Tags

,

Setiap ada orang berbicara saya selalu mendengar dan berusaha mendengar dengan baik. Menyimak apa yang diucapkan dengan penuh perhatian. Hal ini tidak saja saya lakukan dalam situasi informal, dalam forum formal pun (apalagi) saya melakukannya dengan sangat serius. Bukan karena sok-sokan, tapi memang sudah menjadi tabiat dan prinsip saya selalu MENGHARGAI ORANG YANG SEDANG BERBICARA. Ilmu mendengar ini saya kuasai dan saya terapkan sudah lama sejak saya mengenal keorganisasian. Disinilah kita diuji hidup berorganisasi dengan tata etika mendengar, bertanya, berdebat, memaparkan, menyanggah, menjawab dan berbagai kata kerja keorganisasian lainnya apakah tertib, santun, efisien, tidak bertele-tele, dan yang penting sesuai aturan.

Sayangnya, diantara kita masih banyak yang memiliki kelemahan dalam penguasaan Ilmu Mendengar, kita lebih sering mengutamakan ilmu nerocos tanpa koma, meski yang diungkapkan tak memiliki mutu, kadang hanya basa-basi belaka, dan sebagian dari kita juga sering omong ngalor-ngidul dengan tetangga tempat duduk dalam suatu forum yang mestinya menuntut kita diam untuk dapat menyerap materi yang diungkapkan pembicara di depan forum yang memang kesempatan dia menyampaikan di muka forum, sebagian dari kita sering abai. Rupanya sebagian bangsa kita lebih banyak menggunakan komunikasi lisan yang tidak tepat tempat dan waktu, komunikasi dengar nyaris tidak pernah dipelajari dengan baik, sehingga tidak terlihat praktek mendengar dengan baik. Makanya sering banyak “suara tawon” di dalam ruangan suatu forum resmi ataupun tak resmi. Gremmeng terus sepanjang acara ……….. Untuk hal ini banyak pengalaman saya dapatkan.

Celakalah diri ini ketika suatu kali nonton Pagelaran Orkestra di Graha Sabha UGM ketemu “orang-orang salah asuhan” yang hadir juga pada acara ini. Mereka terlihat sama sekali tidak ingin menikmati musik-musik yang diaransemen oleh seorang musikus handal tingkat nasional, karena nyatanya sibuk motrat-motret artis penyanyinya, dirinya sendiri dan teman-temannya, nutupin pandangan penonton lain, dan umek terus tanpa ada tepo seliro sama sekali terhadap penonton lain yang betul-betul ingin menikmati musik aransemen suatu orkestra. Setelah itu banyak yang ngobrol semaunya dengan suara yang cukup mengganggu, bersaing dengan suara perangkat musik. Pertanyaannya, apa sih tujuan mereka datang pada acara yang judulnya sudah jelas-jelas pagelaran musik? Bukan acara workshop fotografi lho …..

Di ruang kuliah juga, kalau ada yang lagi paparan ada saja yang memberisikkan diri ….. mengganggu seseorang yang sedang paparan. Wah, ini juga sepertinya tidak memiliki ilmu mendengar ….. tampaknya lebih memelihara ilmu nguing-nguing sak karepe dewe. Etika komunikasi rupanya harus diberikan dalam segala tingkatan lebih banyak dan lebih dalam. Dugaan saya, banyak yang salah faham dengan etika komunikasi, yang dianggapnya hanya ada etika berbicara ….. wah wah.

Sabtu, 12 November 2011 saya mengikuti kegiatan International Workshop tentang Konstitusi dan Pendidikan Kewarganegaraan yang diselenggarakan Fakultas Hukum UII di Hotel Saphir Jogjakarta. Acara berlangsung lancar dan pembicaranya 2 Prof dan 1 LLM cukup bagus, kontekstual dan sesuai labelnya berbahasa Inggris. Ada satu hal yang agak mengganggu saya (dan saya yakin juga terhadap peserta lainnya) selama kegiatan workshop tersebut. Apakah itu? Pengganggu bukan dari panitia atau pembicara, tapi dari sebagian peserta workshop. Kok mengganggu? Lha iya, beberapa peserta workshop yang duduk tepat di belakang saya dan di sisi lainnya nyaris selama kegiatan workshop NGOCEH TIADA HENTI, BERBINCANG DENGAN TEMAN SEBELAHNYA. Padahal, tahukah anda, yang hadir disitu umumnya orang-orang berpendidikan yang banyak berstatus sebagai dosen! Ternyata orang berpendidikan etika komunikasi begitu juga ….. hi, kebangeten! Apakah mungkin, mereka yang “ribut” ini memang kesulitan menangkap materi pembicara karena masalah bahasa …. sebab paparannya dalam bahasa inggris. Meski (mungkin) begitu adanya, khan tidak semstinya merusak situasi dengan ngobrol sendiri-sendiri …..

Saya pun sering ikut rapat dan pertemuan-pertemuan tingkat rakyat bawah alias grass root, memang menemukan hal-hal semacam ini juga, tapi saya sering memaklumi karena itu (dalam pikiran saya) mungkin berkaitan dengan tingkat pendidikan. Tetapi kadang saya salah, ternyata pertemuan tingkat rendahan kadang lebih beretika lho. Masih banyak yang menerapkan ilmu “mau mendengar” …..

Kalau menuliskan hal-hal ini, rasanya saya juga jenuh, karena televisi kita kadang menyajikan fakta-fakta nyata banyak tokoh kita yang tidak memiliki (malah mungkin tidak mau memiliki) ilmu mendengar, maunya didengarkan terus. Huh!

Ya, apa yang sekarang bisa kita perbuat? Marilah menguasai ilmu mendengar dan mendengarkan. Setidaknya, saya perlu berterima kasih kepada anda yang telah mendengarkan (melalui membaca artikel ini) keluhan saya mengenai ketidaknyamanan saya terhadap miskinnya bangsa kita terhadap ilmu mendengar.

Advertisements