Tags

, , , , , , ,

Setelah melihat Debat Capres yang begitu-begitu saja, saya jadi iseng ingin tahu apa sih arti kata “debat”. Saya lalu membuka internet cari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang online, jadi pusing. Banyak jenisnya. Ada yang pakai KBBI, tapi kepanjangannya Kamus Bersama Bahasa Indonesia. Ini jelas bukan yang saya cari. Mengapa? Karena setelah saya inputkan kata “debat”, eh, ternyata menampilkan: Kosa kata yang anda cari tidak ditemukan. Wadalah! Akhirnya saya temukan juga KBBI yang (moga-moga) asli. Lalu, setelah saya inputkan kata “debat” hasilnya adalah seperti ini:

de·bat /débat/ n pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dng saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing: debat tt calon presiden mendapat perhatian dr masyarakat;
kusir debat yg tidak disertai alasan yg masuk akal;
ber·de·bat v bertukar pikiran tt suatu hal dng saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat;
men·de·bat v membantah pendapat orang lain dng mengajukan alasan;
per·de·bat·an n 1 soal yg diperdebatkan; 2 perbantahan;
mem·per·de·bat·kan v menjadikan bahan untuk berdebat (berbantah); memperbantahkan;
pen·de·bat n orang yg mendebat

Nah, sekarang cocokkan dengan kenyataan pada saat Debat Capres, adakah kesesuaian arti kata ini dengan realitasnya? pas blas! Tidak ada adu alasan-alasan atau saling mempertahankan pendapat masing-masing, tidak ada bantahan-bantahan yang masuk akal, padahal kalau melihat Tim Sukses-nya yang berdebat Menurut saya kok nggakkhan sepertinya antar tim-tim itu kayak bumi dan langit, sehingga sering nggak ketemuan pendapat (ketemuan pendapatan mungkin saja ya!). Lho, dari sini mestinya visi dan misinya para Capres-Cawapres penuh aroma yang bisa dan mesti diperdebatkan secara serius? Kalau nggak ada hal-hal yang diperdebatkan, berarti sama saja diantara mereka? Lalu, apa perbedaannya? Iklannya saja seperti antara air dan minyak, ketemuan langsung kok malah “kuthuk“?

Jadi kesimpulan saya (sementara ini, seraya menunggu Debat Capres Jilid 2), bisa jadi bukan para Capres-nya yang salah, atau aturan KPU yang terlalu “memaniskan” acara debat, tetapi mungkin pengertian kata “debat” yang di KBBI itulah yang seharusnya disesuaikan dan diperbaharui. Hal ini penting, supaya klop antara kata dan perbuatan!

Setuju?

Advertisements