Tags

Obat saraf dan otot golongan analgesik merupakan obat yang dapat menghilangkan rasa sakit/obat nyeri. Tetapi sesungguhnya tidak mengobati penyakitnya secara substantif.  Analgesik sendiri dibagi dua yaitu :

1. Analgesik opioid / analgesik narkotika Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri. Seperti obat yang berasal dari opium-morfin, Senyawa semisintetik morfin, dan Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin. Semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka usaha untuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.

2. Analgesik lainnya, Seperti golongan salisilat seperti aspirin, golongan para amino fenol seperti paracetamol, dan golongan lainnya seperti ibuprofen, asam mefenamat, naproksen/naproxen dan banyak lagi.

Itulah refrensi dari dunia obat. Tulisan ini sejatinya tidak akan membahas tentang obat-obatan. Tetapi ingin memotret kenyataan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di negara & bangsa kita ini, seringkali setiap ada permasalahan selalu saja solusi yang ditawarkan cenderung tidak substansial, tidak ke pokok masalah, tidak mengobati penyakitnya, yang dilakukan hanya “membedaki” supaya penyakitnya nggak kelihatan, hanya menghilangkan rasa sakitnya, tetapi sumber penyakitnya nggak dibereskan.

Betulkah itu?

Terbaru, soal terorisme. Mengapa masih ada terus (calon) pelakunya? Padahal kegiatan aparat untuk memberantasnya nggak kurang-kurang. Inilah yg harus dilihat secara jernih …. sebenarnya juga bukan masalah terorisme belaka, masalah kemiskinan juga, pengangguran juga, korupsi juga ….. kayaknya seperti obat penghilang rasa nyeri doang …. penyakitnya masih abadi bersarang!

Diberantas, ditangkap mati-mati/dibunuh, apakah menyelesaikan persoalan terorisme? Bukankah ditangkap hidup-hidup (lebih baik), bisa dikorek reasoning dan tujuan gerakannya …. diajak dialog …. sehingga bisa dicari secara komprehensif solusinya. Kalau dihadapi dengan kekerasan, mana mereka mau menyerah …. bukankah mereka itu, seringkali menempatkan dasar ideologi (bisa jadi agama) sebagai landasan perjuangan yang dapat diyakini dengan landasan ini mereka tidak mengenal rasa ketakutan sama sekali kepada siapapun dalam pergerakannya, meski nyawa sekalipun taruhannya ….. bahkan kekerasan akan (kemungkinan) melahirkan kekerasan lagi …. yang mungkin lebih keras dan parah.

Jadi persoalan menemukan substansi persoalan harusnya menjadi penting sekali. Meskipun preventif dan kuratif dalam penegakan hukum tidak boleh dikendorkan, namun caranya simultan dan terukurlah …. nggak sekadar dar der dor … yang malah tidak dapat info lebih mendalam dan substantif soal pergerakan mereka …. kalau ditangkap hidup-hidup kayaknya lebih elegan, dimanusiakanlah juga, sekeras-kerasnya jiwa pasti ada titik lemahnya untuk diajak kembali ke jalan yang benar ….. apalagi toh Indonesia menganut AZAS PRADUGA TAK BERSALAH ….. Khan tetep nggak boleh diperlakukan seperti orang bersalah sebelum ada kekuatan hukum tetap? Selain itu pelibatan pihak-pihak terkait harus dioptimumkan …. karena persoalan ini khan lintas bidang, lintas instansi, lintas ideologi juga …..

Eh, terkait gerakan ini juga, yang disinyalir pelakunya banyak menggunakan media internet (IT), terus muncul gagasan buat aturan yang ketat soal pemakaian media IT, biar nggak disalahgunakan … eh, eh, ini khas Indonesia, banyak pejabat buat aturan-aturan sebanyak-banyaknya tapi seringkali nggak bergigi dalam penegakannya …. bahkan kalau soal aturan IT begitu mudah diakali, juga nggak diperhatikan, pokoknya produksi aja aturan-aturan itu sebanyak-banyaknya, dengan pikiran kalau ada aturannya nanti (calon) penjahat akan ketakutan, niatnya berbuat nggak bener (kriminal/pidana) akan berkurang ….. wuih, salah besar ini. Keinginan memunculkan efek jera model ini sudah kuno, nggak jaman lagi, kalau nggak diimbangi dengan kemampuan lengkap aparatnya dalam bidang software, hardware dan brainware. Apalagi mental perilaku dan karakter aparatnya masih “hancur-hancuran”. Cara ini sama aja dengan mengobati dengan obat analgesik tadi …. melupakan substansi!

Jadi kembali deh ke intinya. Terorisme itu akarnya apa? Dipelajari, kalau ketemu karena masalah ideologi dan ketidakadilan, ya obatnya harus pendekatan lewat hal ini, bukan dengan kekerasan. Bukan hanya dengan senjata semata-mata. Kalau ada kemiskinan, akar permasalahannya apa? Pendapatan masyarakat yang rendah, daya beli rendah, kemalasan, ketrampilan rendah atau kurang pendidikan …. atau perpaduan banyak sebab, ya solusinya multi sisi juga dong …. jangan BLT yang didahulukan …. itu hanya pupur, bukan substansi … Kalau banyak pengangguran, apa sebabnya? Sedikit saja lowongan kerja yang tersedia, mengapa, karena pabrik-pabrik pada pingsan, karena produknya mahal-mahal nggak dapat bersaing dalam pasar bebas. Apa substansinya? Ekonomi biaya tinggi, karena bahan-bahan produksi mahal, pungli dan korupsi masih merajalela, sementara produk luar membanjiri Indonesia dengan harga murah  …… dan dikonsumsi oleh rakyat Indonesia. Ya itulah sumber permasalahan yang harus di-vermak, diperbaiki, disempurnakan, juga dengan aneka pendekatan …. jangan terus yang muncul program padat karya, stimulan palsu untuk pekerja ….. itu nggak substansial!

Oke, mulai sekarang sudah saatnyalah, hentikan cara pengobatan dengan obat analgesik. Pilihlah yang substansial. Agar ke depan, Indonesia lebih maju dengan sebenar-benarnya maju, bukan kepalsuan. Jadi cara membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus ditempuh secara elegan dengan program-program pembangunan  preventif maupun kuratif yang esensial serta substanstif. Jayalah Indonesia kita!

Advertisements