Tags

,

Pemimpin yang berhasil adalah orang yang mampu merealisasikan janjinya sesuai tugas pokok jabatan yang diembannya. Selain itu yang sering dijadikan ukuran juga ialah orang yang mampu menyiapkan generasi pemimpin berikutnya sebagai pengganti sekaligus penerusnya.
Teorinya memang demikian.

g android-uri=”content://media/external/images/media/16104″ />

Jumat, 27 September 2013 yang lalu pada sebuah acara penghelatan HUT sebuah media saya bertemu seorang yang pernah menjadi pemimpin daerah Tingkat II di DIY yang artinya sekarang sudah jadi mantan, dan kami berbincang akrab, terutama tentang realitas kerja pemimpin penerusnya.

Kami menilai sama, si pengganti kurang sekali prestasi karyanya. Saya protes pada pemimpin mantan, dalam pandangan saya pemimpin lama tidak menurunkan ilmunya secara baik. Atau betul-betul dilepas itu pemimpin baru tanpa santiaji dan pembekalan, makanya kinerjanya amburadul.

Apa kata sang pemimpin mantan? Dia sudah berusaha meng-guide dan memberi bekal sangu kepemimpinan yang cukup, termasuk pola birokrasi yang mewarnai di instansi tersebut, toh dia juga mantan wakilnya, tapi apa mau dikata si pemimpin baru itu memang sebegitu kemampuannya, maunya bergaya sendiri, dan kemungkinan terkena jeratan “perjanjian” dengan komunitas yang mengantarkannya jadi pemimpin tersebut.

Oleh sebab itu tak mudah sesungguhnya jadi seorang pemimpin. Mau copy paste pemimpin sebelumnya pun boleh saja tapi kemampuan memang tak bisa dipungkiri akan membatasi pencapaian prestasi kerja.

Jadi pemimpin penerus memang harus punya kemampuan lebih, mestinya, dari pemimpin sebelumnya.

Sleman, 1 Oktober 2013
Mardoto, Drs., M.T.

Advertisements