Tags

Bertemu dengan para orang tua yang lagi ngomongin kemajuan prestasi anak-anaknya di sekolah, menarik juga. Waktu yang nyaris 3 jam digunakan untuk berbincang-bincang pada hari Minggu, 16 Oktober 2011, betul-betul tidak terasa. Bahkan kalau nggak dihentikan karena ada aktivitas lain, bisa berkepanjangan.

Dari acara temu wicara tersebut, banyak diungkap kiat/tips dan cara-cara yang dianggap efektif untuk meningkatkan prestasi anak dalam proses belajar di sekolah dan di rumah. Namun yang menarik lagi, yang ingin saya tulis, yaitu tentang pengakuan salah para orang tua tentang cara memotivasi prestasi anak. Ini menarik, biar bisa jadi pembelajaran bagi orang tua lain, dan tidak melakukan hal-hal yang sejenis. Apa saja itu?

1. Ada orang tua yang mengaku salah memotivasi belajar anak dengan janji materialisme. Disampaikan oleh yang bersangkutan bahwa selama ini dia menjanjikan barang-barang/material untuk mendongkrak motivasi belajar anaknya yang masih tingkat SD. Waktu kelas 2 SD dijanjikan perangkat permainan PS kalau rangkingnya naik. Dan ternyata memang naik. Satu semester berikutnya dijanjikan sepeda, kalau rangking di kelas naik, dan memang naik, karena anak mau belajar. Kelas 3 begitu pula, dengan janji dibelikan HP. Kelas 4 masih sama cara memotivasinya, tapi orang tua itu kaget, ternyata anaknya minta sepeda motor! Lho? Serta merta orang tua nggak mau meluluskan hal itu sebagai janji. Karena memang belum cukup umur. Apa yang terjadi? Akhirnya rankingnya melorot lagi, anak menjadi kontra. Kesannya memang dengan janji material bisa mendongkrak prestasi, tetapi ada bahaya yang disebut NGELUNJAK, yang membuat anak nggak sadar bahwa konsep rewards & punishment yang awalnya baik bisa menjerumuskan orang tua dan anak sekaligus. Nggak tahu diri, si anak tersebut. Ini rawan sekali kalau dihubungkan dengan sifat & perilaku serta masa depannya.

2. Ada lagi orang tua yang mengaku bersalah karena membantu (menjawab soal-soal) mengerjakan PR anaknya karena merasa kasihan. Padahal ini juga cara yang nggak bener. Semestinya orang tua hanya memberitahu jalan/membantu cara belajarnya untuk menemukan jawaban-jawaban PR yang mesti dikerjakan sang anak. Doronglah sang anak cari jawabannya di materi pelajarannya. Saat ini anak-anak memang ketularan banyak orang tua yang salah jalan dengan model jalan pintas, yaitu males membuka buku pelajarannya. Kalau nggak bisa mengerjakan PR langsung nanya jawaban ke saudaranya/orang tua, yang penting sudah ada jawabannya, nggak mau usaha belajar materinya dulu, padahal dia nggak faham materi soal-soal yang dijadikan PR.

3. Pengakuan yang lain, ada orang tua yang menyuruh anaknya kalau di kelas duduk dekat anak yang dianggap pintar, biar gampang bertanya. Wouw, betulkah ini? Harus dikoreksi. Anak harus didorong belajar mandiri, dibiasakan siap dengan usaha sendiri. Sehingga duduk bersebelahan dengan siapapun di kelas waktu ujian sekalipun, nggak ada masalah.

4. Ada yang ngaku membatasi perangkat TV untuk orang lain nggak boleh nonton pada jam belajar malam. Lho aneh. Mestinya setiap orang di dalam suatu rumah, entah keluarga inti atau bukan, punya tanggungjawab sama-sama dengan hak dan kewajibannya keseharian. Kalau malam ada yang mau nonton TV, ya nonton aja yang penting nggak sampai kadar mengganggu anak-anak yang sedang belajar. Jadi, prinsipnya biasakan anak-anak mampu belajar konsentrasi sendiri saat belajarnya tanpa meminta orang lain/lingkungan harus tunduk pada dia saat belajar, yang penting tetap dalam kondisi normal. Misalkan suara TV atau perangkat lain nggak sampai over. Jadi belajar dalam kondisi apapun harus dibiasakan ke anak.

5. Ada yang mengaku sulit mengajak anak belajar, karena tetangganya punya usaha PS. Apa yang salah bagi yang usaha? Kalau usaha itu ilegal atau suasananya membuat gaduh lingkungan bisa ditempuh jalur sosial dari lingkungan atau melalui aparat hukum. Namun kalau usaha itu nggak menimbulkan polusi/kebisingan suara secara sosial tapi anak orang tua itu memang maunya main PS terus karena ketagihan/addict ya bukan usaha PS yang salah yang kebetulan ada di sekitarnya, tapi orang tua yang memang nggak bisa mengendalikan anaknya. Usaha-usaha sejenis itu banyak juga, termasuk warnet dan lain-lain.

6. Selain itu, ada yang mengaku bersalah mengirim anaknya berangkat les ke guru kelasnya! Lho? Ternyata setelah mengikuti les memang prestasinya kelihatan ada peningkatan, ini terbukti dengan nilai-nilai ulangan pelajaran yang menaik. Tapi tahukah anda, hal itu lebih banyak saat ulangan kelas. Sewaktu ujian terpusat/daerah, soal-soal bukan dari gurunya, nilai-nilainya ambleg, jatuh. Ternyata si guru selain membrikan les privat, demi supaya kelihatan berhasil lesnya, dia tak lupa “membocorkan” soal-soal yang akan diberikan saat ulangan kelas/sekolah nantinya! Nha, hati-hati dengan kasus demikian. Kalaupun les, les saja ke guru lain, bukan guru kelas, bahkan guru lain sekolah itu lebih baik.

Wah, banyak deh pengakuan-pengakuan orang tua terkait dengan cara memotivasi belajar anak-anaknya. Anda juga punya pengalaman? Mari berbagi.

Advertisements