Tags

PERTEMUAN DAN PERPISAHAN

Hari ini ada yang bisa dipetik sebagai pembelajaran dalam menjalani kehidupan sekarang dan yang akan datang. Pertemuan dan Perpisahan topik yang tepat untuk pengalaman aktivitas hari ini. Ada dua hal yang membuat catatan ini menarik untuk disimak lebih lanjut.

YANG PERTAMA, bermula dari sebuah SMS dari teman SMA sehari yang lalu yang mengabarkan bahwa salah satu teman SMA kami masuk rumah sakit dalam kondisi koma, tak sadarkan diri di ruang ICU. Terhenyak mendengarnya, namun segera sadar hanya doa yang bisa kami kirimkan, oleh sebab itu dari luar kota saya hanya mendoakan semoga yang bersangkutan bisa membaik, dapat kesembuhan.

Saya teringat, sudah sekian tahun kami berpisah setelah kelulusan SMA, kami masih sempat reuni dan bertemu lagi mungkin hanya dua kali saja, dan dalam waktu mungkin hanya 3 jam berkomunikasi antar teman-teman. Setelah itu nyaris tak bertemu lagi, berkomunikasi lisan pun tidak, kami terpencar kemana-mana, termasuk saya dan teman yang sakit tersebut tak pernah bersua lagi. Padahal selama 3 tahun di SMA kami tergolong menjalin pertemanan secara akrab sekali dalam suka duka belajar bersama.

Dan, pagi ini dikabarkan teman SMA tersebut telah dipanggil Sang Khalik. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Rasa belasungkawa pun terhamburkan. Lama tak berjumpa, rencana berjumpa pun tak mungkin terealisasikan lagi, dia pergi untuk selama-lamanya.

Dulu pernah bertemu, berpisah, sempat bertemu lagi, dan berpisah lagi, akhirnya berpisah seterusnya ….

YANG KEDUA, di kantor saya hari ini ada acara serah terima jabatan wakil pimpinan kami di kantor. Acara ini juga mengingatkan saya, bahwa suatu ketika kita bisa bertemu, bersama dalam berkarya, menuju tujuan organisasi bersama, namun waktu dan tempat harus kita terima kapanpun bisa memisahkan kita jua. Oleh sebab itu kisah pertemuan dan perpisahan mestinya kita fahami sebagai sesuatu kenyataan yang pasti akan terjadi, tidak pakai kata mungkin lagi, tapi pasti terjadi! Dengan memahami hal ini, maka kesiapan mental dan hati harus ada disini, sedih berpisah boleh-boleh saja, tapi tak perlu sedih berlebihan. Senang bertemu, boleh-boleh saja, tetapi juga jangan senang berlebih-lebihan, apalagi sampai over dosis.

Siklus hidup, mengajarkan kita ada pertemuan dan pasti ada perpisahan. Kapan waktunya dan dimana tempatnya, itulah terkadang kita terima sebagai rahasia Allah SWT, sebagai manusia kita harus patut dan siap menghadapi apapun yang akan terjadi.

Oleh sebab itu, saat kita sudah bertemu, entah dengan teman atau saudara, atau kolega, isilah pertemuan itu secara baik dengan kualitas yang maksimum, seraya tetap mengingat bahwa pertemuan itu tidak mungkin abadi. Boleh saja kita menginginkan tidak ada perpisahan, namun kita tidak bisa menghindar dari kehendak Allah SWT yang Maha Kuasa.

Bijaknya, hiduplah dengan senantiasa siap menghadapi kondisi apapun, pertemuan dan perpisahan. Adaptasi dari satu kondisi ke kondisi lain adalah cara kita survive menjalani hidup dan kehidupan yang indah ini.

Yogyakarta, 3 Juli 2012
Salam,
Mardoto, Drs., M.T.

Advertisements