Tags

, ,

IT KPU:

Sampai tanggal 21 April 2009, pukul 06.00, suara yang masuk ke Tabulasi Nasional KPU tercatat baru di kisaran 13 jutaan suara. Sementara target KPU sendiri, minimal 80 persen dari suara yang mencontreng dapat mereka tampung. Jumlah DPT pada Pemilu 2009 ini kurang lebih ada sekitar 171 juta, taruhlah ada 40 persen yang golput atau tak dapat kesempatan mencontreng. Dengan kata lain, ada sekitar 101 juta suara yang harusnya ditampung KPU.

Padahal diikutsertakannya IT dalam Pesta Demokrasi lima tahunan ini sejatinya untuk lebih memudahkan dan mempercepat pekerjaan KPU, bukan malah sebaliknya. Alhasil, ketika hal itu terjadi beragam penilaian minor menyerang sistem TI KPU.

Menurut saya:

1. Sedih deh mendengarnya …

2. Indonesia gudangnya pakar IT, ahli IT, jagoan telematika, komunitas IT, kalau IT KPU kayak begitu, apa kata dunia … Saya yakin mahasiswa yang sudah punya bekal/ilmu IT di Indonesia seabreg, dan saya yakin mau kalau betul-betul dilibatkan untuk mendukung JALANNYA sistem IT KPU.

3. Meski bukan sebagai dasar legal untuk menentukan distribusi suara ke parpol, karena yang legal yang hitung manual, tetap saja nggak boleh meremehkan dan mengacuhkan manfaat tabulasi suara by IT KPU bagi banyak pihak, sehingga kalau macet begitu, kebangeten, dan sepertinya pengelola IT KPU meledek habis kaum IT yang bertebaran di berbagai kampus di Indonesia ataupun praktisi IT yang punya kompetensi hebat yang tersebar di pelbagai perusahaan besar itu …. kebangeten, jaman begini silat lidah doang. Saya percaya kalau perguruan tinggi/akademisi di Indonesia dilibatkan total sejak awal pasti lebih baiklah ….

4. Masak sih, jargon “biar lambat asal selamat” yang sepertinya masih dianut IT KPU tetap dipertahankan terus menerus di jaman kayak begini, bukankah lebih cepat lebih baik, apalagi ditambah lebih akurat. Ya, kalau lambat terus bener-bener selamat, kalau nggak, malah jadi tergugat! Zaman modern, jargonnya mesti smart dong, cepat, selamat, dan akurat. Itu kalau mau maju ………

5. Lalu, kalau pemilu by manual terus, kapan nyampainya ……….. e-vote sudah waktunya dipikirkan! Kalau nggak mau yang rumit dan nggak mampu dengan model itu, bukankah bisa dipikirkan ngitung suara berbasis SMS, sepertinya lebih cepat dan murah. Operator-operator telekomunikasi kita juga mampu mendukung kok. Saya yakin dari sekitar 500.000 TPS masih mampu dihandel by sms server. Apalagi HP juga sudah merakyat, tersebar merata di seluruh pelosok Indonesia. Masalah security? Ach, tinggal diatur by prosedur tetap yang konsisten, jelas dan tegas.

6. Okelah, kita tahu Pemilu 2009 ini cukup rumit dan kompleks, namun kerumitan sistem pemilu ini apakah terus dianggap tetap merumitkan sistem IT? Mestinya (dan justru yang betul) bagaimana kerumitan sistem Pemilu itu DIPECAHKAN dan DISEDERHANAKAN dengan pendekatan IT, tanpa menurunkan kualitas dan validitas datanya!

7. Ach, sedih deh mendengarnya. Bagaimana kita bisa maju dengan IT kalau begini terus ….

Advertisements