Tags

, ,

Manusia memang perlu dilihat dan diperhatikan.

Merujuk kejatuhan Revolusi Industri, Jeremy Bentham, the English philosopher, kembali ke manajemen dasar untuk membangun sebuah bangunan yang menjadi batu sentuhan untuk arsitektur abad baru. Itulah yang disebut Panopticon, dia menyusun sel-sel penjara dalam bentuk semi lingkaran. Layout yang inovativ ini membuat kebutuhan penjaga/pengawas narapidana semakin sedikit. Dengan kata lain, hal ini memotong anggaran.

Desain Panopticon tetap digunakan saat ini, dan tidak hanya di berbagai penjara di seluruh dunia. Sekarang bahkan diadaptasi untuk pabrik-pabrik dan kantor-kantor.

Namun apa yang terjadi dengan abad informasi? Ketika para pekerja tidak selalu berada di depan hidung sang manajer, tetapi tetap bekerja dari rumah atau dimanapun mereka berada. Barangkali seraya bercanda dengan saudara atau kucingnya, atau mengetik dengan mendengarkan Ipod?  Dalam pandangan mata manajer, sepertinya mereka tidaklah bekerja sebagaimana harusnya seorang karyawan bekerja. Perlu ada kekhawatiran? Tidaklah.

Sekarang ada software yang dapat berfungsi menjadi Panopticon baru.  Ini dapat memonitor para karyawan yang, terlihat asyik, sedang bekerja di depan komputernya. Ini juga dapat mengukur tingkat performance-nya dan langsung kelihatan siapa yang melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.

LiveOps, sebuah perusahaan yang tumbuh dengan cepat di Santa Clara, California, yang mengoperasikan apa yang disebut virtual call centers — agen-agennya bekerja dari rumah bahkan lintas negara — juga membuat software itu dapat menentukan tugas-tugas manajemen lainnya. Bagaimananpun inti penting software ini adalah mengarah pada penggunaan teknologi yang menghubungkan berbagai tempat kerja.

Didrikan pada tahun 2000, LiveOps telah mempunya 20 ribu agen rumahan, semuanya kontraktor independen yang mempunyai order untuk produk-produk yang diiklankan pada acara TV malam hari, penjualan asuransi atau lainnya. Agen-agennya bahkan mengambil pesanan pizza juga. Jika ada badai khususnya di kota dan pesanan pizza susah dikirim karena nggak ada yang mau keluar, panggilan ke toko pizza dilewatkan ke agen LiveOps sampai ratusan mil jauhnya. (Remaja pengantar pizza tetap mempunyai keberanian menempuh hujan dan angin. Software tidak menyelesaiakan persoalan ini).

The virtual call center memang bukanlah hal baru. Telah banyak perusahaan melakukan dengan cara ini, seperti Elance, oDesk dan Guru. Bahkan ada yang mengkhususkan seperti TopCoder dan RentACoder terhadap programer komputer.

Bagaimana kisah lengkapnya? baca dengan cermat disini

Advertisements