Tags

, , ,

Judul tulisan yang dibuat Kompas ini benar-benar berbau gender. Memang bu Guru nggak ada yang textbook, begitu? Ha ha ha …. nggaklah itu yang saya maksudkan mengapa saya refer itu tulisan, namun soal textbook-nya itu lho … baca dulu ya …

Guru belum berhasil menjadi role model sebagai pengguna Bahasa Inggris yang baik. Untuk itulah, pembelajaran Bahasa Inggris khususnya di tingkat sekolah dasar perlu dikembangkan lebih lanjut dan konsisten. Hal tersebut dikatakan oleh Itje Chodidjah, Penasihat Pendidikan British Council, saat membuka “Simposium Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar” di Jakarta, Selasa (26/5). Simposium diikuti oleh guru-guru sekolah dasar negeri dari berbagai provinsi yang pernah mengikuti program pengembangan pembelajaran Bahasa Inggris, Access English, hasil kerja sama British Council dan Direktorat Pembinaan TK dan SD Depdiknas. “Tidak bisa menyalahkan kurikulum karena kurikulum telah didesain sesuai kemampuan siswa, tetapi para pendidiklah yang harusnya dituntut untuk memiliki kemampuan lebih atas kurikulum tersebut, kalau tidak mereka hanya akan menjadi text book teacher,” ujar Itje.

Itje mengatakan, Bahasa Inggris sudah sejak lama diajarkan di tingkat sekolah dasar. Dalam pelaksanaannya, pengajaran tersebut banyak menemui tantangan, baik itu dalam pembelajaran, sistem evaluasi, substansi materi, serta sarana dan prasarana. Namun dari semua itu, Itje mengaku bahwa sebetulnya yang menjadi kendala utama adalah guru sebagai fasilitator dan katalisator yang memantik potensi berbahasa sesungguhnya pada siswa. “Permasalahan mendasar mereka adalah pada cara menerapkan bahasanya kepada siswa dan banyak penyebabnya,” kata Itje. Itje mencontohkan, beberapa penyebab tersebut seperti pemilihan kata yang tidak tepat, pemakaian kata benda yang tidak akrab di kuping si anak, nada bicara yang tidak pas dengan kalimat, serta ekspresi wajah dan sikap tubuh yang kaku dan kadang berbeda kalimat yang keluar dari mulut sang guru. “Bagaimana siswa tidak bingung, tiap kali bicara intonasinya seperti orang sedang membaca. Bahasa tubuh dan bahasa lisan harus sejalan untuk memberikan pengajaran bahasa yang baik, supaya nyambung,” ujar Itje.

Bener khan. Sepertinya saya merasakan hal yang sama …. di sekolah, di teve, di lingkungan kantor, dan di banyak tempat, banyak orang (termasuk guru, termasuk dosen) nggak punya wujud SINKRONISASI antara intonasi, bahasa tubuh, bahasa hati, apalagi bahasa pikiran, pada nggak ekspresif alias nggak nyambung … textbook ya? … atau bawaan pribadi-pribadi sekarang yang sepertinya multiwajah multi perilaku, yaitu TIDAK SATUNYA KATA DAN PERBUATAN … apalagi di dunia politik seperti sekarang …. gemebyar mirip pasar malem … tetapi mutu dagangan yang ditawarkan masih perlu dipertanyakan lebih lanjut?!

Oalah ….

Advertisements