Tags

, ,

Akhirnya Malaysia punya kapal selam juga. Kapal selam pertamanya ini bernama “Scorpene” KD Tanku Abdul Rahman. Kapal ini telah bertolak dari Toulon, Prancis, 24 Januari 2009 yang lalu, dan akan tiba di Kuala Lumpur pada 25 Juli 2009. Kapal selam itu akan merapat di dermaga pangkalan AL Sultan Abdul Aziz Shah di Pulau Indah, Klang, kemudian kapal selam itu kemudian akan berlayar menuju pangkalan AL di Lumut, tempat para awaknya berpangkalan. Kapal selam itu akan dioperasikan sepenuhnya oleh awak dari Malaysia yang mengikuti pelatihan untuk misi-misi khusus. “Scorpene” merupakan jenis kapal selam yang dapat beroperasi pada kedalaman 100-200 meter dan dilengkapi enam peluru kendali, rudal permukaan anti-kapal perang dan rudal anti-kapal selam. Kapal buatan perusahaan Navantia dari Spanyol dan DCNS dari Prancis itu menggunakan tenaga listrik dan diesel, dan dapat mencapai kecepatan 20 knots dan mampu membawa 10 torpedo dan 30 ranjau.

kapalselam-scorpene

“Scorpene” yang dikembangkan bersama oleh Perancis-Spanyol dari perusahaan pembuatan kapal selam DCN-Izar. Dua unit telah dikirim ke Angkatan Laut Chilie pada tahun 2006, dua lagi dikirim ke Malaysia pada tahun 2009 ini. Tahun 2005, India telah memesan 6 “Scorpene” dan pengirimannya akan dilakukan antara tahun 2012 dan 2017. Dua kapal selam itu berharga 1.5 milyar dollar AS. Kapal selam Tanku Abdul Rahman, yang pertama telah dibangun di Cherbourg, Perancis, dan menginjak air pada tahun 2007. Kapal selam ke dua telah menyelam di air pada Oktober 2008, dan Oktober 2009 akan dikirim ke Malaysia. Scorpene mempunyai kapasitas penyimpan air sebanyak 1.740 ton, panjang 67.6 meter, dan lebar maksimum 8 meter. Mereka dapat masuk di kedalaman air sampai 350 meter dan bergerak dengan kecepatan maksimum 20.5 knot (38.3 Km/jam). Sistem senjata meliputi 6 torpedo antikapal kaliber 533 mm.

Wah, bagi kita yang di Indonesia, ini kabar buruk atau berita baik ya?

Kalau mengingat bangsa kita dan Malaysia adalah bangsa serumpun, dan bertetanggaan, mestinya ini kabar baik ya, apalagi jika bisa saling memberi rasa aman, atau membuat pengamanan bersama. Misalnya di selat Malaka. Apalagi dua negara ini punya “ikatan” bersama di dalam ASEAN, meskipun ASEAN kita fahami bukan merupakan aliansi ataupun traktat pertahanan regional/bersama.

Namun mengingat hubungan yang “naik turun” antar Indonesia dengan Malaysia, adanya kapal selam bagi Malaysia bisa jadi merupakan berita buruk bagi Indonesia. Malaysia boleh jadi merasa lebih percaya diri dalam bidang pertahanan/militer, sehingga bargaining position atau komunikasi bidang pertahaanan dengan negara lain (termasuk Indonesia) boleh jadi ada perubahan, meskipun kemungkinan kecil perubahannya sangat drastis. Apalagi mengingat keberadaan kapal selam kita yang “sangat terbatas”, maka ini sinyal yang jelas bagi kita semua perlunya perhatian yang lebih terhadap kondisi alutsista pertahanan negara/bangsa kita pada media laut dan juga udara. Mestinya selalu berfikirdari segala arah dan memperhitungkan segala kemungkinan, jangan terlambat. Sejarah telah membuktikan, bahwa perang dan damai titik kritisnya ataupun perubahannya hanya butuh waktu yang tipis sekali. Semua bersumber dari kepentingan. Untuk masalah pertahanan antar negara juga begitu. Kesamaan rumpun adalah bagus untuk dipelihara demi kebaikan, tetapi kepentingan sesaat atau kebangsaan terkadang melupakan adanya keserumpunan maupun persahabatan antar negara/bangsa. Begitulah dunia, apalagi dengan kondisi perekonomian global seperti sekarang, dimana masalah food dan energy bisa menjadi sumber perkelahian antar negara. Jadi, keseimbangan persenjataan dan kemampuan pertahanan tetap harus diperhatikan, tidak boleh diabaikan, kalau suatu negara/bangsa ingin eksis secara terhormat.

Advertisements