Tags

Ujian Nasional (Unas) sudah lewat untuk murid tingkat SMA dan SMP. Yang SMA sudah digelar hasilnya. Yang SMP nunggu hasil, bulan Mei baru diungkap. Sedangkan untuk murid tingkat SD, Unas baru dilaksanakan bulan Mei nanti.

Hasil Unas tingkat SMA cukup mengagetkan kita karena adanya prosentase penurunan jumlah murid yang melewati standar kelulusan Unas. Terutrama Daerah Istomewa Yogyakarta, yang turunnya cukup drastis. Apalagi DIY, khususnya Kota Yogyakarta, mempunyai predikat Kota (Propinsi juga) Pendidikan. Ih, apa yang terjadi sebenarnya?

Pertama yang perlu difahami oleh semua stakeholder pendidikan di Indonesia, bahwa naik turun prestasi dalam suatu proses pendidikan, termasuk tingkat prosentase kelulusan Unas adalah sesuatu yang wajar saja, nggak usah terlalu dikhawatirkan. Tidaklah perlu mencari alasan macam-macam dan kambing hitam, yang sesungguhnya malah tidak menyentuh substansi untuk perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia.

Apa itu? Ada yang menyatakan, untuk DIY, dikarenakan tingkat kejujuran siswa meningkat. Ah, dasarnya apa? Ukurannya apa? Toh kalau direfleksikan dengan kantin kejujuran yang ada di sekolah-sekolah DIY nyatanya sekarang banyak yang bangkrut. Ada yang menyatakan karena kontrol oleh pengawas independen telah berjalan dengan baik. Ada yang menggulirkan alasan karena banyak murid yang tertipu SMS palsu tentang jawaban soal Unas. Ada yang karena mepetnya pelaksanaan Unas. Ada yang menyatakan karena berlakunya sistem kuota di DIY. Ada banyak alasanlah. Ada yang saking mangkelnya dengan hasil demikian, berfikiran memang nggak perlu ada Unas. Ha?

Itulah kebiasaan  kita suka mencari alasan dan kambing hitam yang nggak signifikan, nggak ilmiah. Bukankah lebih baik menengok inti-inti pendidikan dan mendalami dinamika pelaksanaan Unas serta substansinya bagi pembangunan kulaitas Bangsa Indonesia ke depan. Oleh sebab itu tulisan ini ingin mengisi dan mengajak masyarakat paham Unas secara apa adanya. Dengan mengembangkan cara berfikir positif.

1. Unas harus tetap ada sebagai salah satu standar ukuran (prestasi) nasional bangsa dalam pendidikan formal.

2. Unas adalah salah satu cara untuk melahirkan sifat dan karakter siswa yang siap bertanding, berkompetisi dan diadu kemampuannya secara jujur dan terbuka, apalagi pada jaman global semacam sekarang.

3. Unas harus dipastikan sejak awal keberlangsungannya pada sustu tahun (termasuk waktunya yang pasti) dan tidak dipengaruhi pikiran-pikiran yang ingin mengacaukan persepsi dan persiapan siswa. Dengan demikian sudah tahu kapan pelaksanaan Unas, sehingga persiapan jangka panjang bisa dilakukan secara lebih terencana.

4. Proses pendidikan di seluruh Indonesia harus dibenahi, diperbaharui dan di-upgrade secara prioritas agar melahirkan siswa yang siap diuji dengan mental yang kuat.

5. Soal-soal unas harus mencerminkan kurikulum pendidikan secara nyata.

6. Pelaksanaan Unas harus melibatkan perguruan tinggi sekitarnya dan terjaga objektivitasnya tanpa toleransi.

7. Guru dan pengurus sekolah yang berusaha curang untuk mengatrol nilai Unas siswa-siswanya harus diberi tindakan tegas, bila perlu dipecat kalau memang terbukti.

8. Siapapun yang merecoki penyelenggaraan Unas harus disadarkan dan bila perlu diproses sebagai pelanggar hukum, karena mengganggu program negara/pemerintah.

9. Sekolah yang berprestasi dengan melahirkan murid-murid dengan prestasi nilai Unas yang baik harus mendapat insentif dan penghargaan yang setara.

10. Standar kelulusan Unas harus secara bertahap diproyeksikan pada nila-nilai tertentu tanpa ragu.

11. Ukuran kelulusan suatu tingkat pendidikan memang tidak harus berdasarkan hasil Unas semata-mata. Jadi janganlah Unas dijadikan ukuran kelulusan satu-satunya.

12. Munculkan pada siswa dan guru-guru sekolah perasaan dan semangat, “UNAS, MENGAPA TAKUT?”.

Advertisements