Tags

Bertemu orang-orang dengan pemahaman yang sama tentang sesuatu hal, amat menyenangkan. Seperti yang saya rasakan saat saya bertemu dengan beberapa Doktor yang punya jabatan sebagai punggawa di UNY. Kami dalam pikiran dan pandangan sama saat meneropong wajah T3 kita. Apa pula ini?

Wajah T3 kita, memberikan fakta etalase negara/bangsa kita di mata bangsa/negara lain. T3 kalau dipanjangkan masing-masing menjadi TERDEPAN, TERLUAR dan TERTINGGAL. Jadi, yang sedang saya tulis adalah mengenai gambaran kondisi wilayah perbatasan kita. Sudah banyak media dan tokoh membicarakan serta mengungkapkan fakta tentang wajah T3 kita. Hanya saja, sebanyak apa yang telah mereka lakukan untuk wilayah perbatasan yang terpotret buram itu?

Akses jalan menuju wilayah perbatasan umumnya sulit dan berliku. Untuk hidup normal menuju sejahtera betapa berat bagi warga negara kita yang tinggal disana. Harga barang-barang tergolong mahal. Masa depan mereka adalah hari ini untuk hidup hari ini. Masih banyak tokoh kita menuntut ketahanan nasionalisme (bisanya hanya menuntut) warga kita yang berada disana. Namun tak berkontribusi nyata. Sementara sesama manusia di seberang wilayah, kebetulan punya kewarganegaraan lain, terlihat hidup lebih indah, lebih mapan, lebih memiliki masa depan. Ini menjadi tantangan nurani yang tak enteng bagi warga negara kita untuk ditemui setiap hari. Akhirnya godaan simbiosis mutualisme antar mereka pun bisa terwujud tanpa bermaksud merusak kedaulatan negara bangsa, umumnya hanya karena kondisi ekonomi yang memaksa mereka melakukan tindakan-tindakan yang boleh jadi melanggar hukum. Sepenuhnya salahkah mereka?

Pernahkah kita berpikir untuk menyejahterakan mereka yang hidup di daerah T3 dengan sepenuh pikir, sepenuh jiwa, sepenuh semangat kebangsaan, seperti kita merancang program-program pembangunan di dekat pusat kekuasaan, pusat pencitraan, pusat penguasa negeri ini. Jaman sebelum reformasi, kita tidak mengenal ada Menteri IDT. Kita tidak pernah tahu ada Menteri kelautan. Padahal daerah T3 itu sangat butuh pembangunan sejak dulu, sejak dulu sekali. Jangan salahkan kalau negara tetangga kita mengasuh mereka dengan sebaran uang khas negaranya untuk transaksi perdagangan, dengan tontonan sekaligus tuntunan, bahkan pengubahan mental kebangsaan, melalui media radio maupun televisi mereka yang memang lebih mudah diakses dibandingkan dengan stasiun sebangsa yang sulit diterima secara jernih.

Terbayanglah wajah anak-anak di daerah T3.

Apa yang bisa kita perbuat untuk mereka? Semestinya dilakukan akselerasi pembangunan di wilayah perbatasan secara serempak dan berkesinambungan. Institusi yang memiliki tanggungjawab pembangunan infrastruktur mestinya segera bergerak, sebab itu salah satu cara melancarkan pembangunan untuk daerah semacam itu. Jalan, telekomunikasi, dan listrik dapat dikatakan sebagai penggerak awal denyut kehidupan pembangunan. Apalagi? Kita bisa menyiapkan tenaga-tenaga dari daerah setempat untuk dididik dan diberikan bekal dalam “bertarung” di wilayah perbatasan. Pendidikan dan kesehatan juga penting. Berikan kesempatan generasi muda di wilayah perbatasan untuk mendapatkan kesempatan sekolah/kuliah di wilayah Indonesia lainnya yang telah dianggap maju, misalnya Jogjakarta, dengan beasiswa dari pemerintah pusat (bukan pemerintah daerah) secara penuh selama pendidikan/kuliah, bahkan kalau memungkinkan setelah lulus diberikan kesempatan/prioritas diangkat sebagai pegawai negeri di daerah asalnya tersebut. Kita berharap mereka nantinya sebagai penggerak pembangunan disana dan agen perubahan yang andal

Kesempatan pendidikan untuk mereka bisa diatur sesuai kebutuhan yang mendesak. Bisa untuk pendidikan keguruan, kesehatan, keteknikan, pertanian, perikanan ataupun ekonomi bisnis. Ini hanya sebagian saja yang bisa saya tulis. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Pengharapan terbaik bagi mereka adalah mereka punya skill dan kemampuan teknis profesional yang baik dan bisa diterapkan di daerah asal mereka. Mereka tentu mampu bertahan disana, karena asal muasal mereka disana. Bandingkan dengan tenaga-tenaga kiriman dari daerah lain, tidak bisa kita harapkan mereka bertahan pada penempatan di wilayah perbatasan dalam jangka waktu yang lama. Sudah banyak contoh untuk hal ini. Selain itu kalau generasi muda yang berasal dari wilayah perbatasan yang kita beri kesempatan berkembang dengan memberikan nilai tambah untuk modal membangun daerahnya, kita bisa berharap mereka juga mau membangun karakter kebangsaan secara kuat dengan pengalaman hidup di daerah lain (Jogyakarta, misalnya), berinteraksi dengan saudara-saudaranya sebangsa, dengan wawasan Indonesia mini. Ini tentu menjadi pelecut bagi mereka peningkatan spirit kebangsaan memajukan daerah asal. Dari model ini kita berharap nasionalisme warga negara kita tetap tersemaikan secara baik. Sehingga tidak mudah diiming-iming tauke atau cukong dari negara tetangga untuk menggeser patok perbatasan, mengeruk pasir yang akan dijual ke mereka, ataupun menggergaji pohon-pohon raksasa yang bernilai ekonomis untuk disetor kepada para pengecut di perbatasan.

Pada sisi lain, para mahasiswa yang telah terkena program KKN dari berbagai perguruan tinggi di seluruh penjuru Indonesia bisa mulai diarahkan untuk melaksanakannya di wilayah perbatasan. Termasuk untuk yang berminat menyusun skripsi/tugas akhir dengan fokus penelitian di wilayah perbatasan, harus didorong dengan sekuat tenaga mau terjun kesana. Siapa tahu banyak potensi di wilayah perbatasan yang bisa diekplorasi/dieksploatasi sebagai cara menarik investor menanamkan modal disana.

Suatu saat saya berharap wajah T3 kita tidak semuram saat ini. Entah kapan.

Advertisements