Tags

, , , , , ,

Siang-siang, anak pulang sekolah cerita sama orang tua soal pemilihan ketua kelas di sekolahnya. Ouw, asyik, mulai kelas 2 SD (sekarang dia kelas 3 SD), setidaknya di tempat sekolah anak saya, pemilihan ketua kelas dilaksanakan dalam bentuk Pemilu, nyontreng nama calon yang diinginkan, diantara teman-temannya sekelas.

anak_demokrasi

Alkisah anak saya, yang sebelumnya sewaktu kelas 2 sudah menjabat sebagai ketua kelas, pada Pemilu kelas 3 kali ini rupanya kalah bersaing dengan temannya, berselisih 4 suara. Sehingga yang jadi ketua kelas ya temannya, yang juga tetangga di lingkungan rumah. Nah, inilah saatnya saya menjelaskan demokrasi ke anak, dengan bahasa yang dimengerti anak saya. Lalu saya menerangkan, dahulu sewaktu kelas 2, boleh jadi teman-temannya memilih dia dan mempercayai dia sebagai ketua kelas, tetapi mungkin sekarang teman-temannya lebih memilih yang lain karena memang temannya itu yang dianggap lebih dipercaya untuk menjabat saat ini. Akhirnya anak saya mengerti, mengapa ada perubahan pemilihan. Lain daripada itu, anak saya ajarkan untuk mengucapkan selamat kepada temannya yang jadi ketua kelas, toh dia juga teman mainnya juga, di sekolah maupun di rumah …..

Lalu, perlu saya suntikkan motivasi juga bahwa untuk bisa dipercaya dan dipilih lagi nantinya, ya harus terus berprestasi dan berteman secara baik-baik dengan semua teman, setidaknya yang sekelas. Nggak ada keributan tuh, karena gagal jadi ketua kelas. Indah khan, demokrasi dapat bersemi dengan baik di tingkat sekolah dasar.

Oleh sebab itu, para pemimpin Indonesia harusnya juga memberikan keteladanan kepada rakyatnya, soal kalah menang dalam Pemilu itu wajar dalam kasanah demokrasi, terimalah secara ksataria ….. nggak perlu ribut-ributlah …. malu sama anak SD.

Advertisements