Tags

3. Sosial budaya bangsa. Tradisi sosial memberikan kepada masyarakat/bangsa seperangkat nilai yang diperlukan untuk menjawab tantangan setiap tahap perkembangan. Tradisi sosial bersifat dinamis, karena itu nilai-nilai yang tidak dapat menjawab tantangan akan lenyap secara wajar. Dalam hal ini yang perlu dihindari adalah tradisionalisme, yaitu sikap atau pandangan mempertahankan “peninggalan masa lampau secara berlebihan yang tidak wajar”. Masyarakat harus dapat menyadari bahwa suatu tradisi tertentu pada suatu tahap perkembangan mungkin tidak compatible sehingga “menghambat” kemajuan. Beberapa tradisi yang semakin tersisih, Sambatan (Jawa), Selamatan sebelum menanam padi dan setelah masa panen (Jawa), dan Pela gandong (Ambon).

4. Kepemimpinan nasional. Untuk membangun masyarakat modern diperlukan kepemimpinan nasional kuat dan berwibawa. Kepemimpinan demikian ditentukan banyak faktor, pribadi (moral, akhlak, semangat, dan akuntabilitas) pemimpin, komitmen pimpinan, tujuan nasional, nilai-nilai sosial budaya, keadaan sosial masyarakat, sistem politik, dan ilmu pengetahuan. Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan atasan dalam perayaan tertentu karena wejangan hanya diperhatikan, jika ia sebagai atasan yang mengesankan. Kepemimpinan moral harus ditampilkan atasan dalam tingkah laku dan tindakan kepemimpinannya. Kepemimpinan bermutu menuntut lima hal sebagai berikut: Kompetensi, Tertib kerja, Konsistensi, Menjadi panutan, dan Transparansi.

Dampak yang ditimbulkan oleh lemahnya wawasan kebangsaan generasi muda ialah:

1. Kepastian masa depan bangsa Indonesia disangsikan dapat terwujud dengan baik, karena tantangan masa depan antar bangsa/negara makin berat dan banyak diwarnai oleh persaingan kualitas SDM suatu bangsa, serta persoalan penyediaan energy dan food. Saat ini kita ketahui Index Pembangunan Manusia Indonesia yang menunjukkan kualitas manusia Indonesia pada posisi 124, tergolong rendah dibandingkan kualitas SDM negara/bangsa dalam lingkup regional.

2. Sejurus dengan rendahnya kualitas SDM, apatisme generasi muda terhadap pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia semakin tak terkendali. Kesadaran dan kepekaan terhadap demografi bangsa sangat rendah, berimplikasi terhadap makin banyaknya rumah tangga yang hadir sebelum waktunya, memunculkan banyak kekerasan dalam rumah tangga dan meningkatnya jumlah perceraian.

3. Kepekaan sosial menurun. Solidaritas antar warga negara makin menurun dan ujung-ujungnya soliditas bangsa akan semakin melemah. Kondisi ini memunculkan kerapuhan bangunan persatuan dan kesatuan bangsa, dan mudah menerbitkan sulutan api disintegrasi.

4. Pencapaian Tujuan Nasional bangsa Indonesia sebagaimana tertera pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945 semakin sulit dicapai.

MELIHAT SERI 1 : WAWASAN KEBANGSAAN
MELIHAT SERI 2 : WAWASAN KEBANGSAAN
MELIHAT SERI 3 : WAWASAN KEBANGSAAN
MELIHAT SERI 4 : WAWASAN KEBANGSAAN

BERSAMBUNG KE SERI 6 : WAWASAN KEBANGSAAN

Advertisements