Tags

, , ,

Hingga akhir Mei 2009, Indonesia tetap mencatat sebagai tempat investasi portofolio paling menguntungkan di kawasan regional. Penurunan BI Rate yang intensif sejak akhir tahun lalu tidak signifikan mengurangi daya tarik instrumen investasi di dalam negeri. Laporan Tinjauan Moneter Juni 2009 yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan, selisih imbal hasil (yield spread) antara surat utang negara (SUN) dan US Treasury per akhir Mei 2009 mencapai 6,95 persen, tertinggi di Asia. Filipina di urutan kedua sebesar 4,36 persen, Thailand, Malaysia, dan Singapura di bawah 1 persen.

Yield spread antara Indonesia global bond dan US T-Note 10 tahun juga masih tinggi, mencapai 4,32 persen. Secara umum, selisih suku bunga dalam negeri dan luar negeri (uncovered interest rate parity/ UIP) masih sangat menarik, mencapai 7,45 persen. Bahkan, covered interest rate parity (CIP) atau selisih suku bunga setelah memperhitungkan premi risiko meningkat dari 2,57 persen pada April 2009 menjadi 3,13 persen. Posisi CIP Indonesia melampaui Filipina dan Korea. Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara, Kamis (4/6) di Jakarta, mengatakan, selisih suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) satu bulan dengan London Interbank Offer Rate (Libor) saat ini mencapai 6,68 persen, jauh lebih besar dibandingkan pada Juni 2007 yang hanya 3,2 persen. ”Maka dari itu, suku bunga rupiah seharusnya masih bisa diturunkan asalkan inflasi juga turun,” kata Mirza.

Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono mengatakan, sekurangnya ada dua daya tarik investasi portofolio, yaitu imbal hasil yang tinggi dan stabilitas ekonomi dan politik negara. Imbal hasil yang menarik membuat investor asing terus menyerbu surat berharga negara (SBN). Selama Mei 2009, total net beli asing mencapai Rp 3,7 triliun, naik dari bulan sebelumnya, Rp 3,3 triliun.

Permasalahannya, gimana cara menarik investor yang lebih banyak lagi?

Advertisements