Tags

, , , , , ,

Pendidikan merupakan salah satu pintuk masuk yang sangat strategis dalam usaha mewujudkan keadilan gender. Dari jalur inilah wacana tentang gender dapat ditanamkan dengan menerapkan kurikulum pendidikan berprespektif gender. Pengembangan kurikulum berbasis gender hendaknya ditanamkan sejak dini, tidak hanya diberikan di perguruan tinggi saja, tetapi sejak tingkatan paling bawah, yakni taman kanak-kanak.

Penerapan kurikulum ini jangan hanya sebatas pemberian mata pelajaran tentang gender saja. Namun, menjadikan pemahaman gender menjadi nilai utama dalam bersikap dan berperilaku,” kata Prof. Dr. Muhadjir Darwin, M.P.A., Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, Jumat (19/6) di Pusat Studi Wanita (PSW) UGM.

Dikatakan Muhadjir, untuk mewujudkan perguruan tinggi berbasis gender, harus ada pengembangan silabus kuliah berprespektif gender yang dalam setiap mata kuliahnya dimasukkan nilai-nilai tentang gender. Di samping hal tersebut, perspektif gender seyogianya juga telah tertanam dalam benak setiap pengajar sehingga dapat membedah gender secara seimbang. “Dalam mengembangkan kurikulum berperspektif gender ini, hendaknya dibedah secara imbang antara perspektif laki-laki dengan perspektif perempuan karena persoalan gender bukan hanya menjadi permasalahan bagi perempuan. Dengan membedahnya secara kritis diharapkan dapat mewujudkan hubungan yang harmonis dan setara antar keduanya,” jelas Kepala Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan UGM ini dalam workshop “Pemetaan dan Penguatan Kurikulum Gender di Perguruan Tinggi”.

Tantangan terberat dalam menerapkan kurikulum berbasis gender, imbuh Muhajir, adalah memetakan stakeholder di universitas. Namun, guna mencapai keberhasilan mewujudkan gender mainstreaming, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan langsung menembak sasaran utama, yakni melalui pucuk pimpinan, seperti rektor dan dekan.

Workshop yang dimaksudkan untuk memetakan dan menguatkan jaringan kurikulum gender di perguruan tinggi ini diikuti oleh 20 peserta dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Selain dari UGM, peserta juga datang dari Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Udayana, Universitas Padjadjaran, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan beberapa universitas lainnya. Dalam pelaksanaan workshop, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang selanjutnya mendiskusikan pemetaan dan perumusan keragaman kurikulum gender di perguruan tinggi, serta strategi yang sebaiknya digunakan untuk membangun dan memperkuat jaringan. “Dari kegiatan ini akan dirumuskan rekomendasi tindak lanjut dari jaringan nasional pengajar kurikulum gender dan juga bagi Depdiknas, KNPP, serta perguruan tinggi,” ujarnya.

Kepala PSW UGM, Dr. Siti Hartiti Sastriyani, mengharapkan kegiatan ini dapat ditindaklanjuti secara berkala setiap 6 bulan sekali oleh universitas-universitas yang telah menyelenggarakan kurikulum gender dan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Referensi

Advertisements