Tags

Tatkala ada waktu untuk menyepi sendiri, saya suka ingin memahami tentang NASIB. Hal ini menarik karena banyak orang dengan entengnya mengucapkan “ya sudah nasib mau apa lagi.” dalam kehidupan keseharian. Padahal kalau kita tilik lebih dalam yang dinyatakan sudah nasib itu masih penuh tanya, apakah memang betul begitu adanya?

Melihat sekitar kita terkait NASIB rasanya pantas untuk kita renungkan lebih dalam. Cara melihat bisa dari sisi materialisme (gampang terlihat) atau non materialisme (agak sulit mencermatinya, perlu ketajaman mata dan hati).

Lihatlah, ada seorang wanita (ini contoh satu sisi lho, meskipun bisa juga untuk membicarakan lelaki) yang tidak begitu cantik, ternyata bisa dapat pasangan hidup tampan. Nasib?
Lihatlah, ada seorang wanita tidak begitu cerdas (prestasi sekolahnya/kuliahnya biasa saja, malah amburadul), ternyata memperoleh pasangan yang hebat akademiknya. Nasib?
Lihatlah, ada wanita lahir dari keluarga biasa saja, buktinya mempunyai pasangan dari anak orang kaya. Nasib?
Lihatlah, ada wanita terlahir dari keluarga berantakan, kemudian bisa menjadi sosok ibu yang sukses dan keluarga yang dibentuknya juga sukses. Nasib?
Lihatlah, ada wanita ayu rupawan yang mestinya pantas jadi pasangan seorang raja diraja jutawan, ternyata hanya jualan jamu gendong atau penjual sayur. Nasib?
Lihatlah, ada seorang wanita berprestasi dalam olahraga bahkan secara nasional, namun hidupnya terlunta-lunta. Nasib?
Lihatlah, ada seorang wanita menjalin asmara dengan seorang lelaki selama lebih dari 5 tahun, namun pada akhirnya tak sampai di pelaminan. Nasib?
Lihatlah, ada seorang wanita anak orang kaya dan keluarganya terpandang, namun sekarang hidup di penjara karena perilakunya yang melanggar hukum. Nasib?
Lihatlah, ada seorang wanita anak pemimpin negara, namun sekarang harus hidup di pengasingan, dengan kekayaan yang makin menipis. Nasib?
Lihatlah, ada seorang wanita punya kemampuan kepemimpinan hebat dan talenta kerja jagoan, tapi tidak disukai oleh manusia-manusia politik rakus di negaranya, sekarang harus mengabdi di luar negeri. Nasib?
Lihatlah, ada seorang wanita ingin pendidikannya meningkat namun lingkungan sekitarnya tidak mendukung, akhirnya tetap hidup dalam keterbelakangan. Nasib?
Ya, lihatlah, lihatlah, beragam fakta itu ………………. banyak sekali yang bisa kita lihat di sekitar kita, dalam radius kecil, atau luas. Fakta-fakta demikian sering dibenturkan dengan satu kata : NASIB.

Pertanyaan yang muncul, benarkah fakta-fakta itu terjadi karena teori nasib yang ketentuannya merupakan kewenangan selain manusia? Apakah tidak terlalu cepat kita menyatakan itu sebagai nasib? Bukankah kita masih bisa melihat sisi lain yang secara logika mungkin saja bisa terjadi dan menghasilkan kondisi nasib berbeda dengan yang kita katakan nasib saat ini.

Ada kata USAHA. Apakah nasib yang terjadi itu sudah didahului dengan usaha keras dan nyata, bukan omong kosong, bukan basa-basi? Mestinya kalau nasib itu terjadi pada diri kita, kita sendiri pulalah yang bisa menjawabnya, semestinya menjawab dengan kejujuran, kalau ingin menginginkan nasib lebih baik, dan lebih baik. Menurut saya, kalau usaha sudah ditempuh dengan maksimum, dan faktanya hanya kondisi itu/tertentu yang didapat, bolehlah kita bicara itu nasib. Seringkali klarifikasi kata usaha maksimum juga berbeda menurut satu orang dengan orang lainnnya. Ada yang menyatakan telah berusaha maksimum dengan keras, namun banyak orang melihatnya sebagai belum berusaha secara maksimum, disini ada relatifitas. Maka inilah saatnya kita bicara standar dari apa yang disebut usaha. Mestinya yang dimaksud usaha disni adalah berstandar normal, yang seringkali sudah terukur dengan standar profesi/organisasi secara nasional maupun internasional. Misalnya, jam kerja manusia, normatifnya 8 jam sehari, sehingga kalau ada seseorang sudah menyatakan bekerja keras namun nyatanya masih menggunakan waktu hanya 4 jam, apakah bisa kita sebut sebagai telah bekerja keras? Telah berusaha dengan benar dan baik? Kalau outputnya rendah, hasilnya rendah, bayarannya kecil, itukah nasib? Ah, mudah sekali menyatakan nasib!

Jadi, sejatinya nasib dan usaha harus dilihat dalam konteks yang saling mempengaruhi. Keterpengaruhan itu bisa dilihat dari ada atau tidak adanya perubahan. Perubahan juga bisa dilihat dari sisi waktu, singkat atau lama. Selain itu, nasib tidak bisa dikatakan dengan mudah berkorelasi dengan keturunan atau lingkungan semata. Unsur semangat mengubah (ada perubahan ke arah yang lebih baik) dari diri seseorang juga sangat berpengaruh terhadap apa yang dikatakan sebagai nasib.

Betulkah begitu teori ini dan cocok dengan NASIB anda?

Advertisements