Tags

, , ,

Ada sebuah ungkapan, Kun rajulan wa rijlahu fil ardli wa himmatuhu’ alatstsuroya. Artinya, jadilah engkau orang yang cita-citanya melangit tetapi kakinya berpijak di bumi. Atas dasar ungkapan tersebut, boleh saja seorang pemuda memiliki semangat yang tinggi untuk mengejar cinta seorang wanita dengan mengatakan sebelum janur kuning melengkung di depan rumahnya, aku akan tetap mengejarnya. Selama yang dikejarnya baik itu seorang wanita ataupun yang lainnya membuatnya menuju ke arah yang lebih baik, semangat semacam itu tidak masalah. Tetapi perlu diketahui bahwa hidup ini bila diibaratkan bumi tidak selamanya mendatar dan indah penuh bunga di sepanjang jalan. Atau bila diibaratkan jalan, hidup ini tidak selamanya lurus. Hidup ini kadang mendaki namun juga kadang menurun dan kadang berbelok-belok. Selalu ada pergantian antara susah dan senang.

Sebagaimana sebuah syair dalam kitab Jauharatul Maknun, ma kullu ma yatamannal mar’ u yudrikuhu tajri riyahurriyahu bima la tasytahidl dlufunu. Artinya, tidak semua yang dicita-citakan manusia akan tercapai. Sebab, kadang-kadang angin bertiup ke arah yang tidak dikehendaki sang nahkoda.

Sekarang ini banyak orang yang ngotot atau memaksa diri ingin mendapatkan sesuatu. Misalnya, kasus pemilu legislatif yang baru saja usai, tapi banyak orang yang belum selesai dalam bersengketa, bahkan ada yang masuk rumah sakit jiwa segala. Yang lebih ironis lagi ada yang sampai bunuh diri. Menurut ajaran agama Islam, untuk mencari sesuatu yang bersifat ukhrawi tidak boleh ngotot. Seperti memaksa mengkhatamkan Alquran untuk selesai dalam waktu satu hari, hukumnya makruh, puasa tidak boleh jika tanpa berbuka dalam sehari. Atau misalnya i’tikaf dari subuh sampai maghrib kemudian membuatnya meninggalkan kewajiban-kewajiban lainnya, malah i’tikafnya menjadi dosa.

Jika amaliyah yang bersifat ukhrawi saja yang sejatinya lebih bernilai abadi kita tidak boleh ngotot, apalagi untuk sebuah urusan dunia. Maka kita dianjurkan untuk legowo menerima segala kenyataan hidup yang kita hadapi, karena di balik setiap sesuatu pasti ada hikmanya, likulli syaiin hikmatan. Hujjatul Islam Imamuna Al-ghazali pernah menjelaskan mengenai perjalanan doa ke langit. Kata Al-Ghazali, doa itu kalau sampai ke langit ditanyakan oleh Allah SWT kepada malaikat pembawa doa.

“Itu doa siapa?,” tanya Allah kepada malaikat. “Doa dari si Fulan Bin Fulan,” jawab sang malaikat kepada Allah, meskipun sang malaikat tahu bahwa sesungguhnya Allah juga sudah tahu. Lalu Allah bertanya,” Dia minta apa?.” “Dia minta ini dan ini. Yang satu minta kenaikan pangkat, yang satunya minta kaya dan yang lainnya minta agar dapat kawin lagi,” jawab sang malaikat. “Apa pekerjaan si Fulan?,” tanya Allah. “Tukang maksiat,” jawab malaikat. “Kabulkan hajatnya,” kata Allah. Bagi malaikat dan kita, tentunya aneh keputusan itu. Orang yang ahli maksiat segala permintaanya dipenuhi, tetapi giliran orang yang rajin salat tahajjud, puasa, sodaqoh ketika memohon suatu permintaan Allah mengatakan,” ahbis hajatahu, tangguhkan hajatnya.

Perihal keputusan ini semakin heboh dan semakin membuat penasaran para malaikat di sana. Kenapa orang yang ahli maksiat doanya dikabulkan dan yang ahli ibadah malah ditangguhkan. Lalu Allah memberikan alasan dan penjelasan. Kata Allah,” Ahabbu inna isman du’aahu. Aku senang mendengar doanya. Jika belum Aku kabulkan doanya di hari Senin maka dia berdoa juga di hari Selasa. Dan jika Aku kabulkan di hari Rabunya barang kali besoknya dia tidak lagi berdoa pada-Ku.” Demikianlah sifat ke-mahabijaksana-an Allah. Oleh sebab itu, kita harus bisa bersikap sabar dengan segala keputusan-Nya dan tidak perlu ngotot dalam mengambil sikap terhadap suatu apapun. Walluhu a’lam. Referensi
Nah, kalau ada yang ngotot sewaktu demo bagaimana? Makanya pikir-pikir yang benerlah …. kalau semua ngotot bagaimana jadinya negara dan bangsa ini. Apalagi pakai merusak segala, jangan ah …
Advertisements