Tags

, , , , , , , , , ,

Kemudahan dan perkembangan internet dianggap mengorbankan keharmonisan keluarga. Waktu kebersamaan dinilai semakin sedikit lantaran banyak anggota keluarga yang lebih memilih untuk berinternet ria.

Michael Gilbert, peneliti senior Center for the Digital Future dari University of Annenberg School for Communication mengatakan, hal itu membuat waktu bagi anggota keluarga bercengkerama secara face to face semakin terkikis. Sebab, setelah seharian dijejali oleh kesibukan kantor dan berbagai aktivitas lainnya setelah pulang ke rumah pun hal yang mereka lakukan adalah eksis di dunia maya. Yakni dengan lebih sering menghabiskan waktu di depan layar komputer.

Dilansir freep, Senin, 22 Juni 2009, studi yang mengetengahkan sisi negatif dari internet bukanlah kali ini saja diungkapkan. Bahkan, sudah ada beberapa riset yang menyatakan bahwa internet menjadi biang keladi yang mengubah gaya hidup jutaan orang Amerika. “Internet berbeda dengan televisi. Internet lebih menonjolkan layanan perorangan dan membuat ketergantungan. Faktor utama ‘keberhasilan’ internet adalah interaktif. Anda hanya tinggal duduk dan memberikan respon,” jelas Gilbert.

Center Digital Future Project sendiri telah melakukan survei kepada sekitar 2.000 keluarga di AS. Ketika tahun 2005, hasil survei menyimpulkan bahwa rata-rata setiap keluarga menghabiskan waktu kebersamaan mereka adalah sekitar 26 jam sebulan. Namun, waktu kebersamaan keluarga tersebut pada 2008 langsung turun drastis menjadi hanya 18 jam per bulan. “Situs jaringan sosial seperti Twitter dan Facebook meledak pada 2007. Pada saat itu, lebih dari setengah orang yang online mengatakan bahwa komunitas online seperti ini sangat penting bagi kehidupan offline mereka,” pungkasnya.

Bagaimana menurut anda? Kalau menururt saya, betul juga. Soalnya mau internetan di kantor takut “ketahuan” pimpinan, kalau di rumah “mencuri waktu” untuk keluarga. Apa mungkin ya internetan di jalanan saja?

Advertisements