Tags

SEMUA BISA JADI PERWIRA (KALAU MAU)

Hari ini banyak pembelajaran dari kehidupan yang dapat saya serap untuk bekal menjalani kehidupan. Salah satunya konsep keperwiraan yang ternyata (mestinya) tidak mutlak milik para Prajurit TNI yang berpangkat perwira. Semua manusia bisa juga jadi PERWIRA, kalau mau dan berusaha.
Memangnya PERWIRA itu apa?

Ada kepanjangannya rupanya. Silakan dibaca dengan hati dan pikiran jernih, serta niat diri mau berkembang lebih baik dan lebih baik lagi di jalan yang benar.

PERWIRA, kalau diurut per huruf, sebagai berikut:

P, merujuk pada PROFESIONAL dan PROPORSIONAL. Semua orang mestinya kalau berkiprah sebaiknya berlaku secara profesional, dengan kaidah-kaidah serta etika yang diikat dengan pendekatan norma profesi, apapun profesinya. Juga proporsional sesuai tugas, wewenang dan tanggungjawabnya, jangan berlebihan, jangan pula mengurangkan.

E, merujuk pada EDUCATED. Kalau mau maju dan berkembang setiap orang harus berusaha untuk memiliki pendidikan yang baik, mau belajar dan belajar tiada henti. Dengan pendidikan yang baik tentu orang akan mempunyai pemikiran cemerlang, memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang cerdas dan cermat.

R, merujuk pada kata RESPONSIBILITY. Wajarlah sebagai manusia kita harus memiliki sifat responsif, bukan hanya kepada lingkungan terdekat seperti keluarga, namun tetangga juga, ataupun kolega kantor, semisal kalau sekiranya keluarga/teman/tetangga/kolega menemui masalah yang membutuhkan bantuan. Uluran tangan sebagai bentuk responsibility kita tak selalu berupa pemberian materi, bisa juga berwujud doa, kehadiran maupun bentuk perhatian lainnya.

W, mereferensi pada kata WISE. Manusia bijaksana semakin banyak dibutuhkan sekarang ini, karena situasi seringkali memaksa kita untuk bisa mengambil kebijaksanaan dengan cepat, tepat dan baik. Kita harus belajar menjadi lebih bijaksana. Hanya saja bijaksana tidak boleh dimaknai dengan cara sembarangan, apalagi dengan menabrak aturan yang berlaku. Kebijaksanaan, maupun kebijakan harus punya dasar aturan hukum yang kuat, tidak boleh semaunya siapapun, termasuk pemimpin sekalipun. Semua di depan hukum sama, jadi kalau sudah aturannnya yang jelas dan tegas, tidak boleh dibijaksanai lagi, apalagi dibuat kebijakan yang membelok dari aturan tersebut.

I, bisa jadi diambil dari rujukan INISIATIF DAN INSPIRATIF. Manusia, siapapun bukan patung, makanya inisiatif harusnya ada bersemi di pikiran dan hati untuk level manapun, tentunya inisiatif yang positif. Juga untuk ke depan, sesungguhnya juga ada tuntutan kepada perkembangan kehidupan kita untuk selalu mencari inspirasi dan kalau bisa menjadi inspiratif (positif) bagi orang lain.

R, dari kata RASIONAL. Seseorang yang berlevel perwira pasti harus berfikir dan bertindak Rasional dan masuk akal, apalagi kalau membuat suatu keputusan yang levelnya strategis. Tidak Utopis, yang sulit diterima akal sehat.

A, merujuk kata ADIL. Seorang Perwira kalau tak punya rasa keadilan, percuma saja. Karena adil adalah bagian dari sifat Perwira, juga Ksatria. Adil penerapannya sangat luas. Kita bisa melakukan tanggungjawab tentang keadilan dari level paling rendah, sampai level paling tinggi, dari lingkungan terkecil rumah tangga, hingga tingkatan bangsa dan negara.

Jadi, sesungguhnya siapapun bisa sifat keperwiraan, kalau mau. Tinggal kita mau atau tidak melaksanakan, mengimplementasikan hal ini. Kalau mampu, saya yakin banyak yang mampu menjalankannya, persoalan yang sering terjadi adalah sering tidak mau, karena adanya conflict of interest.
Ayo tetap semangat belajar kehidupan, jadi perwira yang sebenar-benarnya perwira!

Yogyakarta, 2 Juli 2012
Salam,
Mardoto, Drs., M.T.

Advertisements