Tags

, ,

Sebuah berita menarik menjelang weekend barusan:

Raksasa internet Google melayangkan permintaan maaf pada para user setianya. Pasalnya, sebuah problem teknis yang terjadi di Google sempat membuat layanan online-nya terganggu termasuk mesin cari, Gmail, Google News dan YouTube. Layanan yang juga jadi tidak beres adalah Google Reader dan Google Analytic. Tak hanya menimpa user di Amerika Serikat, gangguan yang terjadi sekitar 1 jam ini juga menerpa pengguna Google di berbagai negara. Saat ini, layanan sudah berhasil dipulihkan kembali.

Keluhan pun sempat memenuhi dunia maya seperti di situs Twitter. Banyak user Twitter berbagi kisah tentang betapa sulitnya memakai layanan Google. Ada yang tak bisa memakainya sama sekali dan ada pula yang complain terkait begitu lambatnya akses. Melalui blog resminya yang dilansir AFP, Google menjelaskan kalau sebuah error di sistem membuat mereka terpaksa  men-direct trafik web melalui Asia sehingga terjadilah kepadatan trafik. “Akibatnya, sekitar 14 persen user kami mengalami gangguan. Kami minta maaf dan kami akan bekerja lebih keras untuk memastikan masalah yang sama tidak akan terjadi lagi,” demikian permintaan maaf dari Google.

Berbagai komentar pun berdatangan terkait gangguan itu mengingat dominannya posisi Google sebagai mesin cari utama. “Hal macam ini bisa menimpa semua pihak. Namun inilah mengapa dunia membutuhkan lebih dari satu mesin cari,” kata juru bicara dari Microsoft yang termasuk rival berat Google. Bukan kali ini saja layanan Google mengalami gangguan signifikan. Beberapa waktu lampau, layanan email Gmail juga sempat tak bisa diakses jutaan pemakainya.

Apa yang ingin saya perhatikan?

Begitulah dunia, perusahaan sekelas Google bukan jaminan pasti nggak bisa “down“. Orang banyak melihat bahwa layanan Google itu sangat perkasa, sehingga pasti untuk mempertahankannya perlu “kekuatan cadangan” berlipat-lipat, supaya jangan pernah anjlok sedetikpun. Karena hitungannya time is money, hilang sedetik saja sudah melayang sekian dollarnya. Belum lagi kalau sistemnya yang ambruk, betapa besar kerugian akan dideritanya. Tetapi, apa yang terjadi? Tetap mengalami tumbang juga, meski nggak lama. Jadi, tidak ada jaminan KEPASTIAN dalam level manusia, untuk sebuah teknologi yang digunakan. Sesuatu yang unpredictable yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya bisa saja terjadi. Maka itulah perlu adanya jalan ALTERNATIF dan UPAYA KEDARURATAN DENGAN CONTINGENCY PLAN.

Hikmah itu selesai di ranah teknologi informasi? Tentu tidak. Di jagad perpolitikan kita harus juga memahami hal ini. Ini penting, agar tidak terjadi masalah terkait “kegagalan”, “kecelakaan” maupun “kekagetan” dalam event-event kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai manusia kita tidaklah boleh sombong, meskipun secara individu ataupun kelompok punya kekuasaan yang besar, seperti Google itu. Tidak ada yang tidak mungkin dalam kehidupan ini. Kalau sekarang ada yang merasa PUNYA MANDAT yang besar, artinya lebih besar dari yang lain, justru kondisi inilah yang harus dilalui kelanjutannya dengan lebih hati-hati, waspada dan mestinya lebih amanah. Jangan sebaliknya, malah dengan kearogansiannya meyepelekan individu yang lain, ataupun kelompok lain. Memperjuangkan apa sih sebenarnya? Mari jalin persahabatan, pertemanan, perwarganegaraan dengan yang lain secara santun dan beretika. Jangan meremehkan sesuatu yang tak terduga. Percayalah, kejadian yang menimpa Google, sesungguhnya bisa menimpa siapa saja, individu, kelompok maupun institusi, pokoknya selama dunia masih berputar hal semacam ini bisa saja terjadi. Apalagi kalau hanya sekadar kekuasaan dan jabatan ….

Advertisements