Tags

,

Pemilihan Presiden di dunia manapun dianggap sebagai perang. Tak perlu dipungkiri dengan kalimat penghalusan dan mlipir-mlipir. Kalau ada tokoh yang menyatakan bukan perang itu pasti orang yang suka melakukan pembohongan publik. Karena pemilihan presiden sejatinya kondisi nyata adu idea, bahkan ideologi, dan adu nasib dalam periode sekian tahun yang akan datang. Rakyat harus punya faham yang sama tentang ini, dan memahami betapa pentingnya, sekaligus kritisnya, nasib kita kala digantungkan pada tokoh dan kelompoknya yang tengah beradu ikhtiar untuk menjabat sebagai pemimpin negara. Salah pilih nasib kita bisa lewat tanpa makna, bahkan bisa tertelungkup tanpa bisa bangkit lagi.

Dengan anggapan bahwa Pilpres adalah perang maka siapapun yang bertarung mesti siap menghadapinya. Dengan cara menggunakan beragam cara dan media. Jaman sekarang, skala perang semakin meluas dan mencabang melalui bermacam jenis perang. Yang dahsyat adalah perang informasi yang tergolong sangat menentukan dalam perang ini dan mempengaruhi hasil perang nantinya.

Terkait perang informasi banyak media yang dapat digunakan, ada radio, televisi, internet, atau yang manual dan tradisional secara gethok tular dari mouth to mouth. Kemasannya bisa beraneka, bisa lewat seminar, ceramah, kampanye, diskusi atau lewat mulut “orang yang diuntungkan” ataupun “yang tersakiti”. Bisa juga lewat perangkat survai atau poling. Pokoknya bagaimana merebut pengaruh dengan opini yang bagus dirinya dan buruk untuk pesaingnya sehingga dapat mempengaruhi para pendengar, pembaca atau penonton, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi keputusan calon pemilih di bilik suara TPS.

Sekarang pun sudah bisa kita lihat secara nyata bagaimana Tim Sukses Parbowo+Hatta Rajasa dan Jokowi+Jusuf Kalla beradu strategi perang informasi lewat darat dan udara. Kadang tampak perang informasi yang super cerdas, tapi sering juga perang informasi yang kebablasan.  Perang ini juga diikuti pendukungnya masing-masing, ada yang dibayar ada yang relawan. Sayangnya pada konteks lapangan perang informasi sering dijejali dengan black campaign, selain negative campaign. Hal inilah yang menjadi catatan yang patut disayangkan, padahal jika perang informasi dilakukan secara proporsional, santun dan cerdas, kita akan bisa melihat keindahan perang informasi, dengan pantun berjawab yang menarik, dengan debat/diskusi yang penuh nalar tapi mudah disimak untuk meyakinkan publik tentang sang tokoh, pemikirannya dan kelompok pendukungnya.

Jadi, peranglah dalam Pilpres ini dengan segala cara, media dan daya melalu perang informasi yang jempolan. Sehingga Pilpres ini nanti bisa semakin berkualitas, sehingga bisa menghadirkan pemimpin pilihan rakyat dengan standar original mampu membawa negara bangsa ini menuju tujuan nasionalnya. Jangan takut berperang informasi, yang penting dengan cara positif, santun dan cerdas. Tidak asal gubyak-gubyuk dan teriak-teriak ala orang primitif!

Advertisements