Tags

, ,

HARI GINI TAWURAN?

Tawuran itu memang perilaku primitif.

TAWURAN BUKAN BUDAYA INDONESIA

Mengapa mereka menjadi begitu? Mereka, terutama para remaja, kebanyakan sekarang ini merasa “bukan anak ortunya” lagi. Mereka jadi anak bimbingan test, anak kursusan, anak jalanan, anak pembantu, anak internet, anak tv, anak PS, anak Game Online, dan sejenisnya. Sebab ortunya pada sibuk sendiri, berkarier, berhobi sendiri, bersosial sendiri, “lupa” kalau punya anak. Pikirnya kasih uang, kasih materi, kasih makan, beres, asalkan untuk kegiatan macam-macam sang remaja didukung, dipenuhi. Padahal yang dibutuhkan mereka bukan hanya itu, mereka manusia-manusia yang haus pendampingan, kasih sayang, komunikasi, pertemanan, dan keteladanan dari ortu dan lingkungan terdekatnya.

Jangan salahkan mereka saja! Tawuran itu salah, primitif dan tak manusiawi. Mereka tahu, tapi mereka terbawa, terbakar, dan terjebak dalam solidaritas semu yang salah. Para Pejabat, Orang tua, para Tokoh jangan cuma mengutuk, menyalah-nyalahkan, berilah contoh nyata bagaimana seharusnya perilaku yang tidak tawuran/tidak ngawuran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, termasuk dalam berpolitik praktis! Kedekatan, kehangatan dan keteladanan adalah kunci masuk mengeliminasi tawuran.

Hanya 8 jam di sekolah, mestinya yang 16 jam di rumah dan lingkungan sosialnya itulah yang lebih menentukan. Mereka anak-anak siapakah?

Yogyakarta, 12 Oktober 2012

Salam,
Mardoto, Drs., M.T.

Advertisements