Tags

Setiap bertemu dengan seseorang saya selalu berfikiran hal apa yang dapat saya pelajari dari seseorang tersebut, artinya nilai tambah apa yang bisa saya ambil dengan segala plus minusnya dari orang tersebut. Begitu pula waktu bertemu dengan Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo Ph.D. (Chiba University Jepang), penemu Radar Satelit Pengamatan Permukaan Bumi & Pemilik Paten di 118 Negara, saat memberikan General Lecture di AAU tentang teknologi temuannya yang berbasis microwave remote sensing dan mobile satellite communications beberapa waktu lalu.

Saya tidak ingin bercerita tentang kiprah beliau dalam bidang iptek, karena jika anda Google, anda dengan mudahnya mendapat informasi tentang prestasi keilmuan beliau. Saya ingin mengungkap sisi lain yang disinggung saat ceramah di kantor saya.

1. Sang ilmuwan dalam berkreasi ternyata banyak diinspirasi masa lalunya selama hidup di Jawa (Solo), oleh sebab itu imajinasi alam Jawa, misalnya ada bentuk gunungan, juga muncul dalam disain produk iptek yang dia buat.

2. Konsep yang dia usung dalam berkreasi teknologi ialah simplicity, membuat segalanya menjadi lebih sederhana. Proses demikian memang menjadikan pekerjaan/riset lebih rumit/complicated, tapi itu justru merupakan tantangan menarik. Contohnya, bagaimana dia membuat ukuran satelit makin small. Apalagi ongkos kirim satelit ke luar angkasa, kalau kita mau tahu adalah 200 juta rupiah per kilogram. Lingkungan hidupnya di Jepang memang membuat dia tak terlalu asing karena mirip-mirip dengan Jawa, cenderung njlimet.

3. Dia yakin, tidak ada apa itu yang disebut dan didengung-dengungkan sebagai transfer teknologi antar bangsa (apalagi pakai bendera industri). Semua teknologi kalau kita mau dan sadar harus kita create sendiri. Sesungguhnya tidak ada transfer teknologi, kalaupun ada biasanya teknologi usang yang diberikan. Bahkan dinyatakan, kalau dalam dunia militer/pertahanan umumnya pemilik teknologi bersifat closed dan penuh proteksi.

4. Menurutnya ada yang salah dalam sistem pendidikan di Indonesia, murid-murid seperti dibuat tidak suka rumus. Mereka takut bertemu rumus-rumus dalam pelajaran yang dihadapi. Padahal, semestinya lebih enak berkomunikasi dengan rumus-rumus karena lebih jelas dan tidak berputar-putar untuk menjelaskan sesuatu/fenomena yang dihadapi.

5. Bagi orang yang tahu, setiap disaster (bencana) merupakan peluang (bisnis). Misalnya ada global warming itu memiliki nilai bisnis sangat tinggi. Namun hal ini tidak boleh diartikan kita berharap terjadinya bencana supaya dapat bisnis. Selalu saja ada hikmah positif dari setiap bencana.

6. Kalau ingin maju di dunia ini kita harus membiasakan diri mau berkompetisi secara fair. Hal ini membuat seseorang makin berkembang dan mau belajar.

7. Mengapa orang Jepang sering mengundurkan diri atau bunuh diri kalau menemui kegagalan pada suatu hal/jabatan? Menurutnya, disana masih menjunjung adat lebih baik “hilang” daripada menanggung malu. Hal itu sekaligus menunjukkan rasa tanggungjawabnya.

Betapa banyak nilai-nilai yang dapat kita pelajari dari pertemuan tersebut. Kita pun dapat mengambil inspirasi dan hal-hal positif yang (semoga) mampu menambah mental kepribadian kita untuk senantiasa berperilaku positif untuk meraih masa depan gemilang dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan ikatan NKRI.

Advertisements