Tags

CATUR DAN TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN : SEMESTINYA ANTI GRUSA-GRUSU.

Saya bermain catur sudah bertahun-tahun, namun tak bisa bermain secara rutin, harian atau mingguan, ataupun bulanan, terjadwal main dan latihan pun sangat sulit. Itu tidak bisa (lebih tepatnya tak sempat) saya lakukan.

Saya sudah memahami permainan catur bertahun-tahun, ada strategi menyerang, ada strategi bertahan, ada strategi mengulur waktu, strategi mengumpan, dan aneka strategi lainnya. Apapun strateginya semua membutuhkan sikap tegas dalam setiap langkah terutama untuk pengambilan keputusan, bidak mana yang (akan) dijalankan, sebagai antisipasi gerak musuh, serta langkah berikutnya, dan berikutnya lagi.

Saya sudah memahami teori pengambilan keputusan, mestinya berdasarkan data/fakta sebelumnya dan lingkungan strategis, kemudian dihitung plus minusnya dan risk-nya, lalu go, merebut target yang hendak dicapai …. jalankan bidak caturnya.

Ya, teori tinggal teori. Kenyataan yang membuktikan. Strategi pengambilan keputusan pada akhirnya kembali kepada tingkatan kematangan sang pemain. Kalau grusa-grusu dalam pengambilan keputusan, pasti hasilnya tidak mungkin mencapai tingkat kepuasan yang maksimum, karena pasti muncul ketidakcermatan dan keteledoran, serta aneka resiko yang tak terkontrol dengan baik. Itulah yang nyata pengalaman pribadi yang terjadi hari ini. Meskipun munculnya hanya dalam sebuah pertandingan catur, namun pembelajaran dan hikmahnya bisa kita tarik meluas ke ranah kehidupan lainnya. Bahkan hingga ranah bisnis ataupun pada situasi perang sesungguhnya.

Jadi, meski strategi sudah dirancang bagus, dengan penguasaan teori yang matang dan aneka pelatihan yang banyak bertingkat-tingkat, tetapi perilaku mental dan sikap grusa-grusu manusianya dalam pengambilan keputusan untuk setiap langkah dalam bertempur/berperang tetap menentukan hasil yang akan dipetik, maka harus dihindari hal ini supaya meminimumkan resiko.

Ayo, belajar catur lebih baik lagi.

Yogyakarta, 12 Juli 2012

Salam,
Mardoto, Drs., M.T.

Advertisements