Tags

Setiap kali saya berkendaraan di jalan umum, setiap kali itu pula saya berpikir tentang pengguna jalan lainnya yang kerapkali seenaknya berkendaraan, semaunya, tak peduli orang lain. Resiko pada diri sendiri diabaikan, apalagi resiko terhadap orang lain kalau terjadi accident.

Saya berpikir mereka yang mengemudi dengan alur simpang siur begitu pasti sudah punya ketrampilan nyetir yang matang. Punya pengalaman dengan arus lalu lintas yang padat dan melelahkan. Dan, mungkin punya nyawa ganda, sehingga tidak peduli dengan nyawa pertamanya, karena (mungkin) nyawa cadangannya siap menggantikan apabila nyawa pertamanya bablas. Namun ternyata apa yang terlihat dan terlintas di benak saya tidak seperti itu …

Banyak yang berstatus pengemudi kategori rawan ini masih berseragam sekolahan, bahkan mengindikasikan masih bersekolah tingkatan SMP. Wah? Apakah mungkin kita berharap pada anak yang umurnya saja belum memenuhi syarat mengemudi (terbuktikan) punya kemampuan/skill trampil dalam membawakan kendaraannya di jalanan ….. Nonsens. Mereka justru sangat mengkhawatirkan kita. Namun mengapa orang tuanya tidak pernah gelisah melepaskan anaknya yang masih di bawah umur berangkat ke sekolah (kemanapun) menggunakan kendaraan yang semestinya belum dibolehkan?

Saya tidak ingin berfikir mereka mendapat masalah TILANG dengan aparat kepolisian karena anaknya menyetir tanpa ijin (tidak punya SIM) karena itu dalam pandangan saya seperti persoalan “administratif” belaka yang seringkali dapat diselesaikan dengan pendekatan TST. Justru yang saya risaukan kalau terjadi kecelakaan. Kalau kecelakaan tunggal ya resiko dia dan keluarganya yang nekat membiarkan dia nyetir, mungkin kita bisa sedikit abaikan. Tetapi kalau berresiko terhadap orang lain yang telah berjalan dan memanfaatkan jalan dengan mematuhi aturan lalu lintas? Inilah problem utamanya. Karena di jalanan umum, benar dan sesuai aturan saja sekarang ini tidak cukup mengantar pada kondisi situasi keselamatan diri.

Nha, inilah yang mestinya difahami para generasi muda (yang masih nekad) menggunakan kendaraan yang legalitasnya saja belum terpenuhi, apalagi ketrampilannya. Juga sepantasnya difahami orang tua/keluarga anak-anak tersebut, bahwa di jalanan bukan anaknya saja yang butuh menggunakan jalan, orang lain juga butuh jalan itu, dengan aman, dengan selamat, pergi dan pulang.

Jadi, para ortu jangan main-mainlah dengan kehidupan ini, salah satunya kehidupan jalanan yang hiruk pikuk dengan begitu gampangnya melepas anak “menggunakan” jalan secara ilegal dan membahayakan orang lain. Bukankah selaku orang tua/keluarga lebih baik menunjukkan jalan yang benar terhadap anak-anaknya dalam memanfaatkan jalanan ….

1. Bisa gunakan angkutan umum. Ini lebih sosiologis bagi anak untuk mengenal kehidupan nyata.
2. Bisa diantar-jemput oleh orang tua/keluarganya sendiri. Ini lebih psikologis menguatkan hubungan anak dan ortu/keluarga.
3. Bisa diantar-jemput berlangganan berbayar. Ini lebih terjamin dan mudah dipantau ….
4. Bisa naik sepeda. Ini lebih ekonomis dan sehat sekaligus menyehatkan.
5. Bisa jalan kaki. Ini kalau sekolahnya dekat dan memungkinkan …..

Prinsipnya, apapun caranya, silakan dipilih …. yang penting legal, tidak melanggar hukum/aturan, dan tidak mengancam keselamatan orang lain …. sluman slumun slamet ….. serta tidak bermain-main dengan nyawa sendiri (apalagi nyawa orang lain) yang sesungguhnya cuma satu!

Advertisements