Tags

, ,

Membaca judul saja, dari sebuah berita ataupun tulisan di website maupun di weblog harus hati-hati. Jangan gampang terjebak dengan judulnya saja. Kalau anda cuma melihat judul tanpa membaca isi tulisan/beritanya secara lengkap, anda bisa ketipu. Persepsi dan harapan, bahkan tanggapan anda bisa meleset!. Serta berpotensi menimbulkan konflik pemikiran ataupun ketidakpuasan akan sesuatu. Percaya? Seni jurnalisme masa kini lewat media teknologi informasi, termasuk yang masih dipraktikkan dalam media cetak, melahirkan teknik provokatif yang mujarab dalam menyampaikan pesan melalui judul berita/tulisan. Terkadang tidak peduli dengan efek samping yang mungkin timbul dari para pembacanya/pengunjung website-weblog. Lihatlah berikut ini:

Saya menulis sebuah tulisan di blog saya seperti ini Nah lu, Microsoft Office 2010 bocor habis-habisan di Internet dengan screenshot seperti ini:

judul yg menjebak 1a

dan ternyata ada yang baik hati “merelay” tulisan saya di LintasBerita, dengan screenshot seperti ini:

judul yg menjebak 1

Coba anda perhatikan. Judul tulisan saya di LintasBerita sudah berubah, atau tepatnya diubah. Jelas judul ini ada provokasinya, yaitu buruan download. Inilah yang menimbulkan permasalahan dengan tulisan saya, karena yang berkunjung ke blog saya, alhamdulillah ribuan karena tulisan ini, agaknya “menagih janji” link download-nya mana, caranya bagaimana, dan lain sebagainya. Padahal nyata-nyata dalam tulisan saya yang asli di blog ini, kalau dibaca dengan teliti, nggak pernah ada satu katapun yang menyatakan memberikan link/cara download-nya. Karena saya dan blog ini memang nggak diposisikan sebagai agen DL yang beginian, apalagi yang ilegal. Saya masih menjaga posisi sebagai Indonesia Banget alias WNI Nomor 1, yang mengutamakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam koridor konstitusi dan hukum. Jadi, jangan mudah ketipu judul ya.

Lainnya, lihatlah ini:

judul yg menjebak 2

Perhatikan berita dari Kompas ini, sepertinya kalau dibaca dari judulnya, tanpa lagi menelusuri isinya, pasti satu kesimpulan: Friendster dan Facebook haram. Tapi kalau baca beritanya secara lengkap, lihatlah:

Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPP) se-Jawa Timur mengharamkan penggunaan jejaring sosial seperti “friendster” dan “facebook” yang berlebihan. Berlebihan itu antara lain jika penggunaannya menjurus pada perbuatan mesum, dan yang tidak bermanfaat,” kata Humas FMPP, Nabil Harun di Kediri Jawa Timur Jumat. Ia mengatakan, penggunaan forum jejaring sosial, seperti, “friendster”, “facebook”, maupun media komunikasi lainnya, seperti “audio call”, “video call”, SMS, 3G yang diperbolehkan adalah yang membawa manfaat, seperti dagang, “khitbah” (lamaran), jual-beli, maupun dakwah. Nabil mengatakan penggunaan jejaring tersebut sudah mengarah pada perilaku mesum, terlihat dari berbagai gambar dan tulisan yang terpampang. Nabil mengungkapkan, pengambilan kebijakan mengharamkan penggunaan “facebook” berlebihan itu didasarkan pada Kitab Suci dan Hadis, di antaranya kitab “Bariqah Mahmudiyyah” vol. IV hal. 7, Ihya “Ulumuddin” vol. III hal. 99, “I`anatut Thalibin” vol. III hal. 260, serta beberapa landasan kitab lainnya. “Dalam mengambil kebijakan, kami tidak main-main, karena kami juga berdasakan kitab dan Quran,” katanya. Ia juga menjelaskan pengambilan keputusan tersebut berbeda dengan pengambilan keputusan lembaga lainnya yang juga mengadakan “bahtsul masail” dan biasanya dilakukan dengan suara terbanyak.

Sementara keputusan forum tersebut dengan kata musyawarah mufakat. Jika memang tidak ada keputusan, akan dibahas di forum tertinggi,” katanya mengungkapkan. Dalam pengambilan keputusan tersebut, Nabil menjelaskan, forum selalu diawasi dengan perumus, yang dilanjutkan dilanjutkan dengan keputusan “musyahih” (untuk mensahkan). Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPP) se-Jawa Timur XI di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo, Kota Kediri tersebut, diikuti sekitar 700 santri. Dalam forum tersebut dibahas sebanyak delapan hal, mulai dari jejaring sosial, pro kontra Ponari, dilema perempuan di masa “iddah” (menunggu setelah suami meninggal), dan beberapa bahan lainnya. Hadir dalam kegiatan tersebut, para perumus dan musyahih, di antaranya K.H. Atoillah S. Anwar dari Lirboyo, Kediri, K.H. Abdul Muid dari Robithoh Maahid Islamiyah (RMI), K.H. Sunandi dari Banyuwangi, serta beberapa kiai lainnya.

Jelas? Kalau melihat judulnya saja pasti tertipu total. Itulah gaya pemberitaan/tulisan media model sekarang. Harus hati-hati. Lihatlah soal Friendster dan Facebook itu. Kata-kata maha penting dan inti yang hilang (yang berlebihan”) tidak dimunculkan dalam judul. Padahal kata-kata inilah yang membuat pemahaman orang soal keputusan itu bisa berbeda makna, sepertinya ulama dan santri jadi bodoh banget dan serampangan mengharamkan dua situs itu. Kata-kata “yang berlebihan” itu kunci hukum juga dalam masalah ini. Maka, hati-hatilah membaca dan menelaah tulisan/berita entah lewat website, weblog maupun media cetak. Banyak yang serampangan, sehingga banyak pembaca/pengunjung yang karena keterbatasannya (nggak teliti) menanggapinya secara serampangan juga!

Jangan tertipu judul. Hal ini akan terus terulang, dan terulang terus, mirip dengan masalah Golput yang katanya (diberitakan) difatwakan haram oleh para Ulama. Namun saya nggak pernah menemukan adanya fatwa haram untuk Golput, setidaknya saya tidak pernah menemukan kalimat tertulis dalam fatwa yang menyatakan secara tegas Golput itu haram. Anda mengetahui? Agar nggak bias, informasikan dong …

eh, biar jelas, baca juga ya Facebook Haram? dan Facebook Bisa Haram, Bisa Tidak

Advertisements