Tags

Mengenali suatu bangsa melalui profil generasi mudanya adalah pintu masuk memotret wawasan kebangsaannnya. Jumlah penduduk Indonesia kini sekitar 240 juta, tahun 2012 diperkirakan mencapai 245 juta. Jumlah orang muda berusia 10-24 tahun mencapai 64 juta (27 persen dari populasi). Pemuda pengangguran sebesar 17%. Generasi muda berpendidikan tinggi kurang dari 20%. Pemuda Indonesia mayoritas berpendidikan di bawah SMU [Kompas, 27 Oktober 2011]. Jumlah ini menunjukkan proporsi kaum muda cukup besar dibandingkan kaum lanjut usia. Meski jumlahnya besar, akses atas informasi dan pendidikan sangat kecil, apalagi akses pada pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual yang sangat penting untuk melindungi mereka dari kehamilan tak direncanakan. Profil demografi ini berimplikasi besar terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan, pemenuhan fasilitas pendidikan, dan potensi keresahan sosial, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi derajat wawasan kebangsaan mereka.

Penelitian yang dilakukan di Jawa Barat dan Batam terhadap para siswa dan guru SMP, SMA, serta SMK menunjukkan hasil bahwa, Siswa lebih tertarik budaya baru yang ditawarkan agen budaya luar sekolah dibandingkan dengan budaya kita sendiri yang ditanamkan di sekolah; Adanya pertentangan antara nilai-nilai yang bersumber dari budaya adiluhung bangsa Indonesia dengan nilai-nilai yang dibawa oleh agen globalisasi mengakibatkan terjadinya konflik nilai siswa; Terpaan media massa televisi memporakporandakan nilai-nilai adiluhung bangsa Indonesia, sehingga para siswa sering menampilkan perilaku menyimpang dari ukuran budaya kita. Gemerlap acara televisi, utamanya siaran televisi asing yang ditangkap oleh fasilitas parabola dan semacamnya, menyita perhatian dan waktu siswa sehingga kegiatan menekuni pelajaran menjadi terganggu; dan Budaya konsumerisme yang dibawakan berbagai acara televisi menggiring pemirsa termasuk siswa menampilkan gaya hidup konsumtif. Tayangan televisi nasional sangat miskin nuansa pengembangan wawasan kebangsaan dan cinta tanah air [Dasim Budimansyah: 2010].

Suratkabar lokal di DIY mewartakan, tahun 2011 hingga saat ini tercatat sebanyak 118 pengajuan dispensasi pernikahan dini di Pengadilan Agama Wonosari, dengan 90% diantaranya perempuannya sudah hamil di luar nikah. Jumlah tersebut melonjak jika dibandingkan tahun 2010 yang mencatat 113 permohonan. Salah satu pemicu meningkatnya kasus pernikahan dini ini diduga karena semakin menjamurnya warung internet di Gunungkidul [Tribun Jogja, 25 Oktober 2011].

MELIHAT SERI 1 : WAWASAN KEBANGSAAN

BERSAMBUNG KE SERI 3 : WAWASAN KEBANGSAAN

Advertisements