan ke sekian. Jika hal negatif yang terjadi pada masa datang, kondisi itu menjadi hal yang sulit pemulihannya, apalagi mau membalikkan kembali ke keadaan positif. Yang jelas keterpurukan bangsa akan terjadi di depan mata untuk masa yang tidak pendek.

f. Saya penganut futurologi. Yang saya pikirkan adalah bagaimana menyiapkan generasi keturunan/berikutnya merengkuh kehidupan yang lebih baik, berkualitas dan mampu bersaing dengan sesama dalam situasi kondisi perubahan/perkembangan jaman yang semakin dinamis, dengan konsep-konsep dan perencanaan strategis berlandaskan aturan yang berlaku dan sejalan kebutuhan kehidupan masa depan. Saya juga tidak anti sejarah. Sejarah adalah masa lalu, dan masa lalu adalah pelajaran. Pelajaran ini kerap dinyatakan akan berulang, tapi yang saya fahami ulangannya pasti berbeda. Karena situasi dan kondisi kehidupan masa kini dan masa depan pasti berbeda dengan masa lalu. Maka, saya tidak terlalu happy mengetahui ada calon-calon pemimpin dan orang-orang sekitarnya yang membanggakan masa lalu calon pemimpin idolanya (yang dianggap sebagai prestasi) secara berlebihan. Sementara di sisi lain, mereka juga mengungkit-ungkit masa lalu calon-calon pemimpin serta tokoh-tokoh lain (yang dianggap memiliki masalah) secara berlebihan. Seolah-olah kebenaran dan kebaikan diklaim secara sepihak. Dalam pandangan saya calon pemimpin visioner selalu melihat ke depan. Jadi, kalau ada calon pemimpin membuat konsep saja tak mampu, merencanakan apa yang dipikirkan saja tak bisa, dan mengkomunikasikan saja tak sanggup, apa yang bisa diharapkan dari calon pemimpin tersebut? Ini pantas disebut pemimpi, bukan calon pemimpin. Saya berkeinginan muncul calon pemimpin Indonesia yang visioner, dan mampu membawa Indonesia menjadi negara dan bangsa besar yang bisa dibanggakan oleh rakyatnya.

g. Kehidupan kebangsaan dan kenegaraan itu ibarat lomba lari marathon. Siapa calon pemimpin yang memiliki kekuatan, ketahanan, dan konsistensi dalam jangka lama akan muncul sebagai pemenang. Siapa calon pemimpin yang mengusung kepalsuan, kebohongan dan kepura-puraan akan tersungkur, serta tersingkir dalam waktu singkat. Hal ini sudah takdir Ilahi.

h. Seorang calon pemimpin harus terbuka kepada publik. Riwayat hidupnya, kekayaannya, keluarganya, dan visi misinya dalam kepemimpinan yang hendak dijalankan. Janganlah rakyat disodori pilihan sulit, seperti membeli kucing dalam karung. Mengapa harus takut menampilkan jati diri? Kalau melakukan sesuatu demi kebaikan dan kebenaran mengapa calon pemimpin harus bersembunyi di balik topeng, pinjam tangan orang, dan berkamuflase. Kalau ada calon pemimpin yang berkarakter demikian pantasnya kita tolak kehadirannya, tak perlu diikuti. Ini jaman transparan. Yes or No harus tegas, jangan lagi ada abu-abu di mata rakyat. Apalagi kalau tampilan di media massa hanya sekadar pencitraan, seolah-olah calon pemimpin itu seperti malaikat tanpa cela sedikitpun. Absurd. Kalau terjadi demikian, lupakan saja calon pemimpin tersebut.

i. Pemimpin itu orang yang berani mengekspresikan pikirannya apa adanya di dunia maya maupun di dunia nyata, mengimplementasikan pikirannya dalam tindakan nyata berdasar aturan hukum dan etika, serta bertanggung jawab penuh menghadapi resiko atas segala pikiran dan keputusannya, serta tindakannya.

j. Seorang calon pemimpin jempolan itu semestinya punya pedoman yang baik dalam kehidupannya. Dia akan mencatat kebaikan diri sendiri di atas angin, dan mencatat keburukan diri sendiri di atas tanah. Dia juga mencatat keburukan orang lain atau pesaingnya di atas air, serta mencatat kebaikan orang lain atau pesaingnya di atas batu.

k. Seseorang yang ingin menjadi calon pemimpin memang bisa saja dimulai sebagai seorang pemimpi. Namun seorang calon pemimpin tak mungkin hanya bergelut dengan bunga-bunga mimpi belaka, dia harus mau belajar dan bekerja keras mewujudkan mimpi itu dalam dunia nyata, secara baik dan benar, tanpa melanggar aturan hukum dan etika. Jaman sekarang banyak sekali manusia yang ingin jadi calon pemimpin dengan cara yang salah, mem-bypass proses penghadiran dan pematangan kepemimpinan, serta melakukan tindakan yang cenderung menghalalkan segala cara. Inilah tipe calon pemimpin karbitan dan mentah kualitas kepemimpinannya, kalaupun sempat menjabat sebagai pemimpin dapat diperkirakan tenggang waktunya tidaklah lama, karena akan segera terkuak borok-boroknya dan terperosoklah dia pada lubang yang sejatinya dia bikin sendiri.

Yogyakarta, 3 Juli 2014
Drs. Mardoto, M.T.

Advertisements