Tags

Ahli teknologi informasi (TI) Ruby Alamsyah beraksi di televisi memperagakan cara pembobolan rekening via mesin ATM. Merujuk pada serangkaian berita yang telah beredar [1, 2, 3, dan 4], ada pihak-pihak yang berkeberatan dengan tayangan tersebut, yaitu Roy Suryo (anggota Komisi I DPR RI) dan Polri. Inti keberatan mereka adalah tayangan tersebut dikhawatirkan bisa menjadi contoh bagi sekelompok orang untuk melakukan perbuatan seperti yang dilakukannya.

Sudah banyak pakar/ahli TI dan lembaga/institusi yang menyangkal kekhawatiran pihak-pihak tersebut.  Saya termasuk yang tidak sependapat dengan pihak-pihak yang keberatan tersebut. Apa saja alasannya? Mungkin sebagian besar alasan ini sama dengan para pakar/ahli TI atau lembaga/institusi, tetapi beberapa hal ada alasan lain yang mungkin belum anda dengar sebelumnya. Oke, jadi alasan-alasannya apa saja?

1. Tidak gampang untuk meniru cara-cara yang diperagakan oleh Ruby. Karena harus punya alat (membeli dulu), punya akses pada ATM (punya account sendiri), perlu praktek dengan berlatih cukup lama.

2. Tayangan itu memberikan knowledge dan pencerahan pikir kepada nasabah bank agar lebih berhati-hati dan waspada saat menggunakan ATM dimanapun. Bagi pihak bank tentu sebagai referensi untuk preventif dan peningkatan keamanan fisik serta jaringan ATM. Bagi pihak (calon) penjahat? Ya, mereka nggak mungkin pakai cara ini lagi, wong sudah diekspose luas, jelas mudah dideteksi oleh orang lain/pihak bank. Lagian, mereka (penjahat ATM) tentu selangkah lebih maju dari pihak aparat/pihak bank dalam hal modus kejahatan ATM seperti ini. Jangan-jangan modus ini yang sudah mereka jalankan, dan sekrang sudah ditinggalkan.

3. Pihak televisi dengan semangat publik untuk mengedukasi publik mengenai apa yang terjadi dan bagaimana menghindarinya itu hal yang positif. Coba lihat saja, banyak tayangan televisi yang menampilkan modus/membongkar praktek-praktek ilegal dalam segala hal, misalnya minyak goreng palsu, makanan anak yang mengandung zat berbahaya, perdagangan ayam mati, bikin produk-produk palsu dan lain-lainnya. Apakah itu salah? Justru sebaliknya, ini mengedukasi masyarakat untuk berhati-hati dan waspada. Aparat sesungguhnya juga sangat terbantu dengan tayangan ini. Bukankah ini informasi yang nyata adanya praktek kejahatan dengan modus-modus canggih yang semestinya dapat ditindak dan ditindaklanjuti.

4. Kalau khawatir dicontoh, ya terlalu naif dan dangkal cara berfikirnya. Namanya maling memang bisanya setelah nonton tayangan televisi tersebut? Wong tanpa melihat peragaan itu, asal bisa akses di internet, segudang sumber referensi semacam itu dapat dengan mudah diperoleh/didownload.

5. Kalau soal etika, apakah tayangan itu melanggar etika? Saya yakin KPI (yang berisi orang-orang cerdas dan bijak) tidak mudah diinisiasi agar membuat kesimpulan adanya pelanggaran etika dari tayangan tersebut. Rambu-rambu etika tidak pas diterapkan untuk tayangan tersebut. Bahkan kalau soal etika dalam tayangan-tayangan televisi, terlalu banyak yang dapat dipersoalkan di luar tayangan peragaan pembobolan ATM tersebut. Lihat saja, banyak sinetron yang tidak ada warna budaya Indonesianya sama sekali, kasar dan nggak logis, pakaiannya amburadul, dan cerita-ceritanya penuh intrik yang kadang melupakan aturan hukum di Indonesia. Begitu juga banyak film-film kekerasan yang nggak layak tonton pada jam-jam tertentu. Belum lagi acara musik yang penampilan artisnya memilukan. Apalagi tontonan lawak dan humornya yang sering mendayagunakan perkeliruan untuk memancing ketawa, serta pemainnya ringan fisik (memukul, menendang, meludahi, mendorong dan sejenisnya) agar bisa membuat suasana tertawa, hal ini jelas-jelas bisa menyerempet pelanggaran HAM, tidak memanusiakan manusia. Coba bandingkan mana yang lebih tidak beretika?

6. Yang menolak tayangan Ruby, berarti masih memegang setting kultur lama, kultur yang jauh dari kehidupan ilmiah dan normal. Mengapa? Ingatlah, kisah nenek-nenek kita, saat melihat cucunya yang masih 5 tahunan yang sedang berusaha ingin mencoba memanjat pohon di halaman rumahnya. Pasti dilarang keras. “He, cu, jangan naik-naik pohon nanti jatuh, jangan ya, sini mainan yang lain saja”, pasti begitu sergahnya. Bukankah ini kultur kesalahan besar, jadinya sang cucu nggak pernah punya kesempatan tahu, berlatih ataupun punya pengalaman naik pohon. Lha, kapan terampilnya itu cucu? Bukankah lebih baik, cucu itu malah diajari dengan cara yang baik dan benar kalau mau punya ketrampilan naik pohon. Tentu juga sambil diingetin, kalau mau naik, cari pijakan yang kuat, pegang ranting yang kokoh, hati-hati kalau licin, kalau belum faham betul jangan naik jika nggak ada yang menemani, itu khan lebih mendidik. Bukan dilarang, dilarang, dilarang! Kapan pinternya? Sifat/model beginian yang kontra edukasi (tayangan pembobolan ATM) harus dikikis habis, karena ini yang membikin rakyat Indonesia nggak maju-maju, sulit berkembang. Kultur feodal.

Advertisements