Tags

, , , , ,

PROSES “Kehamilan dan kelahiran” Pancasila sangat luar biasa, kemudian juga tumbuh kembangnya yang subur; namun di umur ‘lansia’ negara ini sepertinya habis manis sepah dibuang, disia-siakan (orang Jakarta bilang, kasihan dech loe). Bukankah Pancasila telah terbukti sebagai unsur penting kearifan lokal dan ketahanan bangsa? Mengapa pada saat pemilu legislatif yang lalu tak terdengar gaungnya? Bagaimana pada kampanye pilpres ini?

Historis Luar Biasa

Setelah Budi Oetomo sebagai organisasi (yang berorientasi kemerdekaan) pertama lahir pada tanggal 20 Mei 1908, disusul kemudian Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Satu Tanah Air Indonesia”, maka kemudian pada sekitar Maret tahun 1945 sebagai persiapan (syarat) proklamasi kemerdekaan, Jepang memerintahkan Pemuda Soekarno dkk untuk menyusun dasar negara. Perintah ini sebenarnya bernada pelecehan, menyudutkan (Jawa’ “nglulu”), maka dengan semangat baja bak “rindik asu digitik”, benih-benih kehamilan Pancasila yang telah dikandung Ibu Pertiwi, dikonsepsikan dan disertai target waktu secepatnya, dilahirkanlah Pancasila sebagai dasar negara pada tanggal 1 Juni 1945 yang kemudian disusul dengan proses persiapan dan puncak Peristiwa Sejarah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945; suatu lompatan prestasi sejarah heroik yang luar biasa di saat kritis dan mendesak, mampu merumuskan dasar negara yang dua setengah bulan kemudian berhasil memproklamasikan kemerdekaan. Batang, ranting, daun butir-butir bunga Pancasila pun kemudian tumbuh subur berkembang sehat sebagai primadona pendidikan, pelatihan P4 dan pemersatu bangsa. Bagaimana perjalanan sejarah bangsa ini kemudian?

Pancasila Kini

Dirasakan semangat heroik nasionalisme persatuan, semangat kebersamaan, gotong royong, butir-butir Pancasila semakin hari semakin luntur,  bahkan itu juga cenderung terjadi di pelosok desa yang kental dengan semangat budaya gotong royong merti dusunnya. Peristiwa-peristiwa heroik sejarah dan budaya kearifan lokal masa lalu, seakan-akan telah hanyut tertelan zaman.

Menurut banyak tokoh pengamat, Pancasila sebagai dasar negara secara historis, materi substansi, legal formal, efisiensi operasional sudah final, sehingga kalau saat ini cenderung timbul disharmoni disintegrasi kehidupan sosial budaya masyarakat bangsa, justru kita harus merefleksikan, mengkaji dan menguatkan kembali pelaksanaan implementasi butir-butir Pancasila secara utuh komprehensif, bukan untuk menggugat afektivitasnya atau terlebih untuk menggantinya !! Hal ini sekaligus harus kita sadari bahwa Pancasila sungguh sangat penting sebagai modalitas kepercayaan diri, harga diri martabat kearifan lokal bangsa dan ketahanan nasional kita, dalam mengantisipasi derasnya arus globalisasi dan internasionalisasi budaya ideologis global. Ketahanan Nasional Pancasila adalah pola hidup selaras, serasi, seimbang sebagai kearifan lokal.

Budaya Toleransi

Salah satu contoh simpul pendongkrak Pancasila untuk menguatkan kearifan lokal dan ketahanan bangsa tersebut adalah budaya toleransi dan mengendalikan diri. Pancasila menekankan perlunya pengakuan, penghormatan, penghayatan toleransi dan pengendalian diri menjadi perilaku keseharian (budaya) masyarakat yang bhinneka, heterogen, multi kultur, multi religi, multi suku, multi pulau, multi partai, multi golongan, multi lapisan masyarakat, bahkan dalam skala kelompok kecil misalnya kampus adalah perbedaan profesi spesialis, sub spesialis, residen senior, residen junior, bahkan sampai tingkat terbawah dusun, RT menyangkut perbedaan-perbedaan lebih kecil lagi. Lebih dari itu juga diperlukan toleransi dan pengendalian diri terhadap alam, lingkungan, lahan pertanian serta keagungan ciptaan Allah yang lain; terlebih (terutama) pengendalian diri kita yang bersumber secara vertikal untuk menaati, mensyukuri, perintah firman-firman kasih kuasa Allah. Dengan toleransi, pengendalian diri kita bisa membentuk kebersamaan dan kegotong-royongan, kemudian membangun dusun, desa, masyarakat, instansi dan bangsa. Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh, Nah saat ini bukankah kita cenderung bercerai berai?

Demikian butir-butir dan simpul-simpul Pancasila yang lain, yang semestinya Pancasila kita implementasikan secara integratif, komprehensif. Kalau pada saat kampanye pemilu legislatif yang lalu, kita tidak banyak mendengar “gaungnya” Pancasila; tentu sangatlah relevan dan signifikan kalau kita (dalam memilih capres-cawapres nanti)  juga menargetkan standar parameter penilaian naluri rasa-rasa keluhuran berAgama, Nasionalisme Pancasila, ekonomi Pancasila, budaya Pancasila, demokrasi Pancasila serta butir-butir Pancasila yang dihayati sekaligus dikampanyekan oleh ketiga pasangan capres-cawapres kita.

Kita bisa membayangkan sekaligus mengharapkan bahkan meyakinkan, betapa bangsa ini akan sangat kuat apabila para elite politik dan kemudian semua rakyatnya bersatu, bekerja sama membangun bersama! Roh dan kekuatan kita, apalagi kalau bukan Pancasila! Untuk itu bertitik tolak pada peringatan Hari Kelahiran Pancasila 2009 yang sangat monumental karena bersamaan dengan terpilihnya legislatif dan presiden baru nanti, marilah kita hidupkan kembali Pancasila.

Bersama Kita Pasti Bisa!

Selamat merefleksikan kembali butir-butir Pancasila dan Selamat memilih Capres-Cawapres yang Pancasilais, dan tentu Selamat mengimplementasikan kembali butir-butir Pancasia dan Selamat menghidupkan kembali Pancasila sebagai budaya bangsa, sehingga ungkapan persatuan dan kesatuan kita menjadi lebih lengkap “Satu Tanah Air, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Satu Budaya….. Indonesia”. *) Dokter JB Soebroto, Panitia Hari Bakti Dokter, Forum Komunikasi Sleman Sehat, Ketua Desa Wisata Sorowulan/Banyu Sumilir. Referensi

Cuma ada yang sedikit mengganjal saya, terutama soal “pengabdi Pancasila” kalau merujuk pada acara Kongres Pancasila di UGM tanggal 30 Mei s.d. 1 Juni 2009 beberapa waktu lalu. Apa itu? Dengan mata kepala sendiri, saya melihat memang yang hadir banyak sekali, sekitar 400 orang, sayangnya dari total yang hadir saya perkirakan 80% tokoh-tokoh tua, bapak-bapak dan ibi-ibu yang sudah sepuh, di atas 60 tahun-lah yang dominan. Pertanyaan saya, kemanakah kaum mudanya? Apakah Pancasila nggak populer di kalangan generasi muda? Aduh, trenyuh hati ini ….

Advertisements