Tags

,

Anak saya, kembar laki-laki, asyik diamati kalau sedang makan makanan tertentu secara bersama. Kadang ada sesuatu hal dalam interrelasi antar mereka berdua yang tidak dapat kita disangka-sangka. Seperti beberapa waktu lalu ketika mereka makan sepotong burger. Meski kembar ternyata kecepatan makan antar mereka berdua belum tentu sama. Nha, momen ketidaksamaan itulah yang menarik untuk diamati.

Sewaktu satu anak sudah menghabiskan sepotong burgernya, anak lainnya masih berusaha menuntaskan dengan gerak setengah lamban. Apa yang terjadi? Anak saya yang sudah menghabiskan burgernya mengamati saudara kembarnya dengan serius, lalu secara spontan meluncurlah kalimat yang menarik darinya,

Sini aku bantu ….“.

Saya geli mendengarnya. Dalam pikiran saya, mengapa tidak muncul kata-kata, “minta dong“, “kasih aku dong“, “bagi-bagi ya“, “nggak habis ya“, dan sejenisnya. Sesaat saya mencermati, akhirnya saya memahami mengapa kata-kata itu yang mesti muncul. Sepertinya konteks positif sifat tolong menolong yang menjadi landasan berfikir, berbicara dan bertindak anak saya itu, dalam bungkus simbiosis mutualisme dan secara naluriah terkait dengan ikatan kebersaudaraan antar mereka berdua. Begitukah?

Advertisements