Tags

, ,

Organisasi Intelijen membuka lowongan agen yang mempunyai tugas khusus sebagai pembunuh. Setelah semua pendaftar diseleksi berdasarkan latar belakang, wawancara, dan uji kemahiran didapat tiga kandidat terakhir, dua pria dan seorang wanita. Untuk ujian akhir, para calon agen intelijen tersebut dipanggil satu demi satu untuk uji nyali sebagai pembunuh.

Dipanggilah salah satu calon tersebut yang berjenis pria, oleh penguji langsung diberikan satu pistol. “Kamu harus tahu, kamu harus mengikuti perintah, apapun keadaannya, tak peduli apapun yang terjadi. Di dalam ruang sebelah sini, kamu akan menemukan istrimu duduk di kursi. Bunuhlah dia.” Sang calon agen langsung menukas, “Pasti anda tidak serius. Aku tidak pernah bisa menembak istriku“. Penguji berkata, “Kamu bukan orang yang tepat untuk pekerjaan ini.

Orang kedua, yang juga pria, dipanggil, lalu diberi petunjuk yang sama. Dia mengambil pistol dan masuk ke ruangan. Semua terasa tenang selama sekitar lima menit. Lalu orang itu keluar dengan air mata di matanya. “Aku sudah mencoba, tapi Aku tidak bisa membunuh istriku.” Sang penguji mengatakan, “Kamu tidak punya keberanian yang diperlukan pekerjaan ini. Ambil istrimu dan bawa pulang ke rumah.

Akhirnya, kini giliran calon agen wanita. Dia diberi petunjuk yang sama untuk membunuh suaminya. Dia mengambil pistol dan masuk ke ruangan. Tembakan terdengar, satu tembakan dan satu tembakan lagi. Kemudian sang penguji mendengar teriakan-teriakan, hempasan, dan suara memukul-mukul dinding. Setelah beberapa menit, situasi menjadi tenang. Pintu dibuka perlahan oleh Sang Penguji dan tampak calon agen wanita berdiri. Dia menyeka keringat dari keningnya, dan berkata, “senjata ini ternyata nggak ada pelurunya. Jadi, aku harus memukulnya sampai mati dengan kursi.

Advertisements