Tags

,

Dulu di Indonesia sudah ada “projek” Mobil Nasional (Mobnas) tapi “projek” abal-abal. Judulnya saja Mobnas tapi ternyata hanya mereknya yang meng-Indonesia, barangnya ngambil langsung dari salah satu negara Asia dibawa ke Indonesia terus ditempel merek Indonesia. Keterlaluan akal-akalannya, dan tipu-tipunya. Makanya ribut, dan akhirnya tidak berkembang, terus mati itu projek.

Apalagi sejatinya saat itu sudah ada proses/usaha produksi mobil dari produsen lain (lain negara pula) yang mestinya lebih tepat diberi label Mobnas Indonesia, karena kandungan lokalnya sudah cukup tinggi, ada yang memperkirakan sudah mencapai 50%. Tetapi mungkin kalah bersaing dalam “pendekatan” ke otoritas negara ini, lenyaplah mobil-mobil tersebut untuk ditempeli label Mobnas. Akhirnya yang Mobnas bukan yang direncanakan/digadang-gadang.

Ayo (Mobil Esemka) Indonesia Bisa!

Sekarang muncul Mobnas buatan siswa SMK yakni Esemka, yang ternyata tidak hanya memiliki 1 model saja seperti yang dipakai Walikota Solo Joko Widodo saat ini. Mobil itu sebenarnya memiliki berbagai model dan tipe. Model-model berbeda dan namanya pun berbeda-beda. Tergantung sekolah mana yang merakitnya. Menurut informasi jika mobil ini nantinya diproduksi massal, suku cadangnya bisa tersedia di berbagai SMK. Jadi istilahnya SMK bisa berubah menjadi seperti tempat pemasaran mobil-mobil itu. Saat ini PT Autocar Industri Komponen (AIK) dan beberapa perusahaan seperti PT Solo Manufaktur Kreasi membantu SMK mewujudkan mobil Esemka itu.

Mobil itu sekarang belum bisa diproduksi massal karena masih menunggu izin laik jalan dari instansi terkait. Tetapi sebelum diproduksi massal kita bisa melihat dulu model-model Esemka yang sudah dibuat para siswa SMK.

Yang pertama adalah SUV yang juga dikenal dengan Esemka Rajawali. Modelnya kini sudah mengalami perubahan. Saat ini rupanya lebih mirip Honda CR-V dengan bodi belakang Isuzu Panther namun dengan ukuran lebih panjang. Harganya jika dipasarkan massal nanti akan diusahakan tidak melebihi Rp 180 juta.

Sementara model kedua adalah pikap double kabin yang dibuat oleh SMK 1 Singosari Esemka Digdaya yang dinamai Digdaya. Rencananya jika dipasarkan mobil ini akan dibanderol seharga Rp 100 juta. Dari sisi bentuk, Digdaya memiliki bentuk yang lebih orisinil karena sedikit menggunakan parts dari mobil lain.

Pilihan-pilihan mesin untuk Rajawali dan Digdaya tersebut antara lain mesin bensin berkapasitas 1.500 cc, 1.800 cc, 2.000 cc dan 2.200 cc. Versi dieselnya pun kabarnya tengah disiapkan.

Setelah mengenal 2 jenis mobil Esemka sebelumnya yakni Digdaya dan SUV. Kita beralih ke mobil Esemka lainnya yakni Zhangaro. Si mobil niaga ini diproduksi oleh SMK Negeri 10 Malang. Berbekal mesin yang sama pikap ini sekilas memang dengan Suzuki Futura atau Suzuki Carry, apalagi bila menilik pada desain dashboardnya, terutama pada lingkar kemudianya. Namun, untuk engine, tetap berlogo Esemka 1.5 i EFI, meskipun untuk sasisnya mencangkok dari Mitsubishi Colt T 120 SS, tahun 2003. Begitupun untuk gearbox yang dimabil dari merek yang sama, yakni Mitsubishi colt T 120 SS. Sedangkan transmisi 5 speed dari Suzuki Vitara, diklaim mumpuni untuk mengajak Zhangaro bergerak mengangkat beban. Daihatsu Gran Max ikut andil dengan menyumbangkan headlamp, sementara Daihatsu Taft GT, mengisi penerangan buritan, atau stop lamp. Berbahan plat setebal 1,5 mm, bak seluas 1 meter kubik cukup besar untuk memenuhi kebutuhan angkut mengangkut, dengan panjang 225 cm, lebar 145 cm, dan tinggi 33 cm.

Kemudian ada juga mobil van yang dibuat oleh SMK Negeri 6 Malang. Van ini dinamai Rosa Van 1.5i. Disokong oleh sasis dari Toyota Hiace, mobil ini mampu menampung 8 orang dewasa, selayaknya mobil van dengan 8 seaternya. Ruang kabin pun terasa lega, meskipun balutan kemewahan belum dijadikan acuan dalam mendesain ruang kabin. Mobil sebesar ini juga disematkan dengan kapasitas mesin yang sama, yakni 1.500 cc Multi EFI. Nah untuk mengimbangi berat bodi yang besar, SMK menggunakan gearbox Toyota Hiace bensin, karena rasio giginya lebih kecil, jadi ringan. Begitupun dengan transmisinya yang mencangkok kepunyaan Suzuki Vitara.

Dan model terakhir adalah model mobil hatchback. Masih menggunakan mesin esemka 1.5i multi injection. Hatchback ini menginatkan kita dengan Terios. Ya memang lampu depannya menggunakan lampu sama dengan Terios. Suzuki Escudo berperan dalam transmisinya, poros propeller, rem belakang dan handle pintu. Sedankan suspensi menggunakan milik Mitsubishi L300 dan Isuzu Panther. Spionnya dicomot dari Spion APV. Namun SMK membuat sendiri poros input, kaca dan wearing kabelnya.

Meski masih menggunakan parts dari mobil lain, bukan berarti Esemka tidak bisa berkembang. Buktinya Walikota Surakarta Joko Widodo pun menggunakannya sebagai mobil dinas. Apalagi pabrikan mobil besar di dunia juga pada masa-masa awal mereka berdiri juga belajar pada pabrikan lain terlebih dulu. Sebut saja pabrikan terbesar di dunia saat ini Toyota, dan pabrikan dari Korea Hyundai yang belajar ke pabrikan AS dan Eropa.

Setelah dipamerkan di beberapa tempat sejak 2009, Esemka pun semakin harum namanya di awal tahun ini. Apalagi Esemka sudah memiliki banyak model yang cocok untuk pasar Indonesia mulai dari MPV/SUV untuk keluarga, pikap untuk niaga, double kabin untuk pertambangan, dan hatchback untuk pecinta mobil kecil. Jadi apalagi yang kurang? Tinggal kemauan dari pejabat-pejabat terkait saja sepertinya.

Saya yakin banyak WNI yang punya nasionalisme tinggi yang mendukung, tidak hanya pejabat, politisi, dan akademisi, rakyat umum juga. WNI Nomor 1 pasti mendukung total. Ini karya kebanggaan anak bangsa yang harus didukung penuh. Kalau sekarang masih banyak kandungan produksi negara/merek lain itu wajar dimana-mana di dunia juga begitu awalannya. Yang penting ada good will dan dukungan nasional saya yakin ini akan meluas, karena kita nantinya bahkan bisa mandiri dalam memproduksi kendaraan bermotor. Bila perlu tidak hanya mobil, motor nasional pun harus kita gulirkan. Terbayang saja hitungan ekonomi, kalau setiap tahun ada 7 juta motor yang dikonsumsi orang Indonesia, katakanlah 50% saja bisa diproduksi oleh projek motor nasional, dengan merek Indonesia, kandungan lokal sampai 90% Indonesia, wuih berapa nilai ekonomi dari sektor produksi motor nasional ini. Efek berantai pada tenaga kerja, dan pergerakan bisnis otomotif tentu makin membaik, dengan pencapaian kemandirian berbasis kemampuan produksi yang efisien dalam persaingan pasar bebas.

Jadi, mau berfikir apalagi? Kalau masih ada pejabat yang anti Mobil Esemka dengan alasan kelaikan, standarisasi, lisensi, legalisasi dan sejenisnya itu jelas alasan yang dicari-cari dan katakan saja A-NASIONALISME. Karena tidak mungkinlah para pengkreasi dan pemroduksi Mobil Esemka ini main-main dengan hasil produksinya secara asal-asalan terus diluncurkan di jalanan tanpa mematuhi standar regulasi yang ada, entah kelaikan ataupun administrasi regristasi, dengan standar yang baku. Kalau proses produksi dan pemasaran cara begitu dijalankan pasti jadi bumerang dan akan mati lebih awal.

Lebih baiknya, pejabat berwenang yang punya otoritas kuat di bidang keuangan, regulasi transportasi, industri dan standar-standarnya segera turun mendukung semaksimum mungkin. Sedangkan untuk pejabat pusat atau pun daerah yang punya otoritas menggunakan mobil dinas dan menentukan pula dalam proses pembelian mobil dinas mestinya langsung saja batalkan pembelian/pengadaan mobil merek asing/lainnya, alihkan pembelian/pengadaan ke Mobil Esemka ini. Ini pasti diamini rakyat. Siapa lagi yang mau mendukung, kalau tidak kita sendiri sebagai WNI. Kisah mobnas Malaysia (Proton) juga begitu kok awalannya.

Ayo dukung 100% berkembangnya Mobil Esemka menjadi Mobnas, demi kebangkitan ekonomi (kemandirian) nasional kita, juga memupuk jiwa nasionalisme. Dan, jika mobil ini sudah diproduksi masal percayalah WNI NOmor 1 juga akan menggunakannya (doakan ada rejeki yang mengalir terus dan terus, seperti Bengawan Solo yang telah mengalir sampai jauh ….). Salam.

Advertisements