Tags

, , , , , , , , ,

Mengikuti krisis Iran, yang diberitakan adanya sejumlah blogger ditahan di tempat tersembunyi, saya merasa aneh. Betulkah itu? Kalau Twitter yang “diganggu” oleh pemerintahnya, sudah lama terdengar sebelum pelaksanaan pemilu Iran ….

“Pemerintah Iran menahan 23 wartawan dan blogger sejak protes terhadap hasil Pilpres di negara tersebut muncul sepekan lalu. Menurut media setempat, para wartawan menjadi target utama pemimpin Iran. Di antara wartawan yang ditahan termasuk juga Ketua Asosiasi Jurnalis Iran. Demikian seperti dikutip dari Straits Times, 21 Juni 2009. “Ini mendatangkan lebih banyak masalah lagi bagi jurnalis,” kata Benoit Hervieu dari RSF. Keseluruhan wartawan, editor, dan blogger Iran itu ditahan sejak 14 Juni. Beberapa dari mereka sulit dihubungi dan diyakini ditahan di tempat tersembunyi. Hervieu mengatakan, tidak ada jurnalis asing yang ikut ditahan. Hingga kini tidak ada alasan yang jelas mengenai penahanan tersebut. Presiden Mahmoud Ahmadinejad dinyatakan sebagai pemenang mutlak pada pilpres yang berlangsung 12 Juni. Namun, pendukung rivalnya, mantan PM Iran Mirhossein Mousavi, melontarkan berbagai kecurangan pemilu. Pemerintah Iran melarang media asing untuk meliput di Iran dan hanya mengizinkan wawancara melalui telepon. Informasi dari sumber pejabat disampaikan melalui media pemerintah.  Tidak hanya itu, banyak website di Iran yang diblokir. Negara tersebut memang dikenal sangat sensitif terhadap internet. Pun demikian, lewat situs internet pula Mousavi terus mendorong pendukungnya untuk melanjutkan aksi protes terhadap hasil Pilpres Iran. “Proteslah kembali terhadap kebohongan dan kecurangan (pemilu),” kata Mousavi dalam situsnya.”

Lain di Iran, lain di China, Google disana tak boleh memberi saran.

Google boleh saja punya banyak kemampuan, namun di China tak semuanya bisa dinikmati. Misalnya fitur saran alias Google Suggest yang di Negeri Tirai Bambu itu jadi fitur terlarang. Seperti dikutip dari Softpedia, 22 Juni 2009, Google ternyata baru saja selesai membuat kesepakatan dengan pemerintah China. Salah satu poin kesepakatan itu adalah pelarangan beberapa fitur Google di China — yaitu lewat Google.cn. Salah satu yang dilarang adalah fitur Google Suggest. Fitur ini memungkinkan pengguna layanan pencarian Google untuk mendapatkan saran seputar hasil pencarian yang mereka lakukan. Pemerintah China konon menganggap banyak saran Google yang justru mengarah ke situs terlarang, termasuk pornografi. “Kami melakukan peninjauan menyeluruh pada layanan kami dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memperbaiki masalah apapun pada hasil pencarian. Ini merupakan kerja yang berat, dan kami yakin telah mengatasi sebagian besar masalah,” sebut pernyataan resmi Google.”

Ini Era ICT, kok masih ada hal seperti itu. Saya agak terhibur, saat Lolly Amalia, Ketua Pokja Teknis Tim Sosialisasi Internet Sehat Depkominfo,  menyatakan bahwa memblokir kontens di internet tak segampang yang dikira. Sebab, katanya, alih-alih bermanfaat, dikhawatirkan malah akan mengganggu hal berguna lainnya. Jadi sensor Internet itu sulit diatur dengan ‘Tangan Besi’. Saya setuju, Indonesia tak bisa disamakan dengan negara lain yang menerapkan sensor ketat terhadap akses internet. Sifat internet yang universal alias terhubung dengan berbagai hal membuat Indonesia tak cocok menerapkan kebijakan ‘tangan besi’ tersebut. “Misalkan kita blokir kata ‘sex’ di internet. Bagaimana kalau ada yang lagi ingin mencari bahan tentang pendidikan sex atau kesehatan sex. Ini kan jadi bisa terblokir juga,” jelasnya kepada detikINET di sela ajang Festival Komputer Indonesia yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Kamis (11/6/2009). Selain dapat mengganggu konten lain, pemblokiran atau pemfilteran juga dapat mengurangi kecepatan akses internet pengguna. “Sebab, semakin banyak data-data yang perlu diproses,” tukas wanita yang juga menjabat sebagai Direktur Sistem Informasi Depkominfo ini. Alhasil, Depkominfo berpikir berkali-kali untuk memutuskan pemblokiran untuk suatu konten. Begitu juga untuk situs-situs ‘nakal’, dikhawatirkan yang terjadi adalah mati satu tumbuh seribu. Yang terbaik, memang lebih baik mengandalkan sosialisasi dengan harapan dapat menumbuhkan kesadaran serta memperbaiki moral masyarakat sambil memperbanyak konten-konten bermanfaat dan baik untuk dikonsumsi pengguna internet. Dari sini pelan-pelan diharapkan dapat timbul filter alami dari setiap  dan pengguna internet. Cuma pertanyaannya adalah kapan hal itu terjadi? Ya kita harus berusaha saja.

Makanya, harus difahami oleh kita semua sekarang ini Era ICT. Nggak jamannya lagi “berangus-berangusan”. Kalau mau berangus ya biarkanlah kekuatan rakyat saja yang bergerak sepanjang masih dalam koridor hukum. Negara sebagai regulator, dinamisator, controller yang ciamik saja … nggak boleh menekan berlebihan apalagi terhadap warganegaranya sendiri …. kalau dengan imperium asing seperti Google ataupun Microsoft harus berani bicara dan nego, terutama untuk “Hak dan Kewajiban” ke-Indoneisaan ….. dan kebaikan warganegara kita …. jangan sampailah blogger ditahan/dipenjara hanya gara-gara tulisannya, kebangeten ………

Begitu ya?

Advertisements