Tags

, , , , , , ,

Melihat iklan Capres-Cawapres yang banyak beredar di berbagai stasiun TV dan media cetak, sepertinya kok  sudah memasuki titik jenuh ya?

Setiap kali saya melihat, bahkan memperhatikan dengan seksama orang yang sedang nonton TV yang ada iklan Capres-Cawapres-nya, kok nggak terlihat ada respon positif, malah ganti channel … mengapa ya?

Kalau saya sih sudah pasti nggak mau nonton iklan Capres-Cawapres, alasannya ya simpel saja, terlalu monoton dan “menggampangkan”. Saya lebih suka melihat apa visi misi dan program yang mereka tawarkan sebagai “harapan”, logis atau nggak, etis atau nggak, normal atau nggak, bualan atau realistis, dan termasuk “rekam jejaknya”. Ini semua tidak saya peroleh dari TV atau media cetak. Saya nggak mau “dibodohi”, saya cari dari internet sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya, dari buku-buku dan majalah lama (yang terbitan sebelum 1998). Kalau membuka “berita dan cerita tentang mereka yang berlaga” rasanya saya jadi tertawa dan bergumam sendiri “Oh gitu ya. Politik nhi …”

Apakah karena iklannya begitu-begitu saja, nggak ada yang menggebrak dengan aroma baru, rasa baru, harapan baru, atau gairah baru?

Atau karena yang diiklankan orangnya ya begitu-begitu saja, sindar-sindir, tonjok sana-tonjok sini, kasar dan kurang daya estetika alias penggarapannya tidak “berkelas”, atau ya masyarakat memang jenuh dengan janji-janji yang banyak bergelayutan di tubuh iklan-iklan itu?

Padahal baru setengah putaran masa kampanye lho ….

Atau karena flooding iklan yang hard dan langsung, sekaligus iklan terselubung, dibungkus debat, wawancara, tanya jawab, lain-lain bentuk, yang sesungguhnya iklan juga. Jadi jenuh, sumpek dan BT.

Terus, besok mau bikin iklan kayak apalagi sih? Warnanya ya gitu-gitu saja …. nadanya ya begitu-gitu saja …. modelnya ya nggak jauh-jauh bedanya ……………  tujuannya ya gitu-gitu saja …………… jenuh, ah. Mbok dibolak-balik, bungkusnya dikemas-kemas kayak apa saja, ya begitu juga isinya. Sudah pada ketahuan kok …………..

Oalah, iklan-iklan, ada stasiun teve yang senang dapat banyak iklan, karena selama ini memang tidak dapat banyak ikan. Tetapi hebat juga ada statsiun TV yang menolak menayangkan iklan Capres-Cawapres, padahal iklan itu bagai ikan yang gemuk lho …. khan sama saja menolak rejeki ya? Hebat stasiun TV itu, idealisme atau kepentingan? Barangkali memang materi iklannya yang nggak bermutu ya ….. Demokrasi nggak berarti semua jenis iklan (apapun mutunya?) bisa ditayangkan di TV khan?

Jenuh!

Advertisements