Tags

NYADRAN DAN SEMANGAT PERUBAHAN

Ada dua hal yang ingin saya tulis dalam Catatan Harian saya kali ini. Yang pertama, terkait dengan waktu jelang Bulan Ramadhan yang ternyata sudah semakin dekat, yang di daerah Jogjakarta (saya yakin di daerah lain juga ada) diwarnai dengan tradisi yang masih eksis dengan baik, yaitu NYADRAN. Yang kedua, tentang Semangat Perubahan, yang mestinya ada di dada setiap insan manusia yang ingin berkembang.

Yang pertama tentang NYADRAN. Istilah ini semakin sering diujarkan orang Jogja pada bulan ini menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Di tempat lain juga ada, misalkan di Surabaya/Jawa Timur tradisi ini dinamakan NYEKAR. Kalau istilah umum, mungkin bisa kita kenali sebagai kegiatan Ziarah Kubur. Nha, rakyat Indonesia, terutama yang muslim pada bulan menjelang Ramadhan melakukan tradisi ini, karena memang sudah ada berjalan bertahun-tahun, jadi sifatnya turun temurun. Inti tradisi ini sejatinya upaya umat berdoa untuk orang tua ataupun keluarganya yang telah meninggal supaya diberi kelapangan jalan di alam sana saat menghadap Sang Khalik. Selain itu tradisi ini juga sebagai upaya mengingatkan setiap manusia yang masih hidup untuk selalu eling dan waspada bahwa semua makhluk hidup pada akhirnya harus menemui kematian, untuk itu harus berhati-hati dalam meniti kehidupan supaya timbangan baiknya bisa lebih banyak daripada timbangan keburukannya. Tapi mengapa tradisi ini dijalankan saat menjelang Ramadhan?

Sesungguhnya kegiatan NYADRAN/NYEKAR/ZIARAH kubur secara realitas tak hanya dilakukan pada saat mau puasa saja, namun juga pada hari-hari umum yang lainnya, hanya saja momentum menjelang Ramadhan yang merupakan bulan suci dianggap tepat dimanfaatkan keluarga muslim sebagai waktu yang tepat  untuk instropeksi dan persiapan menuju kesucian secara serentak. Hal ini tentu sebuah tradisi yang baik, perlu dilestarikan sepanjang tujuannya masih dalam koridor mengingat yang telah meninggal dan mengingatkan yang masih hidup secara proporsional. Saya jadi sedikit faham, mengapa di Surabaya Jawa Timur tradisi ini dinamakan NYEKAR. Meski kita ketahui hal itu sepertinya berkaitan dengan acara ziarah kubur yang dilakukan umat muslim yang pada umumnya secara tradisional membawa/menaburkan bunga di nisan orang/keluarganya yang meninggal. Tentu hanya sekadar sebagai pelengkap wewangian belaka, tidak untuk hal-hal yang lain. Namun secara falsafati dapat kita tangkap, kegiatan ini sebagai simbol untuk memekarkan sikap perilaku pribadi agar berbunga semekar-mekarnya secara baik dan berubah makin wangi setelah melakukan instrospeksi dalam tradisi ini.

Yang kedua, saya ingin membagi pengalaman kepada siapapun, bahwa ternyata kita harus tetap menjaga kondisi semangat perubahan, dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Perubahan yang dimaksud tentu perubahan yang menjurus ke arah lebih baik, bukan sebaliknya.

Setiap orang pasti setuju dengan ungkapan Hari Ini harus lebih baik daripada hari kemarin, dan Hari Esok harus lebih baik daripada hari ini. Apa makna istilah ini? Bahwa kita harus berubah dan menjalankan perubahan ke arah yang lebih baik. Banyak cara untuk berubah, terutama setelah menjalankan proses introspeksi dan evaluasi. Mana yang belum tercapai, disempurnakan usahanya. Mana yang sudah tercapai, dipertahankan, bila perlu ditingkatkan pencapaiannya. Tujuan dan proses harus dijalankan secara kompak ke arah yang makin sempurna.

Semangat perubahan sebaik-baiknya adalah ditriger dari diri sendiri setiap individu, bukan dari orang lain ataupun lingkungan sekitar. Jangan beku di zona nyaman, karena pesaing tak akan membiarkan kita menikmati itu. Pesaing selalu berusaha mencari celah mengalahkan dengan membuat perubahan-perubahan yang diharapkan signifikan dapat menggusur orang-orang yang malas berubah dan melakukan perubahan. Makanya kita harus selalu mengupdate dan mengupgrade kualitas kemampuan diri sendiri setiap ada kesempatan. Jagalah semangat perubahan supaya tetap menyala, tak padam meski kita ada di zona mapan.

Contoh kecil, kalau kita kerja, bisa kita lakukan perubahan-perubahan temporer ataupun terencana dalam penataan ruang kerja. Bukan saja untuk mengurangi suasana Bete (Bosan Total) tapi ini sebagai upaya meningkatkan semangat bekerja, agar tetap nyaman dan terelaborasi, sekaligus terinspirasi oleh suasana yang mendukung untuk senantiasa menghadirkan semangat berprestasi dari perubahan sekecil apapun. Perubahan tata ruang kantor ini juga menjadi sesuatu yang menarik dan menantang, bagaimana dengan ukuran ruang yang tetap serta jumlah perabot yang relatif sama kita bisa mengatur  dan menata ulang secara kreatif untuk membangun situasi ruang yang mantap untuk meningkatkan spirit bekerja.

Ya inilah yang kiranya perlu saya tulis untuk anda semua sebagai cara berbagi ide dan pengalaman. Bravo WNI Nomor 1. Semangat terbaik, Semangat Indonesia Raya.

Yogyakarta, 13 Juli 2012

Salam,
Mardoto, Drs., M.T.

Advertisements