Tags

Jangan lupakan masa lalu.
Jangan lupakan kampung halaman.
Jangan lupakan darimana kita berasal.
Meski kita telah kemana-mana dan sekarang tinggal dimanapun.

Rindu sejarah adalah rindu manusiawi.
Hakikat manusia adalah menelusur masa lalu.
Adalah pembohong besar kalau ada manusia mengaku bisa menutup masa lalu, memotong ikatan hirarki waktu.
Adalah penipu ulung kalau manusia bisanya cuma bicara masa depan.

Saya tak ingin mengulang kata-kata Bung Karno yang fenomenal, JASMERAH, jangan sekali-sekali melupakan sejarah.
Namun sejarah membuktikan memang begitulah adanya.
Manusia itu menjalani looping dengan manusia yang lainnya dalam fungsi waktu dan tempat.
Itulah fitrah.

Ketika kita mengenal bangau sebagai burung perindu asal muasalnya yang selalu ingin pulang ke kandangnya, kita sesungguhnya identik dengan satwa tersebut secara naluriah nostalgia.
Hanya saja ada yang mampu mengelola kerinduan masa lalu dengan cara disamarkan, tak ditampilkan dihadapan orang banyak.
Tetapi sesungguhnya dalam batin ingin menelusuri lorong waktu dan cerita masa-masa sebelumnya.
Normal saja.

Mengapa harus menutup masa lalu dengan tingkah laku pembohong.
Mengapa mesti mengunci history asal muasal kampung halaman aslinya untuk pencitraan yang diharapkan elegan.
Mesti begitukah cara menampilkan profil pemimpin (Indonesia) dengan tabiat selalu baik, benar dan tak pernah bersentuhan dengan jelaga sekecil apapun.
Mengapa harus mengaku suci dengan menghilangkan masa lalu dalam kurun hidupnya untuk dianggap sebagai dewa oleh orang lain?

Hidup adalah jalan berliku, bisa jadi masa lalu menggoreskan catatan hitam, tapi apakah harus dicap hitam seterusnya?
Maka tak perlulah berkamuflase bagai seorang yang putih tanpa percik noda selama hidup sebelumnya untuk menipu rakyat sebagai pemimpin yang pantas dipilih.
Tunjukkan kemauan masa depan membuat rakyat sebagai subjek yang pantas dibawa ke tujuan positif, tujuan nasional itulah yang mesti ditampilkan dengan kemampuan prima.
Perilaku dan performance ke depan, bukan kepalsuan masa lalu dan janji-janji kosong, jauh dari yang diharapkan rakyat.
Yang dibutuhkan rakyat sekarang adalah pribadi yang kokoh, mau dan mampu, serta realitasnya pure membawa rakyat Indonesia ke masa depan yang lebih baik.
Bukan sekadar politisasi.

Burung bangau itu satwa, kita itu manusia, namun keduanya sama-sama ingin back to basic, bercerminlah, kembali ke kandang dengan cara yang baik dan benar, kalau ingin menorehkan masa depan yang gemilang.
Bukan sekadar pencitraan!

Advertisements