Tags

Bersepeda sore hari terasa nyaman sekali di seputaran selatan lereng Gunung Merapi. Bertemu beragam orang, yang sudah kenal atau baru kenal. Lebih asyik lagi bertemu dengan warga setempat, yang masih beraktivitas di persawahan. Ada petani “nggusah” (mengusir) burung-burung pemakan padi yang mulai menguning. Ada orang lagi “nge-lep” (mengairi) sawah dari air sumur yang dipompa ke atas, karena musim kemarau begini air irigasi sudah tak cukup lagi untuk kebutuhan standar persawahan.

Sesungguhnya saya tak ingin menulis laporan pandangan mata sekitar lereng Gunung merapi dengan situasinya yang tengah dinaungi kemarau. Saya ingin mengungkapkan disini tentang hasil pembicaraan ringan saya dengan salah satu petani yang sedang menjaga sawahnya. Dia bernama Pak S, mantan seorang guru. Tinggal di seputaran selatan lereng G. Merapi. Apa yang menarik dari cerita dia? Kejadian sekitar tahun 1965, terkait dengan komunisme di Indonesia, khususnya di Jogjakarta, lebih khusus lagi di seputar lereng G. Merapi.

Dia bercerita, sebagai saksi mata. Selain kepada saya, waktu dia berkisah juga ada petani lain. Dinyatakannya, betapa sangat tidak manusiawinya kejadian yang dia lihat sendiri, di Kali Wedi (Kali Pasir). Dalam beberapa hari setelah meletup tragedi 1965 itu, dia melihat banyak orang dibariskan di dalam kali pasir (daerah pasir yang digali sehingga seperti parit memanjang), kemudian mereka diminta berdiri berjajar dan ditembakilah satu demi satu, sehingga semuanya tersungkur, mati! Lalu dengan ringannya mereka ditimbun dengan pepasiran. Dalam beberapa saat pepasiran yang berisi mayat-mayat itu sepertinya bergeser, bergerak seperti ada yang mendorong. Dan …. secara periodik, hingga beberapa kali, di tempat itu juga, diadakan lagi kegiatan eksekusi seperti yang awal diceritakan. Kali pasir digali lagi. Kok nggak ada mayat-mayat dari orang-orang yang telah diberondong sebelumnya? Tentu saja, sudah tak ada disitu. Sudah bergeser. Ini kisah sangat menrenyuhkan. Katanya, mereka bisa jadi merupakan korban fitnah. Pokoknya kala itu siapa yang tidak suka dengan siapa, bisa dilaporkan, dan tak berapa lama bisa diciduk dan tidak kembali lagi.

Huh. Semoga cerita ini tidak terulang lagi pada masa sekarang. Bukankah kita sudah mengenal Kewarganegaraan, Hak Asasi Manusia dan konstitusi/hukum. Tinggal implementasinya kita perkuat untuk kebaikan kita semua. Apa yang telah terjadi, menurut Pak guru S tersebut, pada hari-hari berikutnya memunculkan kejadian-kejadian lain. Apakah itu? Bagai banyak jiwa yang melayang-layang di seputaran daerah tersebut. Menurutnya lazim, kalau hari-hari berikutnya ada kejadian, ada orang nunut andong/sepeda pada orang lain, pada jarak tertentu ternyata orang tersebut setelah ditengok oleh sais/pengendaranya sudah tidak ada lagi/menghilang. Hi.

Ini kisah tragis, bagai pengadilan tanpa ada sidang, tanpa ada pembelaan. Semoga kita semua memahami. Semoga kita semua tidak menginginkan kejadian ini berulang lagi di negara beradab ini. Oleh sebab itu, marilah kita junjung konstitusi dan hukum dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jangan lupa pula beretika.

Advertisements