Tags

HARUS SELALU BERTERUS TERANG APA ADANYA?

Catatan saya hari ini bukanlah merupakan suatu pembelaan atau pembenaran, kalau saya tulis apa adanya. Terkadang muncul dalam pikiran saya pertanyaan, apakah saya (tepatnya : kita) saat berkomunikasi dengan siapapun harus berterus terang apa adanya? Jujur saja diucapkan semuanya tanpa ada yang dirahasiakan? Apakah itu terbaik yang harus dilakukan oleh semua manusia?

Saya merasa memang ada yang perlu dirahasiakan diantara semua materi atau hal-hal yang terkait dalam gerak langkah kehidupan kita. Tak perlu diumbar semuanya. Bahkan dengan orang terdekat sekalipun. Kalau ada yang kurang sepakat tentang hal ini, tentu muncul pertanyaan balik, apakah semua hal yang kita lakukan, ketahui dan jalankan mesti harus transparan dibuka telanjang bulat, dan dibiarkan apa adanya diketahui oleh orang lain? Agaknya, selalu ada satu hal, senoktah sekalipun yang harus disimpan sebagai keunikan pribadi yang tak boleh diketahui siapapun. Apapun itu wujudnya.

Jadi, kalau begitu kita boleh tidak jujur dengan menyimpan sesuatu (rahasia) yang tak boleh adanya orang lain yang mengetahui? Berterus terang yang tidak apa adanya bukan berarti membentuk kita sebagai pribadi yang jujur. Itu hal yang berbeda. Kejujuran tetap harus kita jaga semaksimum mungkin, namun kejujuran tidaklah berarti harus membuka apa yang kita ketahui, kita lakukan, kita kelola, semuanya boleh diketahui orang lain.

Alasan apa yang memperkuat hal ini? Banyak sekali, namun beberapa saja yang perlu kita singgung disini.

1. Menghindarkan dari adanya ekses/akibat yang membahayakan bagi kita atau lingkungan terdekat kita, atau mungkin orang yang menerima hal-hal yang kita terus terangkan apa adanya. Apalagi kalau ada potensi, orang-orang yang bermusuhan yang terkait keterusterangan itu.

2. Menghindarkan adanya salah faham. Hal ini bisa terjadi, misalkan karena hirarki hubungan kedinasan atau kekeluargaan. Kalau pemimpin ngomong terus terang suatu hal ternyata bisa ditangkap banyak makna oleh bawahannya.  Ada anak buah yang menangkap hal itu sebagai apa adanya, sehingga tindakan/antisipasinya/reaksinya juga apa adanya. Ada mungkin anak buah yang menangkap sebagai gaya bahasa peribahasa saja, sehingga responnya tergantung kecerdasan anak buah. Kalau saja ucapan pemimpin yang terus terang itu baik, tak masalah, karena sangat mungkin efek negatif responnya tak berakibat buruk. Tetapi kalau ucapan pemimpin itu kurang patut, tentu mengakibatkan ekses yang beresiko mengeruhkan suasana.

3. Perlunya tidak membuka semuanya apa adanya, adalah juga dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan yang substansial, bukan prosedural belaka. Langkah ini bukan berarti mendukung adanya ketidakadilan/ketidakbenaran dan ingin menutupinya, tapi ada batas orang-orang yang perlu dan bisa mengetahuinya.

4. Yang terakhir, jangan-jangan karena adanya aturan keagamaan, adat atau hukum positif yang memang kita nggak perlu membuka semuanya ke semua orang. Ya kita harus patuh itu juga.

Yogyakarta, 4 Juli 2012

Salam,
Mardoto, Drs., M.T.

Advertisements