Tags

,

Awal pekan ini, sebuah pengadilan AS menetapkan seorang blogger Oregon bukanlah seorang jurnalis. Obsidian Finance Group menggugat blogger Kristal Cox karena pencemaran nama baik. Cox mengelola beberapa blog yang berbicara tentang masalah hukum dan keuangan, termasuk satu yang disebut Obsidian. Di pengadilan, sang blogger Cox berpendapat bahwa ia adalah seorang wartawan, dan bahwa informasi yang dipostingnya datang dari sumber rahasia, menutup sumber rahasia adalah kewajiban.

Hakim Hernandez menulis dalam putusan bahwa blog internet tidak tercakup oleh undang-undang pers, yang mendefinisikan media komunikasi sebagai “berkala koran, majalah atau lainnya, buku, pamflet, layanan berita, layanan kawat, sindikat berita atau fitur, stasiun siaran atau jaringan, atau sistem televisi kabel.” Dia lebih jauh berpendapat, mengutip undang-undang negara, bahwa perlindungan hukum kekebalan jurnalisme Oregon tidak berlaku dalam tuntutan fitnah sipil, yang berarti bahwa meskipun jika ia menerima argumen Cox bahwa menjadi seorang blogger sama dengan jurnalis, dia tidak akan dilindungi oleh hukum kekebalan dalam hal ini.

Saya setuju, tidak semua aktivitas blogging sama dengan jurnalisme, tetapi jika anda bertanya kepada saya, saya juga dapat mengatakan tidak semua yang disebut “jurnalisme” adalah baik.

Seringkali berita berasal dari orang-orang yang umumnya menuliskan kejadian sepanjang waktu melalui Twitter, Facebook dan YouTube. Mereka memang tidak berangkat untuk melaporkan berita. Mereka hanya melakukan penulisan. Sebagai warganegara terkadang memberikan cerita dalam bentuk bahan mentah versi mereka, itu cerita kejadian paling murni. Lalu sebagian jurnalis “mengambil” materi itu untuk diolah sebagai berita. Intinya adalah itu tidak hitam putih. Itulah mengapa pembaca berita membiarkan Anda mengikuti “layanan berita” dan blog. Itulah mengapa orang menggunakan Twitter sebagai alat untuk berita. Itulah mengapa Facebook adalah membuat sendiri alat yang lebih baik bagi wartawan.

Berita adalah berita. Tentu, orang perlu membangun kepercayaan dan kredibilitas dengan konten yang mereka konsumsi, untuk memilah-milah itu semua, dan menentukan mana yang fakta dan fiksi, tetapi ada banyak orang untuk membantu kita melakukan itu. Apakah mereka para jurnalis nyata? Jika demikian, pertimbangkan secara serius bahwa banyak dari mereka yang juga blogger.

Jika kita menggunakan definisi jurnalis dan wartawan secara kaku, memang blogger bisa diabaikan masuk kategori jurnalis, namun jika menilik realitas kita bisa melihat bahwa prinsip-prinsip jurnalisme yang sebagian besar juga dijalankan seorang blogger bisa mengantarkan kita pada kesimpulan berbeda.

Tapi, karena blogger umumnya tidak masuk dalam institusi media, maka janganlah kita dengan cepat menyebut para blogger sebagai jurnalis tanpa media, karena mereka jelas punya media blog, apalagi kalau anda berani menyebut dengan kasar mereka seperti WTS (Wartawan Tanpa Suratkabar), ini jelas salah besar. Para blogger justru punya andil besar dalam konteks perkembangan media saat ini. Coba perhatikan, mereka “bekerja” nyaris sebagian besar tidak untuk mengejar uang. Apakah mereka dengan ini dapat dikatakan tidak profesional? Jangan salah, mereka juga banyak yang profesional dalam menjalankan aktivitas nge-blognya, hanya saja dukungan kapital untuk menjalankan ini tidak didapat dari aksi nge-blog secara langsung, dari sumber lainnya. Mestinya bisa disebut sebagai Citizen Jurnalist ……

Jadi, menurut anda blogger = Jurnalis? Kalau begitu, blogger bisa dituntut dengan UU Pers? Silakan dikomentari!

Advertisements