Tags

, ,

Telikung menelikung itu ilmu untuk berpolitik.

Kalau ilmu semacam ini digunakan di dunia olahraga remuklah prestasi olahraga negara bangsa ini.
Lihatlah PSSI.
Organisasi sepakbola ini relatif sepi dari prestasi mencolok.
Justru yang riuh gemericik adalah berita kekisruhannya yang tak pernah putus, ibarat orang sakit, memendam sakit berlanjut.
Meskipun sakitnya organisasi ini sebagaimana kita ketahui memang dibuat sendiri oleh sebagian orang yang tengah bercokol di dalamnya.
Ya, musuh dalam selimut.
Benar-benar rusaklah organisasi kalau sudah begini parah di tangan mental (sebagian) manusia orang yang menampilkan wajah-wajah seram, tapi sesungguhnya yang lebih seram dan hitam adalah hati dan otaknya.
Bagaimana mungkin, pengurus PSSI yang gres itu baru seumur jagung, sudah ditodong dengan KLB. Alasan dengan seribu alasan dibuat-buatnya, entah statuta PSSI yang dilanggar, entah Kongres Bali yang tidak dijalankan, Kompetisi yang terbelah, entah apalagi, pokoknya cari-carilah berjuta alasan.

Statuta? Halah, omong statuta, apakah orang yang menggagas KLB itu tidak melanggar statuta juga? Justru banyak yang dilanggar, bahkan dengan cara yang tidak etis.
Kongres Bali? Halah, kongres macam apa sih yang dijalankan waktu itu? Seperti pura-pura tidak tahu sepak terjang pengurus PSSI sebelumnya.
Kompetisi yang terbelah? Halah, memang sengaja dibelah kok. Khalayak umum juga sudah tahu itu. Mestinya kita tak perlu lagi membodohi rakyat yang sudah semakin pintar dan cerdas sekarang ini. Kompetisi sepakbola Indonesia “sengaja dirusak” dengan membuat kompetisi tandingan. Kepentingan rakyatkah? Kepentingan prestasi sepakbola nasionalkah? Bukan. Aroma kepentingan kapitalisme dan politik sangat menusuk disini.

Jadi, siapakah dibalik kisruh PSSI sekarang ini? Sudah banyak yang faham. Mau menipu dengan pencitraan lewat media yang bagaimanapun sekarang sudah (dan mudah) ketahuan. Lihat saja siapakah orang-orang itu? Apakah prestasi mereka selama ini di bidang (organisasi) olahraga sepakbola di daerah dan nasional? Kok tiba-tiba seperti malaikat yang punya kehebatan mengorganisir dan hendak menyihir persepakbolaan Indonesia. Modal siapa yang digunakan di belakangnya?

Kalau merasa kompetisi yang dijalankan pengurus PSSI sebelumnya memang hebat, profesional dan dapat dibanggakan, buktinya mana? Timnas selama kepemimpinan PSSI sebelumnya tak pernah menangguk prestasi yang benar-benar bisa dibanggakan rakyat Indonesia. Puasa prestasi bertahun-tahun. Padahal jantungnya prestasi olahraga adalah dari berjalannya kompetisi secara sehat, profesional dan berkesinambungan. Pengakuan hebat menjalankan kompetisi sepakbola sebelumnya tanpa bukti ada prestasi Timnas, adalah kicauan belaka, dunia impian nol prestasi. Apalagi kalau ditanyakan, manakah ada laporan pertanggungjawaban pengurus PSSI sebelumnya, audit keuangannnya? Bingung pasti jawabnya. Anehnya lagi, sebagian saham pelaksana kompetisi sebelumnya itu milik PSSI, kenyataannya PSSI sebagai yang punya saham sekarang tidak menjalankan roda kompetisi lewat lembaga lama, tapi kok bisa lembaga yang lama itu mengadakan kompetisi sendiri di luar PSSI, apakah ini tidak boleh dikatakan “pembajakan”?

Jadi, “kekisruhan” yang ada di PSSI sekarang ini patut diduga by design. Siapa yang membuat? Mudah sekali kita menebaknya. Sangat kentara, wong pengurus PSSI yang baru lagi mulai merangkak dan merapikan organisasi sudah diminta mengadakan KLB, khan janggal banget. Apanya yang salah? Inilah namanya dunia mabuk kekuasaan yang ada di negeri penelikung. Semaunya sendiri, ketaatan aturan dan etika berorganisasi tidak muncul dengan baik, kekuatan modal/kapital dan pengaruh politik dijadikan senjata. Ah, rakyat sangat tahu kok

Ngeri.
Cerita negeri penelikung rupanya belum berhenti ataupun terhenti di ranah olahraga. Naga-naganya merasuki ranah pendidikan juga. Coba anda ikuti “kekisruhan” Rektor Universitas Indonesia yang lagi hangat-hangatnya itu. Hi, kalau telikung menelikung sudah merambah dunia akademis, masih adakah kebenaran & kebaikan yang bisa kita harap di negeri kita tercinta?

Oh, kaum penelikung sadarlah. Mau berkonflik ria, silakan, itu resolusikan dengan indah dan bermartabat. Tapi jangan dengan urakan. Kami ingin Indonesia lebih baik, dan lebih baik lagi pada masa mendatang, di segala bidang. Terserah bagaimanapun caranya, yang penting tidak dengan pola yang melanggar konstitusi dan hukum, etika budaya Indonesia dan juga tidak dengan cara telikung menelikung.

Advertisements